
"Kakak?"
Pucat pias wajah Ramzy seketika mendengar jawaban Fidellia.
Ditelannya saliva sambil menghela nafas pendek. Ia salah tingkah sendiri dihadapan perempuan yang mengaku kakak gadis incarannya itu.
"Kenapa? Kaget?"
"Mmm..."
"Mau bertemu adik saya khan? Ayo, masuk saja kedalam. Dan ini memang benar rumahnya. Tepatnya rumah orangtuanya."
Ramzy mengangguk tak berkutik. Lemas lututnya, pengintaiannya 'gatot' alias gagal total.
"Assalamualaikum..."
"Alaikumsalaaam!" Suara seorang pria terdengar dari dalam rumah.
Ramzy hanya mengekor Ella dari belakang. Gugup bercampur malu jadi satu.
"Mari masuk!" ajak Ella tegas.
"Ada tamu?" tanya papa Adel dengan mata mengerjap. Ramzy mengangguk hormat. Dijawab anggukan pula oleh beliau.
Sementara Ella terus masuk tanpa pedulikan Ramzy.
"Buatkan minum maa...." kata papa Adel kepada istrinya.
"Silahkan duduk, Nak!"
"Iya, terimakasih pak!"
Papa Adel ikut duduk menemani Ramzy.
"Temannya Ella?" tanya beliau agak kepo menyelidik.
"Eh? Mmmm....saya atasannya Adelia pak!"
"Atasannya Adel? Lho? Koq...ternyata temannya Ella?"
__ADS_1
"Bu bukan begitu maksud saya!... Saya Teuku Ramzy, atasan Adel dikantornya. Dan tadi kakaknya Adel hanya kebetulan bertemu didepan rumah!" cerita Ramzy diperhatikan penuh oleh papa Adel. Membuat Ramzy kikuk.
"Alhamdulillaaah.... Ada teman laki-laki Ella!"
Tiba-tiba mama Adel keluar dengan sangat bahagia. Tangannya membawa nampan berisi air dan juga sepiring kue bolu pandan.
"Bu bukan begitu bu!" Ramzy berdiri sambil mengangguk hormat pada mama Adel. Dia grogi sendirian meskipun didunia pekerjaan dia adalah seorang direktur yang terbiasa berhadapan dengan banyak klien.
"Mama....!" Papa Adel berusaha menarik tangan istrinya sambil mengangkat satu jari telunjuknya ke bibirnya. Keep silent perintahnya.
Sementara Ella yang langsung naik lantai dua rumahnya, menuju kamar Adel adiknya.
"Del... "
"Mmmmh....!" Adel yang sibuk dengan laptopnya menjawab kakaknya singkat.
"Turun! Atasan kamu ada dibawah tuh! Lagi diinterogasi dua pasangan satpol PP!" kata Ella sedikit becanda.
"What??" Adel menengok menatap Ella. Tak percaya.
"Atasan kerjamu dibawah!"
Ella mengangkat bahu tanda tak tahu tak kenal. Berbeda dengan Adel, yang justru belingsatan berdiri kesana kemari tak tahu harus berbuat apa.
Kaos belelnya dan celana pendek juga wajah tanpa make up, membuatnya garuk-garuk kepala kebingungan.
"Mau ngapain sih tuh boss tengil?"
"Mana gue tau? Tapi katanya tadi urusan kerjaan? Alesan basi ga sih?"
"What? Beneran dia ngomong gitu ke ka Ella?"
Ella mengangguk. Duduk dipinggir ranjang Adel santai. Tangannya menyomot sepotong bolu pandan buatan mamanya dan langsung hap masuk mulut.
"Aaarrrrggggghh....."
Adel akhirnya turun setelah memakai sedikit bedak dan lipstik. Diganti kaos oblongnya yang belel dengan huddy putih panjang serta celana training hitam panjang. Berusaha terlihat lebih rapi.
Masa bodoh lah apapun tentang pandangan dia.
__ADS_1
"Boss? Ada apa sampai harus kerumah Adel?" tanya Adel membuat Ramzy yang tengah menyeruput teh hangat tersedak.
Uhuk uhuk....
"Adel! Yang sopan dong bicaranya!" tegur sang mama sambil berdiri dan menuntun anak keduanya itu menuju kearah ruang tamu.
Membuat Adel bingung. Koq, persis film India yang tengah melakukan pendekatan perjodohan gitu ya?!? gumam hati Adel.
"Maaf, saya ada urusan mendadak!" kata Ramzy singkat. Matanya menatap Adel dengan binaran indah.
Cantiknya gadis ini. Semakin cantik ketika dirumah. Sederhana yang elegan.
Ramzy kembali duduk. Kini ia lebih santai.
"Ini hari libur, anak muda! Sedikit rileks dan enjoy tak apa khan?!" goda papa membuat Ramzy tersenyum dan mengangguk.
"Bapak masih bekerja? Maaf kalau pertanyaan saya kurang sopan!"
"Saya sudah 3 bulan ini berstatus pengangguran, nak! Kerjanya "hardolin" hehehe... kasar ya artinya!"
"Papa sudah pensiun 3 bulan ini!" Adel meralat jawaban papanya yang ngasal
Semoga boss Ramzy tidak tahu arti kepanjangan "hardolin" \= dahar, modol, ulin dalam bahasa Indonesia adalah makan, pup, main. Gerutu hati Adel gusar.
"Hehehe...." papa Adel tertawa menggoda anak gadisnya yang kedua.
"Silahkan kalau nak Ramzy perlu dengan Adel!" kedua orangtua Adel berdiri dan saling tuntun hendak meninggalkan Adel dan Ramzy.
"Pak! Mari kita mengobrol santai lagi! Ini hari libur. Ada benarnya pekerjaan sebaiknya dikerjaan ditempat pekerjaan! Saya suka berbincang dengan bapak ibu!" kata Ramzy seolah menghindar dari pertanyaan Adel tentang maksud dan tujuannya kerumahnya.
"Ohooo....saya suka anak muda yang hebat, rajin tapi santuy seperti kamu! Mau lihat tanaman saya, nak?" papa seperti mendapat teman baru yang menyenangkan. Ia langsung mengajak Ramzy berkeliling kebun kecilnya dibelakang.
Dan Ramzy semangat mengiyakan. Terbebas ia dari pertanyaan-pertanyaan Adel akhirnya.
Kali ini Adel bertambah bingung. Menghela nafas pendek membiarkan atasan tengilnya masuk rumahnya dengan bebas karena papa. Sementara mama senyam-senyum membuat Adel salah tingkah. Tak mengerti.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1