
Rahman menurunkan tubuh Ella di jok depan mobil dokter Prita. Ia menyibakkan rambut Ella yang terburai diwajahnya.
"Jangan! Biar saya sa,"
Terlambat.
Mata Rahman membelalak menatap wajah Ella yang pucat. Bibirnya bergetar sambil bergumam, "Nona ini, gadis yang kucari!"
Dokter Prita langsung menarik tubuh Rahman hingga mundur kebelakang. Ia bergegas merapikan posisi tubuh Ella juga wajah dan rambutnya.
"Dokter!"
"Stttt.....!!! Kumohon tenanglah untuk saat ini, mas!" Dokter Prita menghardik Rahman yang langsung terdiam.
Dokter menutup pintu mobilnya pelan. Menarik nafas pendek lalu menatap wajah pria berusia 32 tahun dihadapannya itu yang masih menunggu penjelasannya.
"Dokter,"
"Saya tahu, kalian berkisah yang sama. Tapi saya mohon,.. untuk saat ini, redam dulu perasaan mas mengungkapkan semuanya. Mbak Ella sedang berduka. Adik satu-satunya baru saja meninggal dunia. Saya mohon, mas mengerti! Beri Ella waktu! Saya khawatir, jika mas datang disaat yang tidak tepat,... Ella bisa kena tekanan jiwa!"
Rahman menatap lekat wajah dokter Prita. Menelaah setiap perkataannya, lalu menunduk dan mengangguk.
"Mas pulanglah! Saya takut, Ella sadar dan melihat mas! Bisa membuatnya semakin histeris. Maafkan saya bertindak kurang sopan! Saya hanya tidak ingin Ella kenapa-napa! Selama ini dia sudah cukup menderita karena kejahatan yang mas lakukan padanya!"
__ADS_1
Rahman semakin menunduk. Malu pada dirinya sendiri. Juga pada kelakuan bejatnya dahulu.
"Saya akan mempertanggungjawabkan semuanya. Bahkan jika harus mendekam dipenjara sekalipun. Saya bersedia menikahi nona Ella. Saya ingin bertanggung jawab, dokter!"
"Iya. Tapi tidak sekarang ya mas! Biarkan dulu Ella tenang! Dia masih shock adiknya meninggal!"
"Adelia adiknya Ella?"
Dokter Prita terkejut. Rahman ternyata mengenal Adel.
"Adelia adalah sahabat saya satu-satunya. Dialah orang sekaligus gadis yang mengetahui diri saya luar dalamnya! Saya tak percaya, kini Adel sudah ga ada! Dan ternyata, gadis yang saya cari-cari selama ini adalah kakaknya. Hik hik hiks...."
Dokter Prita menarik Rahman. Menjauh dari mobil. Takut tiba-tiba Ella sadar dan mendengar isak tangis Rahman.
"Hhhh..... Saya juga masih ga percaya! Semua terjadi begitu cepat, mas! Ini Takdir Yang Maha Kuasa. Sama seperti mas Rahman dan Ella! Ya udah, mas... saya ga mau ambil resiko lebih besar! Tolong mas pergi! Nanti saya kabari kalau saya ada pertemuan dengan Ella! Biar kalian bisa bicara empat mata!"
"Iya dok? Janji ya dok?"
"Iya. Saya janji! Tapi saya ga janji, menjadi penengah kalian! Karena saya ada dipihak Ella sebagai korban. Dan kemungkinan mas masuk penjara semakin besar. Mas siapkan mental dan diri saja!"
"Iya dokter! Saya siap apapun itu. Saya akan mempertanggungjawabkan perbuatan saya!"
Rahman pamit. Meninggalkan area pemakaman dengan guratan luka dihati.
__ADS_1
Luka yang banyak. Luka yang dia lakukan sendiri. Luka masa lalunya akibat perbuatannya sendiri.
Ia menyesal. Sangat menyesal. Masa mudanya sia-sia karena sifat kekanak-kanakkannya. Sementara, dimana teman-teman yang dulu setia mendukungnya. Ternyata hanya ada untuk diri mereka sendiri dan juga kesenangan mereka.
Bahkan mereka hanya datang untuk memeras dirinya yang beruang. Setelah itu, semua hilang bagai ditelan bumi. Tak ada yang mau membantu apalagi membagi beban.
Rahman menyesali hidupnya yang salah pergaulan.
Tapi semua telah terjadi. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Apa mau dikata, semua telah menjadi nyata.
Bagai hidup dalam sekam, dirinya dihimpit penderitaan atas perbuatannya dimasa lalu. Ia tidak tahu, selama ini ia hanya hidup mengikuti alur. Mencoba meluruskan kembali jalan hidupnya yang sempat hancur.
Ya. Setelah kejadian itu, papa mamanya meninggal dunia karena kecelakaan pesawat. Ia sendiri, hidup sebagai pemuda kaya raya yang dikelilingi teman-teman yang terus mengajaknya berfoya-foya.
Hingga ia jatuh miskin dan menggelandang cukup lama di jalanan ibukota. Tapi tak ada yang mau membantunya setelah ia hancur berkeping-keping.
Mungkin itu adalah karma yang harus ia bayar akibat perbuatan kejinya pada Ella.
Syukurnya, ternyata papanya masih menyimpan saham terbesarnya di brankas bank negara. Dan semuanya cair tepat disaat umurnya 25 tahun. Hingga kini ia bisa berdiri kembali. Membangun dan meneruskan kerajaan perusahaan orangtuanya.
Dan pengalaman hidupnya dulu, ia jadikan pelajaran. Membuatnya tak ingin terlihat memiliki kekayaan karena pasti banyak teman mendekatinya.
Itu sebabnya penampilannya biasa saja. Bahkan terkesan kucel dan dekil. Dan ia memang tak tertarik untuk berteman dengan asal-asalan. Kecuali teman sejati yang tulus dan berjuang dari nol atas pencapaiannya. Dan menerima dirinya apa adanya.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•