
Malam ini Mira dan Rahman menemani Ella menginap dirumah keluarga Ella. Mira cukup cekatan membantu dengan menyiapkan air mineral dan kue-kue kecil untuk para tamu dan kerabat yang masih ramai datang melayat.
Ella sangat gembira karena terbantu oleh kehadirannya.
"Mira! Makasih banyak ya, atas kebaikan Mira yang telah repot-repot membantuku!"
"Ga koq kak! Ga merepotkan! Mira hanya bisa membantu seperti ini saja. Tak bisa melakukan apa-apa selain support Mira sepenuhnya untuk kak Ella!"
Mira merengkuh bahu Mira. Kembali terisak dibahu orang yang telah dia anggap sahabat bahkan adiknya.
"Kakak.... semangat ya? Kakak harus tegar!"
"Iya Mira. Makasih! Aku harus banyak belajar ketegaran dari Mira!"
"Iya. Hehehe.... Aku juga yatim piatu. Tapi aku berusaha tetap semangat demi adikku Ahmad dan juga diriku sendiri, Kak! Aku berbeda dengan Agnes! Dia anak yatim piatu asli, tapi rapuhnya setengah mati. Kulihat dia begitu menyebalkan hari ini, kak!"
"Agnes itu adik kandungku juga Mira!"
"Hah???"
"Dia anak papa Teguh juga. Meski bukan lahir dari rahim mama. Apa Rahman tidak menceritakan kisah kami itu sama kamu?"
Pucat pasi Mira seketika. Mendengar kata-kata Ella yang begitu menohok hatinya. Lagi-lagi Rahman suaminya biang keroknya. Membuatnya malu setengah mati dihadapan Ella.
Untung Ella tidak memperpanjang perkataannya yang itu. Ia justru merangkul pinggang Mira. Bergelayut manja dibahunya. Merasa senang dibutuhkan wanita yang dia idolakan secara diam-diam itu.
Mira sangat ingin seperti Ella. Terlihat cantik, anggun menawan dengan beragam kemampuan. Senyumnya manis meski segaris. Wajahnya sedap dipandang mata. Membuat semua pria bagai terhipnotis jika melihat Ella. Kata-katanya tertata rapi dan terdengar indah ditelinga. Tawanya renyah, meskipun sedang canda gila. Hhhh..... Tak heran ia, jika Rahman memiliki ketertarikan yang mendalam pada wanita yang berdiri disampingnya ini.
__ADS_1
Dan Mira berusaha mempelajari diri Ella dan semua tehnik 'kesempurnaan' yang ada didiri Ella. Tapi sangat sulit ternyata, karena Mira tidak bisa menahan diri untuk tidak gesrek kasak-kusuk.
Digemerutukkan giginya guna menghilangkan rasa kesalnya mengingat tingkah suaminya yang seolah menyembunyikan lagi 'sesuatu' padanya.
"Kenapa giginya, Mir?" tanya Ella mendengar gemelutuk gigi Mira.
"Ah engga' kak! Hehehe.... agak ngilu sedikit tadi, minum teh manis!"
"Giginya sensitif ya? Sama, aku juga kalau minum es langsung nyess itu gigi!"
"Iya kak, emang gigi ngeselin! Harus diapakan ya, enaknya nih gigi yang ngeselin!"
Ella tertawa kecil. Membuat Mira ikut tertawa juga. Padahal maksudnya gigi itu bukan gigi sebenarnya. Tapi Rahman yang diperumpamakan sebagai gigi. Mira tertawa, geli juga ia akan anggapan 'gigi' untuk suaminya yang selalu mempermalukannya.
Masih untung kak Ella hanya seorang saja. Andai dikelilingi suami apalagi kerabat-kerabat lainnya, malu lah ia seketika.
Mira hanya duduk dipojokan menatap ketiga pria tampan yang benar-benar menggoda iman para tamu wanita yang tak tahu dan tak mengenal mereka. Kalau mereka adalah menantu dan sanak kerabat almarhum papa Teguh dan mama Naina.
"Man! Bini lu kenapa?"
Rahman segera menoleh, mencari wajah manis milik istrinya.
"Aduh! Tatapannya menyimpan bara, bro!" Rahman gusar seolah dapat membaca kekesalan yang ada diraut wajah Mira.
Ramzy dan Bryan tertawa kecil. Ramzy menepuk-nepuk bahu Rahman.
"Allah hebat ya, bro! Kau jadi lebih terlihat jauh lebih muda karena terbawa istrimu yang muda belia itu!"
__ADS_1
"Heleh! Asem kau Zy!"
"Cepat sana, temui istrimu Man! Jangan biarkan perempuan menyimpan amarahnya terlalu lama, kalau kau tak ingin tidur diruang tamu! Hahaha....!"
"Pusing aku! Hhhh..... Aku selalu salah dimata istriku! Hiks..."
"Hehehe.... Akhirnya, aku mendapatkan pelajaran rumah tangga dari abang-abang semua!" timpal Bryan membuat Ramzy tertawa lebar dan Rahman tersenyum kecut.
Kata siapa, pria kalau berkumpul, tak suka bergosip. Tetap saja sama, seperti kaum betina yaaa.... Hehehe (*kata author)
Rahman melangkah meninggalkan tempat duduknya lalu mendekati Mira dan duduk disamping istrinya yang terlihat acuh tak acuh.
"Masih kerasa migrainnya? Mau kutambahi sakit disebelahnya, kak? Biar jadi balance, gitu!"
Deg.
Rahman seolah membaca kode kemarahan istrinya yang level 5 dari perkataannya itu.
"Kenapa sayang? Ini masih dirumah orang sayang! Nanti dirumah aja ya, kalau mau minta itu!"
"Idih! Pede' sekali anda!"
Rahman menahan tawanya. Melihat wajah Mira yang merah karena malu.
Suaminya makin ngeselin menurutnya. Andaikan ini, dirumahnya.... Ingin ia melampiaskannya dengan teriakan kekesalan dan pukulan ditangannya yang full tenaga.
Sedang Rahman bersyukur dalam hati. Masih untung ia dan Mira masih dirumah ini. Jika tidak, habislah ia dimaki Mira.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•