PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
LANGKAH RAHMAN


__ADS_3

Entah mengapa, air shower dikamar mandi dijam 11 malam itu terasa panas ditubuh Rahman. Padahal hanyalah air dingin biasa.


Mungkin karena otak dikepalanya yang mengebul karena emosinya memuncak akibat pergelutannya dengan Mira.


Tetesan airmatanya ikut jatuh bersama rinai-rinai air dari pancuran shower.


Bukan ini pernikahan yang kuidam-idamkan! Bukan ini rumah tangga yang ingin kubangun! Bukan! Bukan hanya harta dan tahta serta pandangan orang semata menilai kita, Mira! Aku hanya ingin bahagia, bersama denganmu sampai hari tua. Tinggal ditempat yang sejuk dan damai. Jauh dari keramaian. Hanya suara gelak tawa kita dan anak-anak serta cucu-cucu kita! Itu saja impianku, Mira!


Salahkah aku memimpikan rumah tangga yang seperti itu?


Rahman menangis sesegukan dibawah siraman shower kamar mandinya. Sementara Mira masih meraung-raung didalam selimut tebalnya.


Sedang dikamar belakang, suara musik cadas terdengar keras dari dalam kamar Ahmad yang pusing mendengar lagi keributan antara kakak dan kakak iparnya itu.


Malam merayap perlahan. Dan semua penghuni rumahpun terlelap setelah 'kelelahan'.


Keesokan hari, semua bangun dengan wajah terlihat pucat tak bergairah.


Mira memasak nasi goreng untuk suami dan adiknya. Ketiganya sarapan pagi mode on kalem semuanya. Bahkan Mira juga tak banyak bicara seperti biasa hingga Rahman dan Ahmad pamit berangkat ketempat tujuan masing-masing.


Mira kesal pada Rahman. Tapi sejujurnya suaminya itu tidak salah juga. Justru hati kecilnya mengakui, ialah disini yang bersalah. Tapi apa daya. Keegoisannya lebih tinggi dari rasa keinginannya meminta maaf lebih dulu pada Rahman.


Setidaknya, menyenangkan perutnya dengan nasi goreng buatanku akan mampu meluluhkan amarahnya kak Rahman yang semalam.


itu fikirannya.


Dan ia juga sengaja pulang lebih cepat dari kantor sebelum suaminya pulang kerja.


Taktik ini Mira ambil, agar Rahman mengizinkannya untuk ikut pemotretan besok di Puncak. Ia sudah sangat senang bahkan mengkhayalkan dirinya bakalan banyak job pemotretan.


Lagipula ini bukan pemotretan yang tanda kutip. Ini foto biasa saja, dengan gaun dan pakaian biasa. Bukan pakaian seksi apalagi hot mini. Untuk itu suaminya harus menyupportnya.


"Kak! Aku buat bubur sumsum nangka! Coba deh, cicipin... Enak ga?"


"Makasih yang!" jawab Rahman hanya singkat saja. Matanya masih terus berfokus pada buku yang dibacanya. Ia tengah duduk menikmati malam setelah maghriban diteras rumahnya.

__ADS_1


Mira hanya memanyunkan bibirnya dibelakang suaminya.


"Kak!"


"Hm?"


"Kakak!"


"Apa sayang?"


"Tuh khan!? Giliran aku pulang cepat, aku malah dicuekin!" gerutu Mira kesal.


Rahman menghentikan kegiatan membacanya. Matanya memandang teduh wajah Mira.


"Maaf, Mira! Sini. Duduk sini!" Rahman menarik tangan Mira dan memangku istrinya. Membuat Mira diserang kepanikan lalu bangkit dari paha Rahman dan memukul-mukul pelan bahu suaminya.


Rahman tertawa kecil. Ia bisa membaca gerakan manja Mira.


"Besok aku boleh ya, ikut pemotretan?"


"Hm?"


Rahman menatap netra Mira. Mengangguk sambil tersenyum simpul.


"Boleh? Beneran boleh? Sungguh?... Asiiiiiik..... yeaaaay, makasih kakak! Muacht, muacht.... Love you suamiku!"


Mira memberikan Rahman simbol finger heart. Lalu Rahman berpura-pura mengikuti dan menaruh finger heart-nya kekantong kemejanya.


"Ish, ditaruh dikantong cintaku!" protes Mira membuat keduanya tergelak.


Malam ini suasana adem tanpa debat. Membuat Mira bersenandung bahagia sibuk memasukkan alat-alat make up dan baju ganti untuk ia gunakan besok di Puncak.


Pagi menjelang seperti biasa. Mira memasakkan dulu Rahman spagetty bolognese untuk sarapan. Baru ia berdandan siap-siap menunggu jemputan Vicky dan kak Meynar.


"Lho? Kakak masuk kantor juga hari ini?"

__ADS_1


"Engga' koq!"


"Tapi koq dandan rapi? Ada janji sama klien?"


"Ga juga!"


"Lho terus? Mau kemana?"


"Sarapan dulu, yang!" Rahman menarik kursi makan untuk istrinya duduk.


Mira terlihat agak linglung kebingungan. Sementara Rahman terlihat asyik dengan makan paginya yang ala kebarat-baratan itu.


Tin tin tiiin


Klakson mobil kantor menjemput Mira.


"Meynaaar, masuk dulu siniii! Kalian mau ngopi dulu?" Rahman bergegas keluar menemui mantan bawahannya itu.


Ya. Meynar dulu juga bawahannya bersama Ella. Meski dengan Vicky ia tak kenal, karena Vicky baru masuk setelah Rahman hengkang dari SOFTELLA.


"Boss! Gimana? Ready boss?"


"Always ready dong!"


"Jadi,... jadi kak Meynar juga mengajak kak Rahman?"


"Lho? Bu Mira belum tahu kalau boss Rahman ikut kita juga?"


"Kakaaaaak!!!!!"


"Ya iya lah! Masa' istriku perdana pemotretan, aku ga ikut support! Ayo Mira, kita berangkat sekarang! Takutnya keburu siang, jalan arah Puncak nanti bakalan macet parah!"


Mira menatap wajah suaminya. Ada rasa kesal tapi juga senang disana. Melihat suaminya kini justru mendukung langkahnya menjadi model dadakan.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2