PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
PROSES YANG MENEGANGKAN


__ADS_3

Ramzy menghubungi semua kerabat dan sahabatnya. Tak dipedulikannya waktu yang tidak lazim untuk seseorang menelpon, karena baru saja pukul 3 lebih dipagi buta.


Termasuk papa mamanya dan papa mama Ella. Menanyakan golongan darah mereka berharap golongan darahnya sama dengan Ella.


Papa Ella golongan darahnya juga B, tapi tekanan darahnya 180/100. Otomatis dokter tidak memperbolehkan beliau mendonorkan darahnya untuk putri satu-satunya itu kini.


Membuat Ramzy semakin kalut lagi.


Ia menelpon Rahman. Berharap pria yang kini menjadi temannya itu bergolongan darah yang sama dengan Ella.


Treeeet treeeeet treeeeeet....


Treeeet treeeeet treeeeeet....


Setelah beberapa kali handphone Rahman berdering, baru membangunkan tidur Rahman yang begitu pulas.


Rahman menerima panggilan Ramzy. Termenung ia mendengar perkataan kawan yang telah ia anggap saudara itu.


"Golongan darahku A. Coba kutanya golongan darah istriku. Sebentar ya? Oh oke...nanti aku kabari! Semangat Zy! Allah pasti menguatkan istri dan anak-anak kalian!" Klik.


Rahman membangunkan Mira perlahan. Agak tak enak hati karena semalam mereka dalam situasi kurang menyenangkan. Tapi ini darurat. Menyangkut nyawa seseorang. Nyawa Ella, istri Ramzy, teman rasa saudaranya.


"Yang, yang..... bangun yang!"


"Hm."


"Yang! Mira sayang,... golongan darahmu apa yang?"


"Hm, apa sih? Ngantuk!"


"Bangun dulu sebentar yang! Ella masuk rumah sakit. Butuh donor darah golongan B. Darahmu golongan apa sayang?"

__ADS_1


"Apa? Ini masih malem tauuu iiih, ngantuk! Besok ajaaa," gumam Mira seperti meracau dan tak konek pada apa yang Rahman ucapkan.


"Ini masalah nyawa yang! Siapa tau jadi pahala buat kita! Khususnya kamu, kalo golongan darah kalian sama!"


"Aku O!" kata Mira. Masih dengan mata tertutup.


Kalau tak salah, golongan O bisa mendonor ke golongan apapun khan?


"Bangun, yang! Kita kerumah sakit sekarang yuk?" Rahman bangkit. Merangkul tubuh Mira yang masih setengah tidur pulas dengan mimpinya.


"Apa sih, kak? Masih malem iniii...!"


"Ella butuh donor darah secepatnya sayang! Please..... Kita kerumah sakit sekarang!" kata Rahman lembut seraya memangku tubuh Mira kearah kamar mandi.


"Demi Ella kamu sampai berbuat seperti ini, kak?"


"Bukan demi Ella! Tapi demi dirimu. Ini bisa jadi amal ibadahmu sayang! Ayo, aku memaksamu!" Rahman menurunkan tubuh Mira didepan cermin pintu kamar mandi.


"Apa sih? Ish!"


"Hehehe... ayo bergegas!"


Rahman memberi Mira handuk kecil. Mengelap lembut wajah istrinya yang cemberut.


"Maaf, aku suami egois! Ya! Karena aku memikirkan seandainya aku adalah Ramzy, yang tengah gugup dan stres mencari darah untuk istrinya yang sedang berjuang diruang operasi. Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama. Meminta bantuan para kerabat dan sahabat. Untuk menolongmu, yang!"


Mira tak menyahut. Bibirnya terus monyong. Tapi hatinya melemah juga. Urusan nyawa memang tak bisa dipandang sebelah mata.


Perkataan Rahman cukup membuatnya tergugah meski masih terlihat amarah karena diganggu jam tidurnya.


Mereka pergi kerumah sakit saat itu juga.

__ADS_1


Klinik rumah sakit dipenuhi orangtua pasangan suami istri yang begitu fenomenal itu.


Ada papa dan mama Ella, juga papa dan mama Ramzy. Ternyata mereka tidak bisa ikut mendonor karena faktor usia dan juga memiliki riwayat penyakit yang membuat mereka tak bisa memberikan sedikit darah mereka pada Ella.


Mira syukurnya bisa membantu. Tapi ternyata Ella membutuhkan sedikitnya 2 kantong darah. Terutama golongan darah yang sama dengannya.


Rahman dan Ramzy memasang status di What'App mereka karena membutuhkan donor darah segera.


Agnes yang saat itu bangun dan melihat-lihat status orang yang ada dikontaknya melihat dengan seksama status Rahman atasannya itu. Membuatnya inisiatif memberanikan diri men chat karena golongan darahnya adalah B juga.


Sebentar lagi adzan Subuh. Agnes memberanikan diri pergi keluar setelah janjian dengan tukang ojek yang adalah sahabatnya juga. Yang sering mengantarkannya pergi kekantor jika Haris tak sedang mengantar penumpang lain.


"Ga apa aku tinggal, Nes?" tanya Haris digerbang pintu klinik rumah sakit Bersalin tempat Ella dirawat.


"Ga papa. Ada atasanku didalam, Ris! Makasih ya, hati-hati pulangnya ya?" jawab Agnes.


Ia masuk kedalam dengan handphone ditangan. Samar-samar ia menangkap sesosok yang ia kenal diruangan itu. Rahman, Ramzy.


"Agnes!!"


"Dimana saya bisa segera diambil darahnya pak?"


"Sini, disini.... Alhamdulillah, kamu sangat cepat tanggap!" suara Ramzy terdengar lega. Menuntun Agnes kearah suster perawat yang akhirnya membawa Agnes masuk.


Uuuffhhhh.....! Ramzy menghela nafas lega. Begitu juga para orangtua mereka. Juga Rahman tentunya. Pukul 5 lebih dan Adzan Subuh pun berkumandang.


Proses Caesar Ella masih berlangsung. Sementara Mira dan Agnes masih diruang berbeda setelah sedikit darah mereka diambil untuk proses lahiran sikembar.



đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2