
"Allaahu laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyuum. Laa ta' khuzuhu sinatuwwalaa nawm... Lahu maa fissamawati wamaa fil ardh. Man dzallazii yashfa'u 'indahu illaa bi inznih. Ya'lamumaa bayna aidiihim wamaa kholfahum. Walaa yuhiyytuu na bi syay-im min 'ilmih. Illaa bimaa sya'a. Wasi'a kursiyyuhussamaa waati wal-ardh. Walaa ya-uuduhu khifdzuhumaa wahuwal'aliyyul'adziim...."
Ayatul Kursi yang Ramzy dawangkan beberapa balik ia persembahkan untuk kesehatan Ella.
Airmatanya bercucuran seiring kesedihan hatinya yang sangat galau. Takut terjadi sesuatu pada Ella, istrinya tercinta.
Setelah menelpon dokter Prita, hatinya sedikit lebih tenang. Dan atas saran beliau jugalah, ia mengambil wudhu, membaca kitab suci.
Dokter Prita bilang, ia adalah garda terdepan dari pemulihan batin Ella. Otomatis ia harus tegar dan kuat. Tidak boleh banyak bertanya apalagi menyelidik sebab musabab istrinya tertekan jiwanya. Cukup temani dan berikan banyak cinta dan kasih sayang. Pasti Ella bisa pulih seperti sediakala.
Ella bangun dari tidurnya. Sayup-sayup terdengar suara Ramzy mengaji. Dan ia sudah hafal betul pelapazan suaminya itu. Karena ia lah yang menuntun dan mengajarkan Ramzy sholat juga mengaji.
Jatuh airmatanya. Tangan Ramzy hendak ia gapai.
"Mas!"
"Ella! Alhamdulillaah.... terima kasih ya Allah!" Ramzy kaget tapi bahagia. Dilipat dan ditutupnya buku yassin ditangannya. Ia beranjak segera merangkul istrinya.
"Mau minum sayang? Hm? Haus ya?... Mau makan sesuatu? Ada roti sobek kesukaanmu, yang! Apa mau roti sobek yang ini? Kasihan roti sobek yang ini.... jarang dibelai!"
"Ih, Mas Ramzy nih!"
"Hahaha.... kenyataan yang!"
__ADS_1
Ramzy memeluk istrinya dengan berurai airmata bahagia. Ella telah kembali kesadarannya.
Ella seperti merasakan sakit disanubari Ramzy. Ikut menangis juga ia akhirnya. Keduanya menangis tersedu-sedu dengan tubuh saling berangkulan. Tapi tanpa kata. Hanya hati mereka yang bicara. Karena jiwa mereka telah mengerti satu sama lain.
Cukup lama Ramzy dan Ella tenggelam dalam kesedihan mereka. Hingga perlahan terlepas semua beban yang menghimpit hati keduanya.
Ella menyandar didada bidang Ramzy dengan hati lebih lapang.
"Rafa dan Rafi kangen maminya yang!" kata Ramzy pelan seperti bisikan.
Jatuh lagi airmata Ella bercucuran.
"Maafkan aku ya mas! Aku bukan ibu yang baik! Aku telah mengabaikanmu dan anak-anak kita! Aku tidak tahu harus berbuat apa, selain sesak nafasku dan ingin kuakhiri penderitaan ini!"
Ramzy menyusut airmata Ella. Ia biarkan istrinya mengeluarkan semua uneg dan kekesalan dihatinya. Hanya anggukan pengertian saja. Dan mata saling pandang dengan iringan butirannya dipipi masing-masing.
"Huaaaaaaa hik hik hiks.... Huaaaaaa,... maafkan aku mas! Maafkan kekhilafanku kemarin maaaaaas!" Ella kembali menangis merangkul tubuh Ramzy.
Sungguh ia tak memikirkan semuanya itu kemarin. Ia hanya ingin kesakitan hati dan penderitaannya berakhir. Ia tak ingin merasakan beban batin yang begitu berat dipundaknya itu kemarin siang.
"Selama aku masih hidup, jangan pernah berfikir dirimu menderita sendiri, Ella! Ada aku. Ada suamimu ini yang selalu siap mendengar keluh kesahmu! Seperti halnya kamu, yang selalu ada buat aku,. Dan kalau kau sampai berfikir hidupmu tidak ada yang menyayangi. Lalu aku ini apa, yang? Tidakkah kau fikirkan aku kedepannya?"
"Kamu bisa menikah lagi. Kalian para lelaki bisa dengan mudahnya berganti cinta. Selama ada yang bisa kalian sayangi dan menyayangi kalian. Seperti papa,.... Papa sangat mengecewakanku mas! Kamu pun, jika ingin berbagi, katakanlah dari sekarang. Jangan bilang cinta, tapi hatimu tidak. Jangan bilang sayang, tapi perasaanmu ada ditempat lain!"
