PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
ROMANSA CINTA DAN RAHASIA


__ADS_3

Cinta berlabuh tanpa kita tahu, dengan siapa dan orang yang bagaimana. Karena cinta itu buta, tak melihat harta, tahta dan kasta.


Adel jatuh cinta untuk pertama kalinya. Karena Ramzy, pria yang akhirnya menjadi belahan jiwanya kini.


Seolah alam merestui, dan Tuhan mengizinkan,... keduanya berjalan melangkah bersama tanpa hambatan.


Keluarga Adel yang dulu begitu Adel jaga perasaannya karena takut terjadi sesuatu jika ia lebih dulu memiliki pasangan, justru penyupport nomor satu dalam hubungan keduanya.


Ella, meski jarang mereka berbincang seperti dengan papa mama Adel,...tapi Ella juga sangat mendukung hubungan Adel dan Ramzy.


Kedua orangtua Ramzy pun, yang semula Adel kira akan sangat berat menerima Adel, justru adem ayem tak ada hambatan. Meski memang keduanya orang super sibuk dan super cuek. Tapi bagi Adel, yang penting Ramzy sungguh-sungguh menyayanginya. Itu saja poin utamanya.


"Del!"


"Mmm?"


"Junior mas sekarang sering bangun kalo cuaca dingin." bisik Ramzy membuat wajah Adel memerah.


"Eh?"


"Ho'oh!"


"Hyaaaaaa....!!!! Maaaassss!!! Koq santei banget deh, ngomongin begituan!! Mesum! Fiktor!"


"Eh? Bu bukan begitu maksudku!" Ramzy tergagap mendengar respon Adel.


Ya. Setelah hampir 3 bulan Ramzy intens mengunjungi dokter psikiater yang Adel rekomendasikan, akhirnya berbuah manis.


"Aku cuma mau bagi kabar gembira!" bisik Ramzy memerah juga wajahnya.


Adel memukul lengan Ramzy pelan. Ia menahan tawanya.


"Terus? Adel harus bilang waw gitu?"


Ramzy membalikkan tubuhnya. Malu. Membuat Adel tertawa, juga malu.


"Semangat, mas! Rutin konsul ya ke dokter Prita?" Ramzy mengangguk.


"Demi kebahagiaan kita. Aku ingin kita menikah. Memiliki keturunan. Hidup bahagia bersama. Selamanya!"

__ADS_1


Adel dan Ramzy rebahan berbarengan. Diantara hamparan padang rumput nan hijau. Dengan tangan saling berpegangan. Keduanya memandang langit biru dengan berjuta harapan dan impian. Impian indah tentunya.


"Adel bayangin, mas Ramzy pasti bakalan jadi hot daddy!" Keduanya tertawa.


"Adel pasti bakalan tetep imut meskipun anak kita banyak!"


"Ih? Anak banyak?"


"Adel mau punya anak berapa?"


"Dua aja cukup mas! Anjuran pemerintah!"


"Aku mau punya anak 12. Seru kali ya!?"


"What?? No no nooooo.. . Emang Adel kelinci apa? bisa nyetak anak sebanyak itu? Ga mau! Ish, mending kalo mas mau bantuin! Banyak anak capek tauuuu!!!"


"Mas pasti bantuin, bantuin anak-anak ngerusuhin mamanya! Hahaha...."


"Idiiiih...! Belum apa-apa udah punya rencana jahad!"


"Hahahaha......"


....


"Adel!"



"Mas Rahman! Apa kabar? Lama ga ketemu ya? Mas berhenti dari toko jaket ya? Adel cari ga pernah ada!" berondong Adel pada Rahman. Pemuda 30 tahun fans Adel juga.


Rahman menunduk. Ia terlihat lebih kurus dan pucat. Rambutnya juga gondrong tak terurus.


"Mas sakit?"


"Bisa kita ngobrol, Del?"


Adel mengikuti langkah Rahman.


"Boleh Adel wa mas Ramzy dulu ya? Khawatir nanti dia salah faham kalau melihat kita berduaan!"

__ADS_1


Rahman mengangguk lesu.


"Kalian sungguh-sungguh pacaran ya?"


"Hehehe... Mana ada pacaran main-main?" jawab Adel sembari mengetik di layar hapenya. Ia menjapri kekasih hatinya yang suka cemburu buta. Dan ia tak ingin kekasihnya itu tersiksa karena kecemburuannya pada Rahman, yang hanya Adel anggap kakak saja.


"Del! Aku sedih. Kamu ternyata beneran milih Ramzy. Aku patah hati. Setelah sekian lama aku menutup pintu hati untuk wanita dan tak pernah berharap bisa jatuh cinta apalagi menikah. Kamu perempuan satu-satunya yang bisa membangkitkan jiwa kelelakianku untuk hidup bahagia memandang masa depan!"


"Maafin Adel, bang! Demi Tuhan, Adel ga pernah ada niatan jahat sama bang Rahman! Adel seneng banget berteman sama abang! Karena abang pria yang baik dan tidak pernah kurang ajar meskipun kita ini berbeda gender!"


"Aku jual toko kulit itu. Aku buka cabang ditempat lain. Tapi tetap ga bisa lupain Adel! Juga selalu terbayang perempuan itu!"


"Perempuan? Berarti ada perempuan lain yang abang suka? Mungkin abang bisa lebih beruntung jika mengejar perempuan itu, bang!"


"Bukan aku suka, tepatnya. Tapi,.... aku punya dosa besar pada perempuan itu. Dan aku selalu dibayang-bayangi oleh dosa besarku itu Del!"


Rahman menunduk. Meremas-remas jemarinya sendiri. Ia semakin pucat pias. Rahangnya mengeras. Semenit kemudian matanya mengedar keseluruh ruangan.


Ya. Seperti biasa, mereka kini duduk dicoffee shop StartDuck. Yang ternyata juga sebagian sahamnya milik Rahman. Tapi dihandle oleh sahabatnya itu.


"Boleh aku bercerita aibku padamu, Del?" kata Rahman lirih. Adel hanya bisa menelan saliva.


Sebenarnya ia ingin mengusap punggung lengan Rahman. Tapi urung. Karena sadar kini ia telah punya Ramzy. Dan harus menjaga perasaan Ramzy meskipun kini Ramzy tak bersamanya.


"Waktu kelas 3 SMA, aku pernah memperk*sa seorang gadis. Dibukit perkemahan. Dan hingga kini, aku belum pernah bertemu gadis itu. Meskipun aku mencarinya kemana-mana, untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku!"


Adel terhenyak. Tak percaya pada cerita Rahman.


Pria yang selama ini santun, ternyata menyimpan masa lalu yang ekstrim dan menyeramkan bagi Adel.


Memperk*sa. Adalah satu kata yang menakutkan. Bahkan mungkin bagi hampir semua perempuan.


"Abang kenapa melakukan itu? Apakah abang tidak memikirkan dampak dan masa depan gadis itu?" Adel mencoba menahan amarah.


"Aku khilaf. Waktu itu aku dicekoki minuman keras dan juga obat perangs*ng oleh teman-temanku!"


"Ya Tuhaaaan!!!!"


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2