
Ramzy terkejut, melihat Adelia tengah duduk di toko kopi "StartDuck" bersama seorang pria. Memang ini jam makan siang. Tapi Ramzy tak percaya Adel bisa dengan mudah mendapatkan traktiran dari seorang teman pria. Terlebih ditoko kopi yang terkenal akan 'kemahalan'nya ini.
Ramzy duduk dikursi pojok. Agar bisa leluasa melihat gerak-gerik Adelia.
Mungkinkah itu pacarnya, yang datang menyambanginya dijam istirahat dan mentraktirnya makan siang sepotong cheesse pizza tipis seharga 100K dan kopi arabica secangkir 35K itu? Hmmmm.... Pintar juga gadis ini menggaet cowok-cowok tajir. Pantas dia sedikit mengulur waktu untuk mendekatiku. Isi hati Ramzy pongah.
Terlihat kedua orang yang dipantaunya itu tertawa-tawa dalam obrolannya yang tidak begitu Ramzy dengar. Membuat pria itu menunduk dengan wajah memerah. Cemburu?
Cemburu? Hei....buat apa aku cemburu? Toh gadis itu bukan siapa-siapa aku. Dan aku tidak jatuh cinta padanya! Justru ingin mempermainkannya! Ramzy berusaha mengingkari.
Meaaaowww....
Eh? Ku kucing!.... Uffhhh.... Kenapa kucing itu ada didalam toko ini? Kucing kampung pula!! rutuk Ramzy kesal.
Secara ia memang punya alergi dengan bulu kucing. Yang membuatnya langsung bersin-bersin, batuk dan pilek. Bahkan membuat kotoran berlendir langsung keluar dari lubang hidungnya. Iyuuuuuw...!!!
"Hus hus!!!"
Ramzy diam tak berkutik, ketika kucing lucu itu justru duduk disamping sofanya dengan wajah polos tanpa dosa memandanginya.
"Uhuk!! Hus hus hus...." suara Ramzy makin parau dan kecil. Tubuhnya mulai menggigil. Terbayang diotaknya kucing itu berubah besar sebesar gajah. Membuatnya semakin panas dingin.
Tanpa sadar Ramzy menyodok-nyodok sang kucing dengan sepatu pantopelnya yang berwarna coklat tua mengkilat itu.
"Hei... Jangan pukul kucing kesayanganku!"
Ramzy menoleh kearah suara keras dihadapannya.
"Jangan kasar meskipun makhluk ini hanyalah hewan!"
Pria itu meraih kucing yang sedari tadi berbaring disofa tempat duduk Ramzy.
"Ow! Sepertinya anda tidak tahu etika ya, untuk tidak membawa hewan peliharaan kedalam toko!"kata Ramzy agak kesal.
"Maaf, pemilik toko ini tidak pernah melarang! Dan juga kucing saya ini bukan kucing liar yang buas dan kotor. Saya punya lisensi dan juga riwayat kesehatannya. Setiap bulan selalu saya vaksin dan tidak membawa bibit virus penyakit!"
"Okey, I don't care! Silakan bawa kucing anda pergi dari sini! Hatsiii! Hatsi! Hatsiii!!!...."
Ramzy bersin-bersin. Dia mulai hilang kendali. Bahkan sampai lupa kalau pria pemilik kucing itu adalah teman prianya Adelia.
__ADS_1
"Boss! Boss Ramzy?!... Maaf bang Rahman, makasih ya...traktirannya buat Adel. Adel permisi! Mari boss!"
Adel menuntun Ramzy yang terhuyung. Wajah Ramzy merah dan badannya panas. Ia demam karena alerginya.
Diluar toko, Ramzy menepiskan tangan Adelia kasar.
"Kenapa kamu tinggalin pacarmu yang pecinta binatang itu demi menolongku? Takut ya kau dipecat dihari kedua kerja? Pergi sana!" hardiknya membuat Adel menelan saliva.
Hampir Adel lupa, kalau boss tampan dihadapannya ini adalah orang yang tengil.
