
Adel kikuk. Diperhatikan begitu seksama oleh boss tengilnya. Berkali-kali wajah kakunya menahan nafas yang ingin ia keluarkan bersama uneg-uneg kegelisahannya.
"Kenapa? Ga punya pengalaman kerja ya? Jadi salting sendiri?"
"Maaf boss! Saya gugup karena diperhatikan boss!"
Boss nya itu tertawa senang sekali. Tapi kemudian mendengus. Tangannya menjawil dagu Adel dengan agak kasar.
"Kau pikir aku tertarik karena memperhatikanmu? Hah?!?.... Aku hanya tidak ingin takarannya salah. Dan kau harus faham seleraku!"
Adel diam. Merutuk dalam hati betapa arogannya boss tampannya yang tengil itu.
"Bawa kekantorku!"
Adel mengangguk. Berjalan pelan dibelakang tubuh boss Ramzy yang semampai.
Sungguh Tuhan begitu Maha Karya menciptakan tubuh pria sesempurna boss Ramzy. Adel mengakui betapa bagusnya badan bossnya yang proporsional itu. Sesekali matanya memandang tubuh boss yang berjalan didepannya.
Sayangnya, etitude dan karakternya menenggelamkan kharisma ketampanannya. Apalagi kalau sudah berkata-kata. Nyelekit bagai walang sangit.
Belum lagi mimik muka ketus dan juteknya yang selalu bikin Adel geram. Ingin sekali mencucus mulut boss Ramzy yang nyerocos bagaikan petasan dibulan puasa itu.
Hhh....!!!
"Pergilah keruang pantry. Bawakan aku biskuit non kolesterol kesukaanku. Dan juga, ganti pakaianmu dengan seragam. Aku tidak suka ada kesenjangan sesama karyawan OB!" perintahnya santai tapi bikin sesak dada Adel.
Ugh! Jitak enak kali ya!? Gerutu Adel dalam hati.
Seperti titahnya, Adel keluar ruangan segera. Mencari biskuit pesanan atasannya dengan malas-malasan.
Satu persatu karyawan OB dan cleaning service berdatangan. Adel mulai menebarkan pertemanan.
Untungnya gadis itu tipikal orang yang sangat mudah bergaul. Bahkan sangat pandai membawa diri. Membuatnya tidak kesulitan sama sekali untuk memulai pertemanan.
__ADS_1
Meski pagi hari begitu berat bebannya, tapi siang menjelang sore Adel mulai bisa menerima kepuasan atas kinerjanya sendiri.
Lumayanlah untuk pemula dihari pertama. Hari ini ia sibuk membersihkan toilet-toilet bersama dua rekan wanitanya. Nengsih dan Diana.
Toilet kantor tidak kotor. Bahkan cukup nyaman untuk mereka bertiga ketawa-ketiwi sambil ghibah sana sini. Mulai dari film sampai berita pembunuhan ditelevisi. Mereka cepat akrab karena satu frekuensi.
Membuat waktu berjalan dengan cepat dan Adel mulai merasa kerasan dihari pertamanya itu.
Jam istirahatpun Adel dan Nengsih mendapat banyak orderan pesanan dari para karyawan kantor yang menitip pesanan makan siangnya karena malas pergi makan keluar.
Alhasil cukup lumayan pundi-pundi Adel dari tips para karyawan yang baik hati. Bisa ia gunakan untuk ongkos naik bis pulang nanti.
Entah kemana boss Ramzy. Adel tak melihatnya lagi. Dan itu merupakan anugerah buat Adel, karena ia tidak lagi merasa tertekan karena perintah boss tengilnya yang arogan.
Pukul 4 sore jam pulang kantor. Hampir mirip jam bubar kelas disekolahan.
Para karyawan berdesakan di mesin absen untuk mencatat jam kepulangannya. Meski begitu, tak sedikit karyawan yang masih stay karena harus lembur akibat menumpuknya pekerjaan.
"Adelia Wilhelmina! Karena kamu masih percobaan, kamu diwajibkan lembur. Tugas kamu bisa untuk disuruh fotocopi ataupun buat minuman karyawan yang lembur!" bu Darmi menepuk pelan punggung Adel seraya berkata dengan suara khasnya.
"Ini perintah pak Ramzy, Del! Maaf ya.... Hehehe!" Bu Darmi tersenyum pada Adelia.
Hhhh...... Baru saja ia ingin bernafas lega. Perintah boss Ramzy lagi-lagi membuat sesak dadanya.
"Baik, bu!"
Adel kembali keruang loker. Mengganti lagi pakaiannya dengan seragam kerjanya. Yakni setelan berwarna oranye berplat putih. Agak mirip seragam pemadam kebakaran. Bedanya seragam pemadam kebakaran sejenis wearpack. Membuat Adel memicingkan matanya lagi.
"Adelia!"
"I..iya boss!"
"Tolong buatkan kopi untukku!" kata boss Ramzy yang entah darimana tiba-tiba sudah berdiri dibalik pintu pantry.
__ADS_1
"Baik boss!"
Adel kembali seperti dejavu. Merasakan kegugupan untuk kedua kalinya karena harus mengantar kopi keruangan bossnya yang arogan.
"Permisi boss!"
Boss Ramzy hanya berdehem. Matanya sibuk kelaptop dan lembaran-lembaran kertas penuh angka-angka. Ternyata direktur juga pekerjaannya berat ya!?
"Tolong kamu belikan stabilo ditoko ATK yang ada diseberang kantor!"
"Baik, pak eh boss!"
"Pak, pak, pak! Sudah kubilang, aku bukan bapakmu!"
"Maaf boss! Warna apa boss? Berapa biji?"
"Matamu sebiji!!! Aku belum perintah, kamu sudah nyerocos tanya! Sabar! Jangan nge-gas sama atasan! Tidak sopan!!!"
Yaelah boss... Perasaan siapa yang ngegas! Sensi amat sih? Persis emak-emak kurang duit belanja dipertengahan bulan. Bawaannya marah-marah melulu! Dasar boss arogan! Boss mah bebas kali ya, marah-marah sesuka hatinya!
Adel mematung. Menunggu perintah boss tengilnya lagi tanpa bicara.
Satu menit, sepuluh menit,... lima belas menit.
Lha? boss!... Mana uang juga perintahnya?
Adelia menelan salivanya.
"Boss!"
"Apa bas bos bas bos? Jangan ganggu! Aku lagi ngitung angka ini!"
Hah?!?!
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•