
"Kenapa sih kak? Ada masalah pekerjaan? Please deh dewasa sedikit! Jangan dibawa-bawa juga kerumah! Kamu kira aku dirumah juga ga capek! Aku juga punya banyak kerjaan, bukan cuma kakak aja yang capek!"
Amarah Rahman semakin terkoyak keluar mendengar kata-kata Mira.
Bluarr...Prang!!!!!
Rahman membanting gelas kopi dimeja keluar rumahnya. Membuat Mira tersentak kaget dan memekik, "Astaghfirullaaaah.....!!!!!"
"Astaghfirullaaah!" Rahman ikut mengucap istighfar. Tapi ia berjalan keluar. Dengan menenteng jaket kulit kesayangannya.
Mira segera menarik tangan suaminya. Matanya mulai merebak.
"Kebiasaan! Kalau ribut pasti cemen, melarikan diri! Ayo, kita selesaikan secara dewasa kak!" tutur Mira dengan suara bergetar menahan isak tangisnya.
Rahman menepiskan tangan Mira.
"Aku pergi bukan untuk melarikan diri! Justru aku pergi karena aku ini lelaki, dan kalau aku tetap disini mendengarkan ocehan-ocehanmu yang menyebalkan aku takut kamu kena gamparku!" Rahman bersuara tegas. Membuat Mira melotot kearahnya.
"Oh, jadi kakak punya niat gampar aku? Oh begitu? Jadi istri itu bisa dengan seenaknya dimarahi, digampar, dipukuli?" Mira ternyata lebih emosi. Suara tingginya semakin membuat pusing kepala Rahman.
"Diam Mira! Suaramu membuat orang lain tau kalau kita sedang ribut!" bentak Rahman masih berusaha menekan suaranya.
"Bodo amat! Biar orang lain tau, kalau kita ini lagi ribut! Kenapa memangnya? Urusan amat sama orang!"
Rahman benar-benar pergi menuju motor vespanya. Meski kakinya terluka dan berdarah kena pecahan beling bekas gelas yang tadi ia lempar. Tak ia hiraukan.
Rahman hanya ingin menenangkan dirinya jauh dari amarah Mira juga.
__ADS_1
Istrinya itu memang masih muda. 22 tahun usianya. Tapi terkadang emosi Mira yang meledak-ledak membuatnya kewalahan juga seperti saat ini.
Sementara Mira menangis keras sambil mengoceh tak jelas. Ia berusaha mengejar Rahman tapi suaminya itu sudah jauh melesat mengukur jalanan.
Hhhh..... Kini hanya Mira seorang diri sesegukan duduk disofa ruang tamunya.
Sementara disamping, para karyawannya kasak-kusuk mengomentari juragannya yang terlibat percekcokan rumah tangga.
....
"Ci! Aku boleh numpang tidur disini ga?"
"Tuan eh, Dek Rahman... Rumah Cici selalu terbuka lebar buat adek koq!"
"Makasih ya Ci! Kamu kakak terbaikku!"
Cici seperti mengerti. Mantan bossnya itu pasti sedang bermasalah dengan istrinya. Padahal baru 3 bulan berumah tangga.
Cici bingung juga. Waktu ia dan bang Tarom menikah, waktu 3 bulan itu adalah waktu yang paling menyenangkan. Waktu dimana masa-masa manisnya itu ia reguk bersama suami tercinta.
Lha ini mantan bossnya, baru 3 bulan tapi sudah ribut-ributan. Hhh... Cici hanya tersenyum kecil. Biasanya kalau habis ribut, pasti hubungan intim akan semakin gereget.
"Dikamar aja dek, tidurnya!" tutur Cici tapi tiada jawaban. Rahman sudah tertidur.
"Cepet banget sih tidurnya?" gumam Cici sambil mengambil bantal dari dalam kamar dan menaruh disamping Rahman.
Padahal sebenarnya Rahman masih sadar dan mendengar. Ia hanya ingin menghindar dari pertanyaan-pertanyaan Cici selanjutnya jika ia jawab.
__ADS_1
Perempuan khan biasanya begitu. Satu pertanyaan terjawab, maka akan berderet pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang nambah pusing kepalanya.
....
Ashar, Maghrib hingga Isya berlalu. Rahman tak jua kunjung pulang. Lelah Mira menengok kiri kanan setiap kali, berharap suaminya itu kembali.
Lehernya terasa memanjang bagaikan soang. Tapi sayangnya Rahman tak juga datang.
Airmata Mira meleleh tiada henti. Antara kesal, jengkel, juga menyesal bercampur didalam hati.
Hhhhh..... Begini ya ternyata rumah tangga itu!!!! Banyak manisnya tapi lebih banyak tangisnya.
Mira masuk kembali kedalam rumah. Padahal kemarin Rahman begitu manis memperlakukannya bak ratu istana. Tapi hari ini, entah setan apa yang merasuki suaminya itu hingga berkelakuan seperti itu. Fikirannya menerka-nerka.
Kak Rahman belum pernah sekasar itu. Menyuruhnya menyediakan kopi hitam padahal sama sekali tak minum kopi hitam. Membentaknya menyuruh beli diwarung bahkan puncaknya marah karena aku menyuguhkannya setengah hati.
Padahal biasanya juga malah senyum dan merajukku agar jangan seperti itu. Biasanya kak Rahman pengertian sekali. Ada apa? Kenapa sampai ia meluapkan emosinya seperti itu padaku?
Mira menangis dan menangis. Mencoba menelpon Rahman tapi tak juga ada sambutan. Rahman sama sekali tak mengangkatnya padahal aktif. Sama sekali tak membuka chatnya padahal on sesekali. Semakin membuat Mira berfikir jauh dan buruk sekali.
Apa ada perempuan lain kah? Apa kak Rahman sudah menemukan penggantiku? Seperti Dika, Eros dan juga Peter yang dengan mudahnya melepasku setelah ada wanita lain yang lebih dari aku?
Hhhhh..... Setan, iblis bergentayangan menggoda jiwa-jiwa manusia yang rapuh. Mereka senang ketika ada cucu Adam dan Hawa sedang galau gegana.
Semoga Mira dan Rahman sanggup melalui cobaan rumah tangga mereka yang masih seumur jagung itu.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1