
Rahman mencoba nomor hape seorang dokter Ahli Kandungan yang direkomendasikan Ramzy dengan menchatnya.
Astari SpOG. Seorang dokter spesialis Kandungan wanita yang berpraktek di Bramasta Clinic.
"Selamat sore dokter! Perkenalkan, saya Rahman Hidayat Soepono. Saya mendapat nomor pribadi dokter dari seorang kerabat saya yang bernama Teuku Ramzy S.E. Bisa saya konsultasi face to face dengan dokter Astari? Jika dokter berkenan, tolong kabari saya secepatnya. Terima kasih."
Treeet treeet treeeet
"Hallo selamat sore, Dokter!"
[Selamat sore juga bapak! Ah iya, saya dokter Astari. Kebetulan setiap Senin dan Rabu, saya buka praktek di Medical Farma! Bapak bisa langsung daftar pada suster jaga sore ini juga!]
"Oh, baik. Baik dokter! Terima kasih untuk informasinya! Selamat sore, dokter!"
[Sama-sama bapak! Selamat sore!]
Klik.
Rahman menengok jam dipergelangannya. Sudah pukul 3.25 WIB. Ia segera menelpon Mira. Mengabari istrinya kalau malam ini pulang agak telat karena ada pertemuan.
Meski Rahman memberitahu Mira akan pertemuannya, tapi ia tidak jujur pada Mira dengan siapa ia bertemu.
Seorang dokter spesialis kandungan. Yang sangat ingin ia mintai resep khusus menyuburkan kandungan Mira, yang telah terkontaminasi obat suntik KB.
Sudah barang tentu sangat ingin ia sembunyikan niatnya ini pada Mira.
....
Setelah mendapat nomor antrian dan mendapat giliran masuk kedalam ruangan, Rahman masuk dengan agak gugup juga.
Maklum. Rata-rata pasien suami istri, berpasangan. Sedangkan ia hanya seorang sendiri tanpa Mira istrinya.
__ADS_1
"Bapak hanya sendiri? Istrinya mana, pak?" tanya suster yang menemani dokter Astari praktek saat itu.
"Saya hanya sendiri, suster! Hanya mau konsultasi."
"Oh, silakan pak!"
"Eh??... Mmm... Rahman? Rahmaaaan.....!!!!!"
Rahman seketika termangu. Menatap lekat wajah dokter Astari yang terlihat familiar dimatanya.
"Cipluk?"
"Hahahaha... ya Allaaah, kamu masih inget nama itu!"
"Cipluk? Beneran kamu Cipluk?"
Rahman teman mainnya di PlayGroup ketika berusia 3 tahun. Dan terus satu sekolah dari TK, SD dan SMP. Tapi karena suatu keadaan, Ia harus pindah keluar negeri mengikuti keluarganya.
"Cipluuuuk! Hebat kamu, sekarang sudah jadi dokter ahli kandungan! Kukira kau hanya akan jadi penulis kisah cinta! Hehehe....!"
"Hei, hei....! Kalau kau berniat membullyku, sebaiknya kamu menungguku selesai praktek pukul 9 malam. Dan kita bisa ngopi sebentar dicafe sebrang klinik. Bagaimana?"
"Jam 9 malam? Hm... Oke! Aku tunggu!"
"Apa tujuanmu konsultasi ke spesialis kandungan, Man?"
"Ah... Aku minta resep obat penyubur kandungan Pluk!"
"Untuk siapa? Istrimu?... Kenapa tidak sekalian kau bawa, Man? Itu lebih baik. Sekalian di cek up kesuburannya langsung!"
__ADS_1
"Panjang ceritanya Pluk!"
"Plak-pluk, plak-pluk! Saat ini nama saya adalah dokter Astari, pak Rahman Hidayat Soepono! Tolong sopan saat saya sedang dinas ya!"
"Hahaha... maaf dokter! Saya sungguh lupa nama asli dokter. Yang saya ingat itu nama kesayangan dokter sejak batita."
"Ish, kau ni! Hihihi... nanti kita bernostalgila!" kata sang dokter setengah berbisik. Membuat suster yang mendampinginya senyum-senyum sembunyi.
"Ya sudah. Ini saya rekomendasikan obat suplemen dan vitamin untuk dikonsumsi istrimu! Cukup sekali sehari! Tapi untuk pertemuan selanjutnya, sebaiknya kamu bawa istrimu, pak Rahman!"
"Baik bu dokter! Terima kasih banyak!"
Rahman tersenyum sedikit meledek dokter Astari seperti masa kecilnya dulu. Membuat dokter itu menjulurkan lidahnya sedikit juga meledek Rahman.
"Dok! Saya tunggu sampai selesai praktek ya?" tutur Rahman sebelum keluar ruangan, dijawab anggukan dokter.
Cipluk! Cipluk ternyata sekarang jadi dokter yang sukses, dia!
Rahman mengenang kembali, masa-masa kecilnya yang indah. Yang penuh kasih sayang mama dan papanya. Dengan segudang mainan serta kebebasannya dalam memilih teman. Membuatnya selalu dikelilingi banyak orang disekitar.
Salah satu teman dekatnya adalah Astari. Usia mereka hanya terpaut beberapa bulan lebih tua Rahman.
Rumah Astari dengan rumahnya hanya berselang 3-4 rumah saja diperumahan Diamond. Itu sebabnya, Astari kecil sering bolak-balik rumahnya karena mbak pengasuhnya dan Asisten Rumah Tangga keluarganya adalah kakak beradik.
Hhh.... Iya selalu memanggil Astari Cipluk, karena Astari kecil suka sekali lagu Ciluk Ba penyanyi cilik Maeisy. Dan Astari tidak bisa menyebut ciluk, selalu ia bilang "cipluk ba".
Rahman tertawa sendiri mengingat itu semua.
Hhhh.... Tak sangka kini si Cipluk sudah jadi orang hebat! Begitu gumamnya senang.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1