PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
PERTEMUAN YANG TAK DISANGKA


__ADS_3

Pernahkah kau merasakan, bahwa dunia ini tidak adil memperlakukanmu? Pernah juga kah kau salahkan Tuhan, karena keadaanmu yang selalu dibawah tekanan? Tuhan itu Maha Baik. Dia lebih tahu, apa yang terbaik untukmu, meski menurutmu itu adalah yang terburuk.


....


Hari ini hari Sabtu pagi. Kebetulan Ella sedang off kerja. Sudah lama ia ingin menyambangi dokter Prita. Dokter sosiologinya dahulu. Tepatnya, psikolog yang pernah menyembuhkannya dari penyakit mentalnya yang tertekan karena kejadian tragis semasa ia SMP kelas 3.


Hhhh.....


Dihelanya nafas. Menyusuri lorong tempat praktek dokter Prita. Masih sama seperti yang dulu. Hanya cat temboknya yang terlihat berganti meski masih dengan warna yang sama.


Terakhir ia datang konsul 3 tahun lalu. Meski tak sering seperti ketika masa remajanya dahulu, tapi ia dan dokter Prita memiliki perjanjian tertulis agar dokter itu tidak 'buka suara' penyebabnya menjadi kacau seperti ini.


Ia tak ingin mama papanya histeris mendengar dirinya yang menjadi korban pemerk*saan diumurnya yang ke-15 tahun di bumi perkemahan.


Jantung Ella berdetak kencang, setiap ia mengingat nama bumi perkemahan. Bahkan hampir setengah tahun lebih, ia menyalahkan adik semata wayangnya dan tak ingin mengindahkan apalagi berbicara pada Adelia.


Ya. Kejadian menyeramkan itu berawal dari Adel yang telepon kerumah, kalau buku tugas gugusnya ketinggalan. Dan Ella yang saat itu menerima telepon Adel, langsung bergegas meluncur ke bumi perkemahan tempat Adel kemping.


Adel yang tengah kemping, gembira melihat kedatangan kakaknya yang mengantarkan buku gugusnya. Adel kala itu kelas 5 SD. Dan masuk anggota Pramuka, yang mengharuskannya ikut kemping dari sekolah.


"Makasih kakaaaa! Kalo engga ada buku ini, Adel bisa dihukum seharian ka!" kata Adel waktu itu dengan imutnya. Dan Ella hanya menjuleg kepala adiknya serasa berkata, "Makanya kalo pergi-pergi tuh jangan grasak-grusuk! Periksa dulu apa yang kelupaan! Bikin orang susah aja!"


"Hehehe.... Iya, maaf!"


Ella memang sangat sayang pada Adel adiknya. Ia ingat waktu Adel bayi pernah hampir meninggal karena Adel tersedak permen kopi pemberiannya. Itu sebabnya, Ella selalu menuruti kemauan Adel.


Setelah mengantar buku Adel, ia pamit pulang.

__ADS_1


"Mmmm.... Kalo lewat sini jadi lebih deket ya? Coba ah, jalan semak-semak itu aja! Males muter, jauh!" Ella bergumam sendiri. Sengaja mencari jalan pintas agar cepat keluar dari bumi perkemahan yang hijau dan penuh tumbuhan besar.


Ella terkejut ketika tangannya ditarik paksa seseorang. Seorang...cowok? Dan dengan bengisnya, cowok itu menindih tubuh kecilnya. Mulutnya dibekap hingga tak mampu bersuara.


Entah setan ataukah manusia. Cowok itu begitu besar tenaganya, hingga mampu menarik paksa celana katun Ella yang panjang dan rapat.


Dan entah kenapa, saat itu ia seperti tak punya tenaga sama sekali untuk berontak. Bahkan ketika,..... cowok itu merobek celana d*lamnya. Ya Tuhan!!!!!


Airmata Ella berderai mengingat lagi kejadian itu. Ia menangis sesegukan berjongkok dipinggir lorong praktek dokter Prita yang sebenarnya tak terlalu panjang.


"Ella?"


Seseorang menyebut namanya. Membuatnya segera menyusut airmata dan menoleh kearah pemilik suara itu.


"Ramzy? Sedang apa kamu disini?"


"Apa sih? Emangnya aku balita, maen tanah!"


Ella berdiri. Menepuk-nepuk roknya yang sebenarnya tidak kotor.


"Dan satu lagi,.... jaga sikapmu jika ingin aku baik padamu! Aku sopan karena Adel begitu mencintaimu. Tapi kalau kau bersikap kurang ajar, aku tidak akan tinggal diam!" tutur Ella ketus.



"Ohohohoooo.....! Terbuka juga topeng manismu selama ini! Dan aku tahu, kamu memang tidak pernah menerimaku sebagai calon adik iparmu dengan tulus, hai nona es batu!"


Ramzy ternyata berani menyentak Ella. Ia memang kurang suka pada kakak kekasihnya itu. Ella pernah memarahinya dulu diawal pertemuannya membuatnya masih menyimpan rasa kesal.

__ADS_1


"Kau pikir, kau si tampan yang manis, hei tuan muka datar!"


"Eh? Tuan muka datar? Sadisnya kau menjulukiku!"


"Apa bedanya kau dengan aku. Menjulukiku nona es batu!"


"Ada apa ini, ada apa? Kenapa didepan klinik saya seperti ada keributan antara nona cantik dan tuan tampan?"


Ella dan Ramzy berbarengan menoleh. Wajah dokter Prita tengah tersenyum memperhatikan mereka.


"Dokter Pritaaaa!! Apa kabar?"


"Hai mbak Ella! Kabar saya baik. Tambah cantik dan anggun! Oiya, ada angin apa nih mampir ke tempat saya setelah sekian lama?"


"Dok, jangan lupa! Saya ada disini. Kita janji tatap muka sekarang khan ya?" Ramzy menyela seraya melihat jam tangan dilengan kirinya.


"Hehehe... iya mas Ramzy! Mas yang lebih dulu ngobrol sama saya!" kata dokter Prita membuat Ramzy tersenyum puas.


"Dok! Saya harus nunggu orang ini?" ujar Ella membuat Ramzy menoleh kepadanya.


"Orang ini? Orang apa? Orang-orangan sawah?...Ish, kalo ngomong itu yang benar. Yang sopan, nona es batu! Kamu fikir, karena Adel pacar saya...lalu saya takut dan diam saja anda perlakukan semena-mena!"


"Wooow....Tuan Muka Datar marah! Takuuuut!!! Mamaaaa, tolooong!" Ella justru meledeknya dengan wajah dinginnya tanpa ekspresi.


Dua orang bermasalah bertemu. Dunia serasa milik berdua jika sudah begini. Dokter Prita dan kita semua ngontrak. Hehehe


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2