
"Ngapain sih orang itu masih terus menempel kamu macam hantu?" rungut Ramzy kesal menghampiri Adel. Ditangannya tergenggam dua lembar tiket bioskop.
"Huss...orang koq dibilang hantu!"
"Pengen ngerasain jotosan aku kayaknya!"
"Uluh, uluuuh! Pacarku ternyata tukang pukul juga ya,... punya andalan jotosan!"
Ramzy diam dengan wajah ditekuk. Tak menjawab candaan Adel yang menurutnya garing parah. Dan dia masih kesal dengan si tukang jaket kulit itu.
"Malah tadinya Adel punya rencana besar lho mas! Mau jodohin bang Rahman sama kak Ella!"
"Apa???"
"Tapi ternyata bang Rahman punya seseorang yang ia kejar sejak masih muda dulu!"
"Iya, syukur. Emang udah tua dia!"
"Maaasss!! Jangan gitu laaaah! Biar gimana pun, bang Rahman baik sama Adel. Ga pernah jahat juga kurang ajar macam-macam!"
"Apaan!!! Dia pernah meluk kamu! Aku liat pake mata kepalaku sendiri!"
"Kapan? Ih? Ga pernah!! Hoaks itu!"
"Haa... Ngelak. Ga mau ngaku!" Adel menatap Ramzy lekat-lekat. Dan Ramzy menantang tatapannya.
"Kapan?"
"Didepan gedung samping kantor! Dia merangkul kamu. Memang sebentar! Tapi itu pelukan! Dan aku ga rabun, apalagi ngarang ya!"
"Oooh....hahahaha... yang ituuu! Itu karena Adel mau jatuh. Ditangkap sama bang Rahman. Kalo engga', Adel lebih malu...nyuksruk trotoar dijalan raya!"
"Heleh, alesan!"
"Beneran. Sumpah! Demi Tuhan!"
Ramzy melengos. Kesal mengingat tubuh gadis idaman hatinya itu berada dalam pelukan pria lain.
"Maaf, mas! Itu masa lalu. Dan memang seperti itu ceritanya. Adel ga bohong!" Adel mengelus-elus pundak pacar tercintanya. Berharap kemarahan Ramzy berkurang dan luluh oleh kata-kata tulusnya.
"Kita pulang deh, kalo mas badmood!"
"Ish, rugi banget! Masa' badmood gegara tukang jaket kulit kucel sialan itu!"
"Maasss iiiiih...hahaha plis kondisikan amarahnya! Jangan sampe ngomong bablas kasar gitu ah!"
"Awas kalo kamu berbuat begitu lagi sama dia!"
"Ya Tuhan, maaaassss!! Engga'laaah!"
Malam minggu ceria. Bagi muda mudi yang penuh cinta.
Berbeda dengan Ella. Yang setiap malam hanya alunan musik berbagai genre menemaninya melewati pergantian waktu.
Seperti saat ini. Ponselnya memutar lagu-lagu dari aplikasi favoritnya. Dan kali ini pilihannya adalah pop balada.
__ADS_1
Tring.
Ponselnya menerima pesan What'App. Ditengoknya. Dari dokter Prita.
Hai, sayang...sedang apa?
Ella mengeryit. Mungkinkah dokter yang telah ia anggap kakak itu salah mengirim pesan?
Ini aku Prita, Ella sayang. Lagi berperan sebagai kakak😅🙏
Hm. Ella tersenyum.
...[Santai mbak😅 tumben-tumbenan]...
Mas Juan dinas keluar kota😢aku kesepian
...[😅...sini kerumah]...
Ga bisa keluar. Mona udah bobo'
...[mmmm]...
Besok makan siang diluar yuk?
...[boleh. Sebenernya aku juga ada niat main lagi ke klinik entah lusa atau kapan]...
Wah, senangnya
...[Besok ketemuan dimana? Tempat biasa?]...
...[OK]...
Itulah Ella. Dan dokter Prita lebih paham Ella lebih suka di chat ketimbang ditelpon langsung. Feel-nya lebih 'dapet' katanya tempo hari.
Mereka janji makan siang bersama direstoran langganan mereka jika sedang berperan sebagai kakak adik.
"Sendirian? Ga ajak Galuh sama Mona?"
"Mereka sama Eyang Kungnya. Ga mau kuajak, La!"
"Hehehe... biasanya anak-anak lebih dekat sama kakek neneknya ya ketimbang mama papanya!"
"Ember!"
Kedua wanita muda itu tertawa santai.