"Bukan begitu boss! Dia bukan pacar saya. Dan saya hanya berempati melihat boss yang sepertinya kesakitan bersin-bersin terus hingga keluar keringat dingin!"
Hatsiii.... hatsii!!
Ramzy kembali bersin. Tangan kirinya merogoh saku celananya. Sapu tangannya jatuh ketrotoar.
"Aaarrrrgggh!!!" teriaknya kesal.
Adel segera mengambil tissue pocketnya dan mengambil selembar lalu menyodorkannya pada Ramzy.
Srot srooot.... (iyuuuww, ingus itu bersarang ditissue kini)
"Katanya mau bantu! Kalau bantu jangan setengah-setengah!" bentak Ramzy sambil mengulurkan tissue bekas ingusnya.
Ramzy masih terlihat kurang baik. Matanya merah berair. Wajahnya juga terasa panas. Bahkan kini dadanya mulai sesak.
Bruk....
Ramzy ambruk seketika.
Sejam sebelum kejadian, Adelia yang baru saja keluar dari gedung perkantoran tersenyum mendengar namanya dipanggil seseorang dari seberang jalan. Bang Rahman.
Setelah pria itu sampai didepan Adel, bang Rahman lalu menarik lengannya kesamping trotoar dan menyusuri jalan khusus pejalan.
"Temani aku ngopi yuk di "StartDuck"!"
Adel terbelalak. StartDuck? coffe shop mehong itu, gumam hatinya. Apalagi saat ini uang sakunya tak lebih hanya 30K saja. Itupun termasuk jatah untuk ongkos buskota pulang kerja.
"Bang, ketoprak aja lebih kenyang bang!" Adel menarik tangannya.
"Hehehe... lagi boke' ya?"
"Nha itu abang tau!"
__ADS_1
"Selooow... aku yang traktir! Hari ini aku ultah. Tapi ga da teman yang ingat dan mau memberiku ucapan selamat apalagi surprise! Hiks..."
Adel termangu mendengar curhatan bang Rahman. Dia segera menepukkan kedua belah tangannya. Spontan bernyanyi,
"Slamat ulang tahun, slamat ulang tahun... slamat ulang tahun bang Rahman! Selamat ulang tahun......"
Rahman menatap Adel dengan mata berbinar. Haru campur geli lucu. Bibirnya menyeringai hingga akhirnya tawanya pecah.
"Adeeeel .... Bikin malu tau! Berasa bocil usia 4 tahun nih akuuu!"
Bang Rahman menepuk kepala Adel penuh perhatian.
"Terima kasih ya! Ini ultahku yang paling berkesan." Bang Rahman menatap Adel senang. Matanya lekat menikmati wajah manis Adel yang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataannya tadi.
"Umur berapa bang?"
"Rahasia!"
"Ough okey!"
"Hahahaaa.... baperan kamu! Udah tua, nunggu panggilan Sang Pencipta!" Bang Rahman memang pria menyenangkan. Sekejap Adel merasakan kenyamanan bagaikan berjalan bersama kakak lelaki saja.
Mereka pun duduk manis diruang coffe shop yang sejuk dan terlihat sepi.
Meaaaow....
"Ah, Freddo! Maaf yaaa... aku ninggalin kamu disini. Kalau kau kubawa ditoko jaket kulit, bisa-bisa rusak semua barang dagangan bossku! Dan aku bisa jadi pengangguran gara-gara kamu!"
Rahman menggendong kucing yang mengeong dibawah kakinya.
"Uluuuh unyunya bang! Kucing owner toko ini ya?"
"Kucingku Del!"
"Lha? Koq bisa kucing abang disini?"
"Ownernya sahabatku. Jadi bisa aku titip seharian. Hehehee... Azas manfaat punya teman baik!"
"Idih?! Bisa-bisanya abang berteman ambil manfaat doang!"
Rahman menepak tangan Adel. Tidak keras tentunya. Membuat keduanya tertawa lepas.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1