PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
AJAKAN YANG DITOLAK


__ADS_3

"Maukah Mira ikut kakak ke Surabaya? Kita buka lembaran baru disana!" Rahman mengungkapkan keinginannya pada Mira.


Mira hanya diam terpaku menatap suaminya itu. Bingung dan kaget pada opsi yang Rahman ajukan.


"Surabaya?"


"Ya. Kita bangun rumah disana! Kita buat peternakan dan perkebunan organik disana. Mira setuju?"


"Hhh... Haruskah kita pindah kak?"


"Kakak nanya Mira ini. Tapi sebaiknya kita coba usaha baru disana!"


"Disini usaha online Mira mulai berkembang kak! Juga teman2 bisnis Mira semua disekitar sini. Kalau kita pindah, Mira takut ga bisa beradaptasi dilingkungan baru kak! Belum lagi urusan sekolahnya Ahmad! Harus ke departemen pendidikan urus ini itu karena pindah kota. Ribet kak!"


"Intinya Mira mau ga?"


"Mmm.... Mira lebih suka disini kak! Jangan pindah ya!?"


Rahman hanya menatap wajah Mira dengan pandangan kosong. Bingung. Harus bagaimana supaya Mira mengerti dan mengikuti ajakannya.


Tapi Rahman juga mengakui, ucapan Mira ada benarnya. Semua yang Mira bilang tak ada yang salah.


"Kak Ella kah yang ingin kita menjauh dari dia?"

__ADS_1


"Bukan Mira! Ella ga sejahat itu juga. Tapi kakak yang memang berniat menjauh dari ibukota."


"Kenapa? Apa hubungan kakak dan kak Ramzy merenggang?"


"Bukan juga! Hhhh..... Memang dulu kakak punya rencana tinggal dipedesaan. Menikmati hidup menuju masa tua yang! Kakak udah lama beli tempat disana. Sebelum kita menikah malahan! Kakak pikir, Mira juga bisa memulai usaha baru nantinya!"


"Kak!.... Bukan Mira ga ngikut kata suami! Tapi,... pindah jauh, lalu memulai usaha baru.... apa kita tak terlihat senekad itu? Apa karena kak Ella tak suka kakak lalu berusaha menyingkirkan kakak? Dan kita harus pergi jauh agar tidak terlihat darinya?"


"Mira please! Tebakanmu terlalu jauh melenceng!"


"Tebakan Mira benar khan kak?"


"Salah, sayang! Bukan seperti itu!"


"Ya, Mira salah kemaren karena begitu sembarangan menanyai hal yang paling kak Ella benci. Tapi bukan berarti kita harus menyingkir agar tidak mengganggu kehidupannya khan kak? Lagipula,... masalah masa lalu, itu terjadi juga bukan keinginan mendasar kakak memperkos*nya dengan niat dan sengaja dengan perencanaan. Mengapa kak Ella separah itu membenci kakak? Aku sendiri,... keperaw*nanku direnggut pacar pertamaku tapi bukan berarti harus hilang dari muka bumi juga khan kak! Setidaknya, kita harus tunjukkan kalau kita tidak hancur meski memang hancur khan!?"


Ia termangu. Lama terdiam.


Mira seperti menyadari, kalau kata-kata yang keluar dari bibirnya itu adalah kata-kata yang salah. Dia segera memegang lengan Rahman.


"Maaf kak! Maaf, bukan...maksudku bukan begitu! Mohon jangan salah faham pada apa yang Mira ucapkan tadi!" Mira meralat ucapannya.


Rahman kadung meresapi dan memilih diam. Hanya senyumnya mengembang tipis membuat Mira sedikit tersenyum lega.

__ADS_1


Rahman mengerti Ella. Kebencian Ella dan juga dendam yang tak mudah hilang kepadanya. Tapi Mira, padahal sesama wanita, yang pasti biasanya satu rasa satu jiwa, tapi Rahman kaget Mira memiliki pemikiran seperti itu.


Mira memang masih muda. 22 tahun usianya. Tapi perjalanan hidup Mira juga tak mudah. Mira berjuang untuk mendapatkan semuanya dengan tetesan keringat dan kerja yang sangat keras. Pasti Mira memiliki empati yang besar, seharusnya.


Rahman jadi tak habis fikir, pada tata cara berfikir Mira yang begitu sederhana. Masalah keperaw*nan, masalah hal prinsipil sebagai seorang wanita.


Tapi,


Ah...sudahlah! Mungkin Mira hanya asal jeplak ngomong aja! Tanpa pikir panjang karena usianya yang belum dewasa. Hhh....


Rahman mengelus rambut istrinya yang menggelendot mesra didadanya.


"Kak! Maaf, aku tadi salah bicara!"


"Ya sudah! Lain kali jangan bilang seperti itu sayang! Apalagi kalau Mira berbicara dengan orang lain, perhatikan kata-kata yang akan Mira ucapkan. Takutnya bisa menyinggung perasaan orang yang Mira ajak bicara! Ya sayang?"


"Hehehe... iya kak, iya maaf!"


"Makan mie kayaknya enak ya Mir? Bikin dong, yang pedes yang!"


"Siap boss! Chef Mira meluncur kedapur! Hihihi... ish, jangan nakal deh!"


Rahman merangkul tubuh Mira dari belakang. Tangannya iseng meremas lembut gunung kembar istrinya yang kenyal dan membuatnya tersenyum senang.

__ADS_1


Sementara Mira tersenyum lega. Suaminya hatinya sedang adem sehingga tidak terpancing keributan diantara mereka. Uufffh.


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2