"Lama ya, kita ga ketemuan diluar profesi!" kata dokter Prita.
"Iya. Aku sibuk. Dept store buka banyak cabang dibeberapa tempat. Alhamdulillah. Cukup berpengaruh pada jabatanku mbak!"
"Uhuy, Manager nih ya sekarang!"
"Hehehe...."
"Kangen Ella. Dulu kita sering nongki bareng ngobrol santai macam begini!"
__ADS_1
"Iya. Kesibukan membuat kita jauh. Hehehe... Tapi baru aku mau ketempat mbak lagi. Ada yang mau aku ceritain! Agak serius soalnya!"
"Bisa cerita disini?" Prita kaget. Dadanya berdebur kencang. Apa ini soal Rahman? pasien barunya yang sepertinya ada hubungannya dengan kasus Ella? tebak hati kecilnya.
"Soal cowok bejad itu!" Ella menundukkan kepalanya. Menarik nafas panjang, lalu menghempaskannya dengan perasaan kesal.
Prita menelan salivanya. Benar tebakannya.
"Ada apa?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Ia menampakkan batang hidungnya! Anehnya aku justru lemas gemetar, takut bukan kepalang. Padahal aku ingin menghabisinya dengan tanganku sendiri. Setidaknya menghajarnya habis-habisan! Tapi,..... aku malah lari kencang. Menghindar tak ingin bertemu iblis jahanam itu lagi!"
Prita menarik nafas pendek. Mengelus-elus punggung tangan Ella. Berusaha memberinya dukungan.
"Andaikan ada pertemuan lagi, bagaimana reaksimu Ella?" selidik dokter Prita.
"Tidak akan ada pertemuan lagi! Dan kini aku bersumpah, tidak akan mau melihat wajah iblis itu lagi apalagi berurusan dengannya!"
Hhhh.... Prita menghela nafas. Bersyukur ia mendengar dulu ceritanya Ella. Tak langsung menceritakan apa maksud tujuannya mengajak Ella makan siang.
"Tidak ingin bertemu pria jahat itu? Setidaknya mengungkapkan amarahmu padanya, memukul atau kalau perlu menyeretnya ke penjara untuk mengurangi beban mentalmu sayang?" Dokter Prita masih berusaha menyelidik.
"Aku sudah tidak memiliki hasrat lagi untuk menghancurkannya, mbak! Mungkin karena usiaku sudah bukan remaja lagi. Apalagi setelah pertemuan kemarin itu, aku justru melemah ketakutan. Jangankan membalas dendam,... aku malah terpuruk kesakitan sendirian. Padahal dia sepertinya berteriak-teriak mengejarku. Entah apa maunya lagi!"
Prita mengangguk-angguk, mensupport cerita Ella yang kadang berapi tapi kadang melemah.
"Semangat, sayang! Mbak akan selalu mendukung langkahmu! Dan kalaupun kamu ingin menjebloskan pria itu ke jalur hukum, mbak siap mendampingimu!"
"Terima kasih, mbak! Aku senang sekali, memiliki kakak seperti mbak Prita. Dokterku tersayang. Entah apa jadinya aku, tanpa dokter!"
Prita menggelengkan kepalanya.
"Kamu gadis kuat yang hebat. Kamu punya semangat tinggi untuk hidupmu yang penuh masa depan impian, Ella!"
"Masa depan apa! Masa depanku sudah hancur, mbak! Bisa hidup normal dan tenang seperti ini sudah merupakan anugerah buatku!" Prita mengangguk senang. Bibirnya menyunggingkan senyuman setengah bulan sabit.
"Kamu tidak berniat mencari pria bejat itu?"
"Tidak lagi. Dan tidak ingin mencari lagi!"
"Oke! Mari kita tutup obrolan serius kita dengan obrolan santai. Eh, teman mas Juan ada yang minta dicarikan calon istri, La! Mau ga kenalan?"
"Ya ampuuuun hahaha... Ga bosen-bosennya kalian menawarkanku kenalan!"
"Ini jomblo berkualitas, La! 29 tahun, perjaka. Orangnya ganteng. Mau ya, mau ya....?"
"Hahaha.... emoh! Ga minat dulu!"
"Kenalan dulu aja! Siapa tau cocok khan?!?"
Ella mencubit jemari dokter Prita pelan sambil tertawa lepas. Obrolan santai mereka berlanjut kesana kemari tak lagi jelas arahnya.
Begituan betina. Kalau sudah klop, menggosip dan mengghibah kesegala arah.
💕BERSAMBUNG💕
__ADS_1