PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
SELALU ADA KENANGAN


__ADS_3

🎶Kalau sudah tiada baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh berharga


Sungguh berat aku rasa, kehilangan dia


Sungguh berat aku rasa, hidup tanpa dia


Kalau sudah tiada baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh berharga


Kutahu rumus dunia, semua harus berpisah


Tetapi, kumohon...


tangguhkan, tangguhkanlah


Bukan aku mengingkari, apa yang harus terjadi


Tetapi, kumohon...


kuatkan, kuatkanlah


Kalau sudah tiada baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh berharga......🎶


.....


Papa kini sendirian dirumah kenangan penuh cinta dan suka cita bersama mama. Ella dan keluarga kecilnya kembali pulang kerumah mereka. Begitu juga para kerabat mama yang telah kembali ketempat asal mereka masing-masing.


Hanya ada ceu Lilah, perempuan berusia 60 tahun yang bekerja dikeluarga ini belum lama ini.


"Pak, makan dulu pak! Makanannya sudah eceu siapkan!" ceu Lilah mengetuk pintu kamar pak Teguh, majikannya.


"Iya. Nanti saya makan!" hanya jawaban dari dalam kamarnya. Membuat ceu Lilah kembali kedapur melanjutkan pekerjaannya beres-beres.


Ceu Lilah tidak tinggal dirumah papa Ella. Sedari awal ia memang bekerja pulang pergi karena rumahnya tidak jauh dari perumahan tempatnya bekerja. Selain itu, Ceu Lilah juga masih harus mengurus suami dan anaknya yang masih muda tapi sudah punya anak.

__ADS_1


Itu sebabnya, pekerjaannya hanyalah sekitar 8 jam. Karena ia pamit pulang jam 4 sore.


Papa Teguh semakin merasakan sangat berat hidupnya tanpa kehadiran mama Naina.


Selama ini, istri tercintanyalah yang selalu melayaninya. Mempersiapkan segalanya untuknya. Bahkan tanpa bantuan orang lain.


Ceu Lilah juga diperbantukan mama karena pertemuannya diwarung sembako diujung kompleks perumahan. Mereka berbincang santai sampai ngobrol serius soal kehidupan mereka masing-masing. Hingga akhirnya ceu Lilah memohon agar boleh bekerja dirumah mama membantu pekerjaan rumah tangga demi menambah income keluarganya.


Diambilnya kaos tambahan dari lemari pakaiannya. Dingin terasa menyentuh kulitnya. Membuatnya ingin memakai sweater. Sweater warna biru kesukaannya. Hhhhh......


"Papaaaaa.....!"


Teguh menengok kepintu. Bayangan Naina yang tiba-tiba seolah berkelebat memanggilnya mesra.


"Papa, nih liat niih....! Mama beliin sweater baru warna biru langit kesukaan papa! Gambarnya Thor! Keren khan pa? Coba, coba... dijajal dulu! Pas ga ukurannya?"


"Mama! Koq katanya ke pasar belanja sayuran? Tapi malah beli kaos sweater! Hadeuh, mama! Daripada beli sweater mending uangnya buat beli alat tulis Ella sama Adel, ma!"


"Sttt... Ini coba dulu!" Mama memakaikan sweater itu ketubuh suaminya yang tinggi besar sedikit tambun perutnya. Pura-pura tak mendengar ocehan suaminya.


"Hhh.....! Mama mah boros!"


Teguh hanya diam dengan wajah kesal menunduk. Naina itu ya seperti itu. Pintar sekali berargumen sedari muda. Andaikan ia melanjutkan sekolahnya ke jenjang kuliah, Teguh jamin istrinya itu bisa masuk menjadi salah satu pengurus BEM karena kepiawaiannya berdebat dan berargumen.


Dulu ia sering kesal jika Naina sudah mengajaknya debat. Karena ujung-ujungnya ia yang kalah, dan Naina yang menang. Walau kenyataannya perdebatan mereka hanyalah perdebatan 'pepesan kosong'. Karena Naina lebih memilih mengikuti perkataan Teguh, suaminya ketimbang argumennya sendiri meskipun sebenarnya argumennya itu benar.


"Naina..... Aku kangen dirimu Naina!" tetesan airmata Teguh kembali jatuh. Teringat akan istrinya yang begitu menyebalkan dan selalu berada disampingnya.


...


