
Rumah tangga itu ya rumah dan tangga. Hehehe.....
Rumah, kalau tak kita rawat dengan baik, perlahan tapi pasti cat, lampu bahkan perabotnya semakin suram dan pudar.
Tangga, untuk naik dan turun. Maksudnya, naik ketika kebahagiaan melingkupi hati kedua pasutri itu. Dan turun disaat keduanya sedang penat, jenuh, letih dan lelah untuk tetap berpegangan hingga terpaksa rehat melepas genggaman tangan demi intropeksi diri bagi suami istri itu sendiri.
Hhhh.....
Mira dan Rahman telah kembali ke ibukota. Meski telah sepakat pindah ke kota Surabaya, tapi masih banyak urusan yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu.
Setidaknya sebulan atau dua bulan mereka membereskan pekerjaan masing-masing agar segera tuntas dan bisa melenggang meninggalkan ibukota.
Mira mengajak Ella bertemu di sebuah resto ditengah kota. Setelah Ella meminta izin Ramzy, akhirnya ia mendapatkan me time nya untuk mengobrol berdua Mira.
"Kakaaak!"
"Asiiiik, yang baru pulang dari honeymoon! Hehehe...!"
Mereka bercipika-cipiki, senang karena bisa bertemu.
"Hihihi....kak Ella bisa aja!"
"Oiya, makasih ya untuk oleh-olehnya! Sampai dipaketin. Hehehe....!"
"Sama-sama kak! Oleh-oleh kampung buatan pabrik sendiri. Hehehe...!"
__ADS_1
"Keren kalian! Punya banyak pabrik juga di Kingdom!"
"Kak Ella tahu? Hihihi jadi malu Mira nih!"
"Mas Ramzy yang cerita koq!"
"Kak!... Rencana kami akan pindah 3 bulan lagi. Pendapat kakak gimana? Tolong dong kasih Mira saran, kak!?"
"Hmmm... Terus SOFTELLA bagaimana?"
"Kak Rahman sedang buka penawaran untuk jual saham dirapat para pemegang saham minggu ini! Mira sekarang ikuti pendapat suami aja, kak!"
"Wah, Mira beneran mau pindah ke Surabaya? Hhh... Rafa Rafi kalau kangen tante cantik nanti harus sowan ke Surabaya dong ya?"
"Hehehe... Kakak bisa main ketempat kami kak!"
"Eh? Rafa Rafi pernah kesana?"
"Lah, khan waktu sebelum mama meninggal dunia, kami menginap disana hampir 3 minggu! Mira ga tahu? Oh iya, maaf....aku waktu itu lagi depresi berat karena baru tahu Adel ternyata adalah saudara tiriku! Rahman menyarankan mas Ramzy untuk membawaku kesana untuk menyepi. Maaf Mira, kalau aku dan Ramzy kesana tanpa pamit padamu!"
"Ga papa, kak! Mira ngerti koq! Kak Rahman sudah cerita semuanya. Mira sekarang faham perasaannya. Dia memang sangat pemalu dan pendiam. Bahkan untuk dirinya yang penuh kelebihan pun kak Rahman tak berani cerita. Kecuali waktunya pas buat dia cerita ke Mira."
Ella tersenyum. Senang melihat pribadi Mira yang kini mulai berubah.
Baru saja Ella bernafas lega. Wajah Mira tiba-tiba terlihat pucat.
__ADS_1
"Kenapa Mira?"
"Kak Ella! Kak Ella kenal dokter Astari?"
"Dokter Astari?"
"Kata kak Rahman, kak Ramzy lah yang merekomendasikan dokter spesialis wanita itu pada kak Rahman."
"Mmmmh.... Lupa aku, Mir! Mas Ramzy pernah cerita ada seminar dengan para dokter dan nakes disalah satu rumah sakit swasta. Kenapa?"
"Tengok kebelakang! Kak Rahman sedang makan siang dengan dokter cantik itu!"
"Hah?!?"
Ella menoleh, kearah yang ditunjuk Mira dengan matanya.
Memang disana terlihat Rahman dan seorang wanita tengah makan siang sambil bercanda bercengkerama. Bahkan terlihat akrab satu sama lain. Tidak ada kecanggungan.
"Aku gak suka lihat pemandangan ini!" kata Mira pelan dengan wajah tertunduk.
Wajahnya terasa panas dan matanya mulai berkaca-kaca. Membuat Ella menghela nafas pendek mengkhawatirkan keadaan Mira yang sedih terbakar cemburu.
"Sst....Mira! Jangan menangis. Jangan membuat dirimu rendah juga! Ayo! Kita temui mereka! Oiya! Apa suamimu telepon atau ngasih kabar, kalau dia ada jadwal temu makan siang sama klien?"
"Ga, kak! Kak Rahman ga bilang dan telepon sama Mira untuk itu!"
__ADS_1
"Ayo, ikuti aku! Ga papa khan, kita temui mereka yang sedang makan siang juga! Khan itu suamimu!" tutur Ella mengajak Mira bangkit dari kursinya menyambangi tempat duduk Rahman dan Astari.
đź’•BERSAMBUNGđź’•