PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
BELUM WAKTUNYA


__ADS_3

"Tuan, Tuan Rahman!" Cici mengetuk pintu kamar tuannya.


Yang dipanggil tak lama kemudian membuka pintu kamarnya dan mengangkat dagunya tanpa bersuara.


"Cici punya makanan enak hantaran nona cantik sebelah rumah! Tuan mau bayar lagi ga?" goda Cici sambil menggoyang-goyangkan tupperware wadah lontong semur daging buatan Ella.


Ramzy mengibaskan tangannya. Hendak kembali masuk dan menutup pintu kamarnya. Tapi segera dicegat Cici.


"Eee, tuan liat dulu kali ini menu masakannya apa! Sini, sini tuan duduk dulu!" Cici menarik lengan majikannya hingga duduk dikursi meja makan.


"Apa sih Ci! Lagi ga mood nih! Males makan!" jawab Rahman ogah-ogahan. Ia memang memperlakukan Cici layaknya keluarga, bukan pembantu rumah tangga.


Cici membuka tutup wadah rantang Ella. Harum aroma khas semur daging menyeruak menggoda penciuman Rahman.


"Mana, sini sendoknya?!"


"Eit, bayar dulu... 100 ribu!"


"Eh? Apa-apaan, Ci? Mau meres ya?"


"Kalo tuan ga berani bayar, Cici makan sendiri!"


"Ga jelas banget sih kamu!"


"Ya udah, karena protes harganya Cici naekin jadi 150 ribu!"


"What??? Ga jadi deh, nih!"


"100 ribu, deal! Hehehe... Selamat makan tuan!"


Rahman menatap wajah Cici dengan mata tajamnya. Meraih wadah rantang Ella dan menyeruput kuah semur daging yang kental dan pekat itu. Matanya terbelalak.

__ADS_1


"Enak! Beneran enak!"


"Boleh Cici coba, Tuan? Seenak apa sih masakan nona Ella yang cantik yang bikin tuan selalu menaruh fotonya dibawah bantal tuan!"


"Hah? Uhuk uhuk uhuk!!!"


Rahman terbatuk-batuk. Mendengar nama Ella Cici sebut.


"Coba ulangi perkataanmu, Ci!"


"Tidak ada siaran ulang, tuan!" Cici pergi berlalu ke arah dapur. Puas ia membuat tuannya menjadi kepo dengan perkataannya.


Rahman hanya diam. Kembali menikmati makanan yang tersaji dihadapannya. Ludes tak bersisa.


"Cici, Cii...!"


"Iya tuan!"


"Jangan tuan! Itu khan non Ella bagi untuk Cici! Nanti kalau tuan yang antar, Cici ga enak sama non Ella!"


"Namanya Ella? Beneran Ella atau ada kepanjangannya?" tanya Rahman menyelidik.


"Nona Ella, tuan! Orangnya cantik, ramah pula. Suaminya juga ganteng banget! Mereka pasangan yang serasi sekali, tuan! Tuan ga boleh iri, apalagi sampai mau merebut nona Ella dari tuan tampan!" celoteh Cici membuat jantung Rahman bergetar.


Apakah benar Ella adalah tetanggaku? gumam hati kecilnya gamang.


"Ya udah, cepet cuciin ini dulu!"


Cici melongo menatap wajah tuannya. Hatinya bersorak, melihat tuannya yang biasanya cuek terlihat penasaran dan ingin mengembalikan wadah nona Ella sendiri kerumahnya.


Cici sebenarnya takut juga, kalau tuannya akan patah hati mengingat gadis idamannya itu ternyata adalah istri orang. Dan ia juga tak ingin mendapat dosa karena membuat rumah tangga nona Ella dan suaminya menjadi goyah karena cinta tuannya.

__ADS_1


Tapi ia juga penasaran, ingin mengetahui akhir kisah cinta tuannya yang bertepuk sebelah tangan. Ia terlalu sering menonton drama dan sinetron di televisi. Membuatnya ingin juga menyaksikan kisah cinta tuan Rahman yang selama ini datar dan adem saja hidupnya.


"Mana, udah dicuci?" tanya Rahman.


"Ini, tuan!"


Rahman bergegas keluar rumahnya sambil menenteng wadah makanan Ella.


Menengok kedalam pintu pagar rumah Ramzy dengan dada berdesir halus. Lalu ditekannya bel yang berada disisi tembok pagar.


Sekali. Dua kali.


Tak ada reaksi pintu rumah dibuka. Sepi.


Rahman menekannya sekali lagi.


Ya. Ella memang tidak ada dirumah itu. Setengah jam yang lalu, setelah mengantar makanan pada Cici, asisten rumah tangga Rahman, ia pergi kerumah papa mamanya. Membawa masakannya kerumah kedua orangtuanya.


Dan Rahman untuk saat ini hanya gigit jari. Belum bisa bertemu dengan nona cantik bernama Ella yang jadi tetangganya itu.


"Kenapa tuan bawa lagi rantangnya?" tanya Cici melihat tuannya pulang masih dengan menjinjing rantang.


"Rumahnya sepi. Ga da orang sepertinya!" jawabnya lesu. Membuat Cici tersenyum.


"Tandanya tuan belum diizinin Allah untuk melihat kecantikan nona Ella, tuan!" godanya membuat Rahman mengangkat rantang yang dipegangnya seolah hendak ia pukulkan ke Cici.


Sontak Cici tertawa terkekeh-kekeh. Gemas ia melihat wajah tuannya yang terlihat manis karena pipinya yang merah karena malu itu.



đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2