PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
RIBUAN KUPU-KUPU BETERBANGAN DIHATI RAMZY


__ADS_3

Teuku Ramzy terbangun. Peluhnya membasahi sekujur tubuhnya. Matanya merah seperti habis menangis.


Bau obat menyergap indera penciumannya. Ternyata setelah ia sadari, ini ada diruang ICU rumah sakit. Dan Adelia duduk tertidur dengan wajah separuh menempel disisi ranjangnya.


Gadis ini,...masih menemaniku. Gumamnya dalam hati. Hhhhh...


Ya. Inilah yang terjadi bila alergi bulu kucingnya kambuh secara tiba-tiba dan cukup lama intens kedekatannya dengan sang kucing.


Ramzy bisa langsung sesak nafas dan pingsan tiba-tiba setelah bersin, flu juga batuk menyerang.


Tapi yang lebih menyesakkan hatinya lagi, adalah mimpi yang hadir didalam tidurnya tadi.


Suara Andini bergema. Masih memekakkan gendang telinganya. Gadis kekasih ketiganya itu sumpah serapah membuatnya masih trauma berdekatan dengan wanita. Padahal, justru ia lah yang harusnya marah karena memergoki Andini selingkuh dan 'bercinta' dengan Hanggara, asistennya yang terdahulu.


"Setampan, sekaya dan sehebat apapun dirimu,.. kau tetaplah lelaki hina. Jika kau tak mampu membahagiakan wanitamu meredam hasrat biologisnya!"


Kepala Ramzy pening tiba-tiba. Dipukulnya batok kepala miliknya sendiri itu berulang-ulang seraya meneteskan airmata kepedihannya. Berharap suara kasar Andini menghilang dari peredaran diotaknya.


Adelia terbangun mendengar suara keplakan tangan Ramzy.


"Boss, boss? Apa kepala boss masih pusing?...Suster... Suster tolong atasan saya!"


Adelia berlari menuju ruang jaga dokter dan perawat disebelah ruangan.


Suster perawat datang bersama Adel. Memeriksa Ramzy dan memberinya suntikan penenang. Hingga Ramzy terkulai lemas dengan mata kuyu menatap Adelia.


Sungguh Adel merasa iba melihat boss tengilnya dalam kondisi mengenaskan itu.


Ia duduk disamping Ramzy. Masih dengan pandangan penuh menatap atasannya. Hingga kedua pasang netra mereka saling bertautan.

__ADS_1


"Boss! Mau minum?" tawarnya dengan suara lembut.


Ramzy menggeleng lemah. Airmatanya meleleh membuat Adel segera menyusutnya dengan jemari mungilnya.


Adel tidak berkata apa-apa. Tapi jemarinya berbicara banyak. Mengusap-usap lembut lengan Ramzy untuk menenangkan atasannya yang terbaring lemah itu.


Ia bisa mengerti, Ramzy adalah anak tunggal pewaris RAMA CORPORATION. Sudah pasti bossnya itu anak yang manja. Yang selalu ingin didampingi kedua orangtuanya jika dalam kondisi sakit seperti ini.


Sama seperti dirinya. Yang selalu ingin tidur ditemani papa mama jika tengah sakit.


Mmmmh. Adel tersenyum sendiri mengingat betapa manjanya ia ketika sakit. Bahkan kak Ella pun ikut sibuk wara-wiri kesana kemari membelikan makanan atau minuman keinginan Adel.


Sudah hampir 4 jam bossnya itu masuk ruang ICU. Tapi belum ada tanda-tanda kedua orangtuanya datang menjenguknya.


Ternyata orang kaya sangat sibuk yaa... Bahkan untuk menengok anak satu-satunya dirumah sakit, masih terpaksa harus dipending karena banyaknya berkas penting yang harus ditandatangani. Uang memang segalanya. Pikiran Adel bergelut dengan kata-katanya.


Hampir maghrib. Adel pergi mencari ruangan musholla setelah melihat bossnya itu kembali terlelap.


Usai sholat Adelia kembali keruangan atasannya. Ternyata pak RAMA, CEO sekaligus ayah kandungnya telah berada didalam. Itupun sendirian tanpa istrinya.


Terdengar suara bentakan kasar boss besarnya itu.


"Kenapa kau tidak bisa mengurus diri dengan benar! Selalu menyusahkan. Mamamu masih di Singapura, dan katanya hanya akan pulang minggu depan. Urus saja dirimu sendiri! Aku juga tidak bisa mengurusmu dirumah sakit. Kau sudah tua, dan seharusnya tahu konsekuensinya jika begini keadaannya!"


Adel terkejut mendengar perkataan boss besarnya dari balik pintu. Sungguh kata-kata yang menyakitkan menurutnya. Dan bagai mimpi ia mendengar seorang 'ayah' mengatakan hal demikian ketika menengok anak tunggalnya dirumah sakit.


Boss besar mendapati Adel dibalik pintu. Matanya menatap Adelia agak lama. Tapi kemudian tersenyum padanya.


"Kamu karyawati divisi perencanaan dan keuangan yang baru itu ya? Ah Adelia Wilhelmina!"

__ADS_1


"Benar, pak!" Adel mengangguk memberi hormat.


Pak Rama mengulurkan tangannya menjabat jemari kanan Adel.


"Maafkan putra saya, kalau dia sudah bertindak kelewatan pada nona. Saya atas nama putra saya, mohon maaf bila membuat nona tidak nyaman. Oiya, terima kasih banyak karena nona begitu cekatan mengurus putra saya dan langsung membawanya kerumah sakit terdekat." kata-katanya manis pada Adel. Membuat Adelia tertunduk malu. Berbanding 180° dengan perkataan yang tadi didengarnya didalam.


"Ramzy memang memiliki alergi akut dengan bulu kucing. Jadi seperti inilah kondisinya jika berdekatan dengan kucing!" Jelasnya lagi membuat Adel mengangguk.


"Nona Adel,"


"Ya, pak?"


"Kalau nona ingin pulang, silakan.... Nanti asisten Ramzy akan datang sekitar 2 jam lagi. Tinggalkan saja dia! Anak itu sudah lebih baik. Saya juga akan pulang kerumah. Apa nona mau pulang bersama saya? Biar sopir saya mengantarkan nona sampai rumah!"


"Ah iya, pak, terima kasih! Biar saya pamit dulu pada pak Ramzy! Atau sebaiknya saya tunggu asisten pak Ramzy saja pak!"


"Baiklah kalau begitu. Saya pamit lebih dulu ya!?"


"Iya pak. Mari... Hati-hati dijalan!"


Adelia menatap pak Rama hingga boss besarnya itu berlalu dan hilang dari pandangannya.


Terlihat boss Ramzy tergesa-gesa menghapus lelehan airmatanya.


"Pulanglah! Aku tak apa-apa. Terima kasih sudah bersedia mengurusku!" katanya dengan suara parau menahan isak.


Adel tersenyum sambil mengusap lengan Ramzy.


"Saya akan menemani boss disini. Setidaknya, boss tidak akan kesepian hingga asisten boss datang. Boleh ya?" tanya Adel.

__ADS_1


Seketika ribuan kupu-kupu seolah menyerbu beterbangan direlung hati Ramzy yang terdalam.


💕BERSAMBUNG💕


__ADS_2