
"Masuk Nak!"
"Mama boleh panggil saya Agnes. Nama saya Agnes Maharani!"
"Iya Agnes!"jawab mama Ella. Beliau mengajak Agnes duduk disofa ruang tamunya. Menarik nafasnya sebentar. Dengan wajah menatap lekat suaminya yang mengangguk perlahan seolah mengiyakan.
"Mama dan Papa menikah karena dijodohkan kedua orangtua kami. Papa adalah seorang anak keturunan dari keraton kasepuhan Cirebon. Dan mama juga masih ada keturunan trah bangsawan Cirebon."
Agnes berusaha menyimak perkataan mama Ella baik-baik.
"Pada saat itu, kami sebenarnya sama-sama memiliki kekasih. Ibundamu adalah kekasih papa sejak jaman SMA. Tapi sayangnya, kakekmu hanyalah seorang abdi dalem keraton kasepuhan sehingga hubungan bunda dan papa ditentang keluarga.
Karena Allah juga yang menjodohkan kami, mama dan papa akhirnya memutuskan hubungan asmara kami dengan pasangan masing-masing dan menerima perjodohan para orangtua demi kebahagiaan mereka.
Hhhh....."
Lama mama Ella mengatur nafasnya untuk kembali meneruskan ceritanya. Ia hanya bisa memandang wajah suaminya yang menunduk. Sesekali terlihat butiran jatuh dari sudut matanya.
"Kami menikah dan bahagia. Dikaruniai dua putri cantik yang berbeda usia 4 tahun. Fidellia Gabriella dan Adelia Willhelmina. Sewaktu melahirkan Adel, mama terkena gangguan sehingga harus diangkat rahimnya membuat mama tak lagi bisa melahirkan. Padahal, keluarga besar papa menginginkan keturunan anak laki-laki yang akan menjadi penerus keluarga.
Lalu, keluarga papa.... menyuruh papa menikah lagi. Untuk mendapatkan keturunan anak laki-laki. Hik hik hiks.....!"
Papa Ella berinsrut mendekati istrinya. Memeluknya yang pecah isak tangisnya. Kekuatan yang telah ia bangun sedari tadi hancur porak-poranda. Menangis mama sejadi-jadinya.
__ADS_1
"Tadinya mama ingin bercerai. Tapi demi keutuhan rumah tangga dan juga Ella serta Adel, mama menelan bulat-bulat kesedihan hati mama.
Papa yang menyetujui dinikahkan kembali mengajukan persyaratan, asalkan dinikahkan resmi sah secara agama dan juga hukum negara, dan wanita yang harus menjadi istri keduanya adalah bundamu. Kak Suminah."
Agnes ikut menangis berselonjor dikaki mama Ella. Ia ikut sedih merasakan beban batin wanita yang meski sudah menjelang senja tapi masih begitu cantik jelita.
"Mama,... mengizinkan bundamu dan papa menikah! Dengan catatan, bundamu tidak mengusik mama. Dan mama akhirnya menerima beliau setelah beliau menangis menolak tegas dan tak mau menyakiti mama dengan menjadi wanita perebut suami orang. Mama lebih rela papa menikah dengan bundamu ketimbang wanita lain. Hik hik hiks... karena wanita lain tak mungkin melakukan tindakan seperti bundamu pada mama."
Pak Teguh kembali memeluk istrinya. Menguatkan wanita yang begitu setia mendampinginya puluhan tahun bahkan hingga detik ini.
"Biar, pa! Mama akan ceritakan semuanya pada Agnes! Mama akan buka semuanya. Setidaknya, beban hati mama yang selama ini begitu berat mama pikul terlepas sedikit. Tinggal nanti bagaimana kita menceritakan ini pada Ella, pa!"
"Iya, ma! Istirahat dulu, ma! Papa tidak tega melihat kesedihan hati mama. Maafkan papa, ma!"
Bunda dan Papa menikah. Setelah setengah tahun kemudian, bunda mengandungmu. Tapi ternyata,.... anak yang bunda kandung berjenis kelamin perempuan, bukan laki-laki harapan keluarga besar.
Tanpa sepengetahuan papa dan mama, Eyang mengusir bundamu dari rumah dalam keadaan baru melahirkan satu bulan. Hik hik hiks....
Maafkan mama, Nak! Tak bisa melindungi kalian! Dan bundamu benar-benar menghilang tak dapat kami temukan dimana rimbanya. Hingga akhirnya papa dan mama memutuskan juga tali kekeluargaan dari keraton kasepuhan itu dengan pindah dan merantau ke ibukota. Berharap bertemu lagi dengan kalian!"
Mama memeluk Agnes erat. Keduanya menangis keras. Menyesali takdir yang tak berpihak kepada mereka dengan masing-masing kisah kehidupan yang harus mereka jalani.
Pak Teguh kembali memeluk keduanya. Menangis mereka bertiga disofa ruang tamu rumah pasutri itu. Hanya angin semilir yang menjadi perantara perasaan hati mereka.
__ADS_1
...
Sementara Rahman membonceng Mira pulang kerumah. Mira diam tak banyak bicara. Membuat Rahman rindu juga akan celotehan pedasnya.
"Yang?"
"Hm?"
"Mampir yuk cari makan?"
"Terserah kakak saja!"
"Kenapa? Koq tumben suaranya lemes gitu?"
"Aku lagi mikirin kenapa mama sama papanya kak Ella sampe peluk-pelukan gitu ya sama Agnes, sampe nangis-nangis gitu. Sedang ke aku, bilang terima kasihnya ga pake nangis gitu?"
"Yassalaaam.... Aku kira kenapa koq diam terus dari tadi! Hehehe...!"
"Mungkin mereka senang melihat duplikat anak mereka yang! Udah ah, jangan terlalu penasaran! Nanti kamu dicariin bang haji Rhoma Irama. Hehehe...!"
"Ish garing banget candaannya!"
Rahman tertawa melihat Mira cemberut tapi menggelayut mesra dipundaknya. Ia senang, Mira yang manis dan manja seperti ini. Ketimbang Mira yang galak, keras dan sok kuasa.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•