"Kau gila Naina! Aku harus menikahi Suminah? Untuk menjadikannya istriku lalu akhirnya bisa mendapatkan seorang anak laki-laki seperti keinginan Romo? Pemikiran sinting!"


"Ini untuk kebaikan kita semua, mas!"


"Kebaikan apa? Kebaikanku memiliki istri dua?"


"Kamu bisa menuruti Romo tanpa menyakiti hatiku!"


"Naina!! Kamu tidak sakit hati melihatku menikahi wanita lain?"

__ADS_1


"Aku sakit hati pastinya, mas! Tidak ada wanita yang ingin dimadu! Begitu juga aku! Tapi aku sadar diri, mas! Aku sudah tidak bisa memberimu anak lagi! Aku pasrah pada ketentuan Allah Ta'ala. Jadi untuk jalan keluarnya, kamu harus menuruti perintah Romo dengan menikah lagi. Supaya kamu tidak menjadi anak yang durhaka!"


"Apa definisi anak durhaka menurutmu, Naina? Romo menyuruhku menikah lagi, dan aku menolak. Apa aku termasuk anak durhaka?"


"Aku tidak rela dimadu olehmu dengan wanita-wanita pilihan Romo! Tapi aku akan legowo bila mas menikahi kak Suminah!"


"Suminah lagi, Suminah lagi! Dimana otakmu Naina?"


"Kak Suminah sudah berumur 26 tahun. Orang memanggilnya 'perawan tua' karena kisah masa lalunya yang dicap sebagai keluarga abdi dalem pengkhianat. Karena dengan beraninya jatuh cinta pada anak sultan! Itu kesalahan mas dahulu. Nikahi kak Suminah, mas! Aku rela mas! Aku akan mengurus surat-surat pernikahan kalian agar resmi tercatat di KUA. Tapi kalau kau tidak ingin menikahi kak Suminah, aku akan mengurus surat perceraianku di pengadilan agama. Ella dan Adel ikut aku serta!"


"Naina!"


"Aku memilih cerai denganmu mas! Daripada aku harus hidup tersiksa dengan membawa 'kekurangan'ku tidak bisa memberimu anak laki-laki, mas!"


"Gila! Kau sudah memberiku dua putri cantik jelita, Naina! Kamu tidak punya kekurangan! Jangan kau bilang itu kekurangan! Aku bahagia, aku sudah dikaruniai 2 orang anak! Lelaki ataupun perempuan, bagiku sama saja, Naina!"


"Tapi bagi Romo itu penting, mas! Garis keturunan kalian pupus musnah jika mas tak memiliki anak laki-laki!"


"Ada mbak Jihan, mbak Rengganis, mbak Kinanti yang memiliki anak laki-laki! Kenapa dengan aku? Aku hanyalah anak bungsu Romo, Naina!"


"Tapi mas anak laki-laki Romo satu-satunya. Dan mas harapan terbesar Romo."


"Persetan dengan harapan Romo! Aku tidak akan menikah lagi, meskipun Romo memiliki banyak istri siri! Tidak! Aku tidak akan pernah membagi cintaku pada wanita lain selain istri dan anak-anakku!"


"Tapi Romo sangat mengharapkanmu, mas!"


"Aku dan Romo berbeda Naina! Aku sudah berjanji dalam hatiku sedari kecil. Sedari aku melihat Ibuk menangis setiap malam ketika Romo menikah lagi. Aku.... Teguh Suwandi. Tidak akan pernah melakukan poligami! Tidak akan pernah berbagi hati! Tidak akan pernah menikah lagi! Cukup sekali dalam hidupku mengucap ijab kabul didepan penghulu dan para saksi."


"Tidakkah mas kasihan melihat kak Suminah? Karena pernah menyandang predikat 'kekasih' mas dimasa lalu lantas hidupnya sengsara? Tidak ada pemuda lain yang berani mempersuntingnya. Takut pada peraturan keraton. Dan kak Suminah bukanlah perempuan modern yang bisa dengan mudah pergi dari kota ini untuk mensucikan kembali nama baiknya!"


"Naina!"


"Aku minta cerai! Aku minta cerai sekarang juga!!"


Hhhhh.....


Jatuh tubuh Teguh menangis tersedu memeluk sweater warna biru langit. Warna favoritnya itu. Kembali mengenang Naina.


💕BERSAMBUNG💕

__ADS_1


__ADS_2