PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
DRAMA YANG INDAH


__ADS_3


"Pa, Ma! Ini gadis pilihanku. Meski tidak sesuai harapan papa mama,... tapi gadis inilah yang akan menjadi pendamping hidupku kelak. Yang akan selalu menemaniku dalam suka maupun duka. Yang akan mengangkatku dari keterpurukanku. Dan kuharap Tuhan memberikan kemudahan juga untuk kami kejenjang berikutnya."


Kata-kata Ramzy yang lantang tapi tenang pada kedua orangtuanya membuat hati Adel terketuk seketika. Pintu hatinya seolah terbuka lebar kini akan menerima cinta Ramzy dan membiarkannya melangkah masuk menghiasi hari-hari dengan cintanya.


Ramzy memegang erat jemari Adel dihadapan papa mamanya.


Sementara bu Shinta tertegun memandangi putranya. Ia melihat pancaran cinta berpendar dimata putra semata wayangnya. Wajahnya ia alihkan pada suaminya yang masih diam juga memandangi Ramzy dan Adel bergantian.


"Baiklah! Papa restui kalian!"


Bu Shinta masih diam. Tapi wajahnya menunduk saja.


"Ini pilihanmu Ramzy?"


"Ya, Ma!"


Bu Shinta menganggukkan kepalanya. Membuat Ramzy tersenyum lalu merangkul ibundanya itu dengan suara serak karena tangis yang tertahan.


Semua hadirin bertepuk tangan dengan suka cita. Seperti nonton drama telenovela. Bahkan beberapa orang yang berjiwa melankolis sampai menitikkan airmata karena haru.


Ramzy pergi meninggalkan ruangan, masih dengan tangan memegang dan menuntun Adelia.


"Sukses Adel!" seru teman-temannya satu divisi. Musik mengalun mengiringi kebahagiaan semuanya. Sementara Adel masih mengikuti langkah Ramzy yang menariknya agak tergesa.


"Tunggu!!!!"


__ADS_1


"Bang Rahman? Abang juga hadir sebagai tamu undangan?" Adel terbelalak melihat penampilan Rahman yang sungguh jauh berbeda. Keren dan rapi sekali penampilannya.


"Aku hanya ingin dengar dari mulut Adel sendiri. Apakah Adel beneran menerima bossmu ini menjadi tunanganmu, Del?"


Adel gugup. Gelagapan ia menanggapi pertanyaan Rahman.


Semua diluar dugaannya. Seperti drakor-drakor saja jalan cerita hidupnya. Dan entah ini mimpi baik atau mimpi buruk, Adel masih bingung.


"Adelia!" panggil Rahman lagi menyadarkan lamunan Adel.


"Apa urusanmu dengan Adel?" sela Ramzy bersuara. Tangannya mengepal baju Rahman.


"Tolong jangan buat keributan lagi!" Adel berusaha melerai. Takut terjadi lagi keributan babak kedua.


"Ini bukan urusanmu, Tuan Muda! Ini urusanku dengan Adelia!"


"Biarkan kami bicara empat mata!"


"Tidak bisa!!!! Ayo Adel!" Ramzy menarik tangan Adel kembali melangkah.


"Tunggu boss! Boss tidak bisa seenaknya seperti ini. Aku manusia. Punya hak asasi mengikuti kehendakku sendiri. Terlebih aku juga bukan siapa-siapa boss! Aku tahu, boss sedang bersandiwara untuk menyelamatkan diri boss dan keluarga dari rasa malu. Dan aku mengikuti semuanya. Tapi kali ini,.... izinkan aku berbicara dengan bang Rahman empat mata!"


Ramzy melemah. Binar matanya meredup. Seiring jemarinya melepaskan jemari Adel dari genggamannya.


Ia pergi menjauh. Keluar ruangan yang hingar bingar musik yang ceria.


Adel masih berdiri mematung menatap tubuh Ramzy yang menghilang dibalik pintu.


"Del!"

__ADS_1


"Bang! Keren sekali dandanan abang! Udah kayak pengantin mau ijab kabul!" goda Adel mencandai Rahman. Tapi pria berumur 30 tahun itu tak bergeming. Hanya menelan saliva dan menghela nafas gundah.


"Kamu bagaimana? Apa punya perasaan khusus pada bossmu itu?" tanyanya pelan.


Adel diam. Menunduk. Tapi kemudian ia menatap mata Rahman. Ada kekecewaan terlihat disana.


"Bang! Aku sayang abang! Karena abang adalah orang yang sangat baik. Abang selalu menjagaku. Abang sudah seperti kakak bagiku. Dan aku tulus menyayangi abang!"


"Hanya sayang? Bisakah cintamu juga untukku? Aku.... Aku kurang lebih seperti Ramzy. Aku juga punya beberapa perusahaan meskipun tak sebesar RAMA CORP. Aku percaya diri, bisa membahagiakanmu baik dengan cinta dan kasih sayang, juga dengan materi. Karena aku tidak semiskin yang kamu kira juga!"


"Bang Rahman! Abang menilai Adel seperti itu? Karena materi? Abang fikir Adel menerima boss Ramzy semudah itu?"


Rahman memegang tangan Adel. Tapi Adel tepis karena kesal.


"Maaf Adel! Bukan begitu maksudku...."


"Boss Ramzy lebih dulu mengenalku sebelum aku kenal Abang! Dan dia juga yang pertama mengungkapkan cintanya padaku. Tapi langsung aku tolak karena aku sadar diri, siapa aku ini. Ini diluar fikiranku, bang! Sama seperti abang, aku juga sedang menunggu penjelasan boss Ramzy soal aktingnya tadi. Dan sejujurnya aku kasihan, karena tadi kulihat boss seolah tengah dipermalukan dimuka umum."


"Adel!"


"Cinta tidak bisa dipaksakan bukan? Tapi cinta juga tidak bisa memilih, pada siapa ia akan berlabuh. Adel sejak awal bilang, Adel tidak sedang mencari cinta. Dan abang sudah tahu itu! Kalau abang terus mendesak Adel, kemungkinan persahabatan kita bisa renggang dan..... "


"Maafin abang, Del! Plis!... Abang cemburu dan kesal, Adel diam saja sedari tadi seolah mengiyakan ucapan si Ramzy! Abang hanya berfikir....,"


"Cukup bang! Kalaupun abang beneran sayang Adel, harusnya abang mendukung dan mensupport apapun langkah Adel. Begitu bukan seharusnya cinta diperlakukan?"


Adel pergi meninggalkan Rahman yang mengayunkan kepalan tangannya keudara. Kesal pada keteledoran dirinya sendiri.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2