
Apakah kita ini anak yang durhaka, ketika kedua orangtua kita telah sepuh, tapi tidak tinggal serumah dan memilih tinggal jauh dan tak mau ikut kita?
Seperti Ramzy, yang kini tengah dilema. Memikirkan keadaan kedua orangtuanya yang sudah sakit-sakitan, tapi tinggal jauh dinegeri seberang.
Untungnya mereka orang berpunya. Jadi tidak terlalu kendala pada biaya perawatan dan suster jaga mereka. Tapi Ramzy juga lelah baik moril maupun materiil untuk bolak-balik Jakarta-Singapura.
Selain memerlukan banyak waktu dijalan, juga untuk keuangan pulang pergi tiket pesawat juga semakin lama semakin memberatkan.
Satu persatu aset papanya yang di Singapura juga semakin menyusut, berpindah tangan. Untuk menyokong hidup papa dan mama disana.
Belum lagi biaya hidup keluarga kecilnya. Sementara perusahaan hampir merugi karena dua kontrak besar yang gagal. Untungnya Rahman bergabung dengan perusahaan papanya Ramzy. Cukup banyak membantu juga dalam masalah keuangan perusahaan.
"Aku mau bawa papa mama pulang, Man!"
"Mereka bersedia?"
"Mamaku mau, tapi papa menolak! Tapi kalau terus tinggal disana.... hhhh... biaya hidup dan perawatan mama serta papa semakin membengkak."
"Coba kompromikan dulu sama papamu!"
"Papaku memang begitu! Dia malah bilang padaku, untuk menitipkannya saja pada yayasan panti jompo Singapura jika sudah tak ada biaya untuk mereka! Hhhh...."
Rahman hanya bisa menatap sahabatnya itu. Ia tidak pernah merasakan dilema seperti Ramzy karena kedua orangtuanya telah meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat terbang.
Bahkan ia hanya melakukan pemakaman secara simbolik saja. Sebab tubuh kedua orangtuanya itu tidak dapat diidentifikasi lagi. Bercampur dengan serpihan-serpihan tubuh korban yang lain.
Hhhh..... Mengenang itu, membuat Rahman hanya bisa menghela nafas guna mengusir kesedihan.
Dalam hatinya ia bergumam,... masih lebih beruntung Ramzy ketimbang dirinya. Masih memiliki kedua orangtua. Lengkap malahan. Meskipun kini sudah uzur dan sering sakit-sakitan.
Makanya ia kini begitu inginkan momongan. Seperti Ramzy, ysng sudah menimang dua bayi tampan yang menggemaskan.
__ADS_1
Kemarin ia kembali ribut dengan Mira setelah kepulangannya dari Puncak. Dipemotretan ia uring-uringan. Karena menurut Mira, Rahman banyak mengaturnya.
"Kenapa sih, kakak jadi seksi sibuk deh! Cukup diam liatin aku aja khan bisa! Biar fotografer sama stylis yang atur kak!"
"Kamu ga boleh style anak remaja yang! Namamu itu tercantum sebagai Direktur Utama. Dan statusmu itu seorang wanita bersuami, Mira!"
"Tapi umurku masih 23 tahun kak! Kata Vicky, masih sangat pantas dengan pakaian remaja. Teman-temanku juga masih banyak yang belum menikah! Please deh kak! Lagipula ini khan cuma style di foto aja! Aku juga cukup tahu diri untuk berbuat macam-macam!"
Mira kesal mendengar semua perkataan Rahman. Pulang pun dengan wajah bete' dan suram.
"Aku hanya mengingatkanmu, Mira! Aku ini kepala rumah tangga. Katamu, akulah yang harus menuntunmu menemukan kebahagiaan! Lantas bagaimana mau kita bahagia, kalau setiap langkah yang kuambil selalu kau anggap salah?"
"Udah ah, capek debat terus! Ini udah dirumah! Aku mau tidur!"
Hhhhhh..... Seperti biasa. Mira kembali dengan sikap kekanak-kanakkannya. Tidur dengan tubuh berbalik memunggunginya.
....
"Hah? Bryan ada. Dia cukup pengalaman!"
"Belum. Dia belum punya pengalaman sama sekali. Dan aku juga ga enak konsul sama dia! Ini urusan rumah tangga!"
"Maksudmu apa Man?"
"Aku ingin meminta resep obat untuk menyuburkan kandungan!"
"Hm.....! Ada dokter spesialis kandungan dirumah sakit Bramasta Clinic. Namanya dokter Astari. Perempuan. Mau kukasih private number nya?"
"Boleh. Biar kita bisa buat temu janji!"
"Sabar Man! Belum juga setahun kau berumah tangga. Banyak pasangan lain yang melewatinya sampai bertahun-tahun! Enjoy aja! Doa selalu, agar Allah segera memberimu keturunan!"
__ADS_1
"Aamiin.... Hhhh....!!!"
"Lah? Koq malah narik nafas?"
"Mira suntik KB di awal nikah!"
"Berarti istrimu memang belum ingin memiliki momongan Man! Secara Mira masih muda juga umurnya. Mungkin belum siap mental!"
"Tapi apa gunanya membangun rumah tangga jika harus menunda anugerah Tuhan?"
"Menikah khan bukan hanya untuk memiliki keturunan aja Man! Menikah itu adalah komitmen kau dan istrimu. Intinya ya komunikasikan segalanya! Secara baik dan dewasa. Juga disaat kedua belah fihak tidak sedang emosi! Itu namanya komunikasi dua arah!"
"Hhhh..... Asem! Aku dinasehati kau yang notabene lebih muda dariku 6 tahun."
"Ya. Kau tua tapi polos! Hehehe... "
"Kau muda tapi boros!! Iya sih. Aku lebih tua, tapi kamu lebih dewasa ya? Hehehe... Apa bisa jadi kau ini memang reinkarnasi kakek-kakek ya?"
"Suwe! Haish.... Sanalah kau! Kembali keruanganmu! Sumpek aku lihat muka kau terus disini!"
"Hehehe... sorry bro! Aku lagi ga mood banget ini! Hhhh.... Niatku mengajak Mira ke Surabaya gagal total! Semua berantakan..... Hhh Mira malah uring-uringan ga jelas gara-gara aku ikut dia pemotretan di Puncak!"
"Mengertilah sedikit jiwa muda Mira!"
"Hhh.... Sering Zy!"
"Tapi emang iya sih. Sifat istrimu itu lumayan mmmm.... hehehe gitu deh ya!?!"
Rahman hanya menunduk. Masih berusaha mencari cara, agar Mira segera hamil dan berubah sikap menjadi lebih keibuan serta mengurangi ambisinya sedikit saja untuk kebahagiaan rumah tangga mereka.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1