PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
KEPUTUSAN TERBERAT


__ADS_3

Ella menangis. Hatinya luluh juga melihat Ramzy. Tapi apa daya, ia tak mampu berbuat apa-apa. Ia adalah seorang wanita yang rapuh jiwa raganya.


Orang mungkin menganggapnya wanita kokoh, dingin dan kejam. Karena kepribadiannya yang keras dan kuat dalam berpendapat. Tapi tidak didalamnya.


Ella justru memiliki hati yang keropos karena kosong dan hampa akibat trauma masa mudanya yang telah kita ketahui bersama.


Ia ingin cinta. Lebih tepatnya, cintanya Ramzy. Tapi bagaimana mungkin, jika Ramzy selalu menatapnya diantara dirinya dan Adelia. Ramzy yang masih menyimpan semua cintanya dengan begitu rapi pada almarhumah adiknya. Sangat rapi dan tidak bisa ia tembus untuk 'menggantikannya'.


Ella tak menyalahkan Ramzy. Justru Ella semakin dalam mencintai Ramzy karena begitu indah dan mengagungkan CINTA dengan begitu syahdunya. Dimana banyak orang dengan mudah "berganti cinta". Hari ini dengan yang ini, esok lusa bisa bersama yang itu.


Ella justru mencintai Ramzy karena keteguhan hati Ramzy pada Adelia. Tapi Ella juga tak sanggup lebih lama menahan perih, pedih dan sakit hati karena selalu ada Adel membayanginya.


Dimata Ramzy, hanya ada Adel dan Adel. Meski ia telah mencurahkan semua cinta serta perhatiannya pada Ramzy, tapi pria itu masih tak bisa 'melepaskan' adiknya yang telah tiada itu.


Ella tidak menyalahkan Tuhan. Tidak juga menyalahkan Ramzy juga Adel. Ia hanya menyesali dirinya sendiri yang mencintai dalam keadaan yang tidak tepat.


Dan kalian para pembaca, yang menikmati kisah hidup Ella, Ramzy dan Rahman apakah bisa mengambil hikmahnya? Ataukah hanya bisa berkomentar kenapa Ella begini, Ramzy begini, Rahman begini?... Apakah posisi menjadi netizen yang bermulut pedas itu lebih menyenangkan ketimbang menjadi netijen yang melihat dari hati yang suci dan bersih?


Haruskah Ramzy 'melupakan' Adelia hanya dalam hitungan bulan saja karena ada Ella kini 'mengganti' posisinya?


Haruskah Ella berperan lebih berani "menawarkan" diri agar Ramzy beneran memilih dia diantara Adel? Lalu seolah bersikap layaknya wanita 'gatal' yang nyosor duluan agar Ramzy melupakan Adelia?

__ADS_1


Dan haruskah juga Rahman pergi begitu saja melupakan 'kesakitan'nya dan dosa-dosa masa lalunya padahal ia sedang berjuang 'menjadi orang baik'?


Apakah 'orang jahat' selamanya jahat? Haruskah orang jahat selalu jahat? Dan orang baik, tidak boleh salah apalagi berbuat jahat? Mari kita renungkan bersama kisah Rahman, Ella dan Ramzy selanjutnya.


Mohon jangan terlalu serius dalam menimbang rasa. Karena author hanya penulis amatir yang hatinya kadang rapuh dengan komen menjatuhkan mental karena tulisannya ini tidak seperti yang diharapkan.


Tapi, mari kita berhalu ria. Author janji, akhirnya akan indah kepada ketiga pemeran utamanya. Suwer... hehehe! (Hahaha.... jadi curcol khan tuh author)


....


Ella dan Ramzy duduk bersama didepan meja makan. Setelah hati keduanya lebih tenang.


"Kamu tidak salah Ramzy! Aku yang salah! Aku,... aku terlalu naif dalam menjalani pernikahan pura-pura ini. Aku terlalu mendalami peranku! Dan aku...... aku jatuh cinta padamu!" Airmata Ella menangis. Antara sedih dan malu.


Ia seorang wanita. Tapi mengungkapkan rasa cinta lebih dulu pada pria. Hingga dirinya merasa bagai wanita yang tak punya harga diri.


Tapi terpaksa ia ungkapkan, karena ia juga ingin mengetahui kedalaman hati Ramzy. Bagaimana perasaannya kepada Ella selama ini. Karena kadang Ella merasa, tatapan mata Ramzy yang tulus. Juga ucapan jujur Ramzy yang berkata kalau ia menyayanginya. Membuat Ella selalu bertanya-tanya.


"Ella! Kamu benar-benar mencintai aku? Sungguh? Bukan sedang mempermainkan perasaanku?" tanya Ramzy menyelidik. Tapi justru pertanyaan Ramzy itu membuatnya semakin malu dan hilang muka dihadapan pria itu.


"Mari kita bercerai secara baik-baik! Seperti halnya yang sedari awal kita sepakati! Karena aku tidak ingin hadir sebagai "pengganggu" diantara kau dan Adel! Aku tidak ingin hidup bersama selamanya diantara bayangan Adelia. Aku tak sanggup! Aku mengundurkan diri jika harus bersaing dengan adikku yang sangat kucintai."

__ADS_1


"Ella!...."


"Fikirkanlah ucapanku Ramzy! Aku yakin, kau mengerti maksudku! Kau pria dewasa. Kau berhak menentukan pilihanmu. Kau pribadi yang bebas. Seperti halnya aku wanita dewasa. Dan aku ingin mengambil sikap."


"Ella, aku tidak... aku tak ingin berpisah secepat ini! Kumohon..."


"Cepat atau lambat, kita pasti berpisah jika terus begini. Rumah tangga kita memang tidak sehat Zy! Karena kita bangun diatas puing-puing kehancuran. Yang ada, kita saling menyakiti satu sama lain karena rasa bersalah yang besar diantara kita. Kamu faham maksudku Zy?"


"Aku, tidak tahu.... apa aku bisa hidup tanpamu Ella!"


"Aku pergi Zy! Maaf, aku meminta kau menceraikanku padahal masih satu bulan lagi masa tenggang pernikahan kita!"


"Ella! Kamu beneran ingin kita cerai Ella?"


"Maaf Zy! Aku pamit, pulang kerumah papa mama!"


"Ella! Plis Ella!"..


Ramzy berurai airmata. Memandangi Ella yang berlalu pergi dengan dua koper besarnya dimalam hari yang penuh luka, duka dan beban derita itu.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2