__ADS_1
"Ella!.... Aku mengerti kamu kecewa pada papa. Aku faham, kamu sakit hati dengan perbuatan papa dimasa lalu. Tapi itu masa lalu sayang! Semua orang punya masa lalu yang kelam. Semua orang pasti pernah salah jalan dan terperosok. Seperti kita juga. Punya banyak cerita suram, yang tidak ingin siapapun mengorek-ngoreknya.
Kumohon, jangan bahas papa! Karena papa juga pasti memiliki luka dihatinya yang tidak ingin ia ungkap pada kita. Dan kita ini adalah anak-anaknya. Tugas kita mendoakan kedua orangtua kita. Karena doa kitalah, mereka bahagia. Dan kitapun kita telah jadi orangtua. Kita juga pasti mengharapkan anak-anak kita menjadi anak sholeh yang rajin mendoakan kita kebaikan."
Ella memeluk erat tubuh suaminya. Sangat erat, hingga Ramzy sedikit kesulitan bernafas dan melonggarkan pelukan Ella.
"Kamu tahu Ella? Kamu jauh lebih beruntung dari aku! Kenapa?...." Bola mata Ramzy berkaca-kaca menatap netra indah milik Ella. Jatuh satu persatu meleleh dipipinya.
"Kamu punya mama yang bagaikan malaikat. Yang melindungimu dari kamu kecil hingga saat ini. Kamu sangat bahagia dimasa kecilmu. Sedang aku?... Aku ini lahir dikeluarga tentara. Sejak kecil dididik militer oleh papa juga mama. Masih sangat kuingat, ketika masih balita.... Aku jatuh dan menangis, tapi bukan mendapatkan kata penghiburan dari papa mama. Tapi justru omelan dan pukulan. Kata mereka, bangun.... jangan cengeng! Laki-laki tidak boleh cengeng! Itu hardikan mereka. Dengan suara keras dan lantang papa. Dan mama tak pernah sekalipun membela. Hanya diam seolah membenarkan tindakan papa."
Ella mengusap punggung suaminya. Berusaha menghibur lewat sentuhan tangannya. Meski ikut bercucuran airmata mendengar Ramzy bercerita.
"Lalu, masih kuingat betul. Ketika kelas 4 SD. Aku pulang sekolah dengan menangis dan wajah babak belur karena berkelahi satu lawan satu dengan teman sekolahku. Papa malah menimpukku dengan sandal kulitnya yang berukuran 44 itu. Dan ujung bibirku robek seketika berlumuran darah. Mama hanya mencuci mukaku. Tanpa banyak kata ia mengoleskan betadine diwajah dan ujung bibirku. Lalu aku ini dianggap apa? Bagaimana perasaanku saat itu? Padahal aku adalah penerus tunggal dari pemilik perusahaan besar. Dan aku anak semata wayang! Tapi jauh dari kasih sayang kedua orangtuaku."
"Kamu tahu Ella? Ketika aku terpuruk karena bibi Sumi meninggal dunia. bibi Sumi adalah asisten rumah tangga yang bekerja dirumah kami sejak aku masih bayi. Mama dan papaku justru mengirimku sekolah ke Boston sana. Dengan alasan agar aku cepat move on melupakan kesedihanku kehilangan bi Sumi yang selalu merawatku. Aku,..... aku semakin hancur disana. Aku,... harus menerima kenyataan pahit sepanjang hidupku. Seolah aku mendapat kutukan dari penyihir jahat. Yang menyihirku sehingga tidak ada orang yang menyayangiku seumur hidupku Ella!
Bayangkan....! Aku yang introvert, dingin dan kesepian. Bagaimana orang lain menyayangiku sedang kedua orangtuaku sendiri seolah membenciku. Mengabaikanku, dengan dalil mereka sibuk mencari uang untuk masa depanku.
Kamu lah yang merubah hidupku menjadi seperti sekarang ini. Aku kini bahagia karena hidup bersamamu! Jadi, bagaimana aku bisa menggantimu dengan perempuan lain semudah ucapanmu tadi, Ella sayang? Hik hik hiks!"
Ella mencium pipi Ramzy setelah jemari mungilnya mengusap lelehan airmatanya.
Kedua suami istri itu merapatkan tubuhnya. Seolah menyatu dalam jiwa. Kini airmata duka menjadi airmata bahagia. Berharap saling melengkapi dan saling menutupi kelemahan kekurangan satu sama lain.
__ADS_1
Berjanji dalam hati akan selalu menyayangi dan saling mengingatkan dalam segala keadaan.
đź’•BERSAMBUNGđź’•