
Ramzy dan Rahman saling berpandangan. Bibir mereka kelu dan kaku. Bagai mimpi, Adel berdiri dihadapan mereka.
Gadis yang pernah hadir dalam kehidupan mereka. Terlihat kini tengah menatap bergantian tak mengerti pada mereka berdua.
"Maaf pak! Saya adalah Agnes Maharani. Mahasiswi jurusan Manajemen Keuangan Semester 6 di Kampus Milenia Kota, pak! Maksud kedatangan saya mengganggu bapak-bapak Direktur berdua karena ingin mengajukan permohonan magang diperusahaan bonafid ini. Mohon saya diizinkan magang, bapak-bapak yang terhormat!"
Ramzy hampir lupa mengambil nafas dan Rahman nyaris lupa berkedip. Keduanya seperti rendevous di masa lalu. Dimana Adelia Wilhelmina masuk kekehidupan mereka. Menari-nari diotak dan perasaan mereka berdua. Hhhh....
"Permisi, pak Teuku Ramzy? Pak Rahman? Bagaimana? Apa saya boleh magang disini?"
"Ah eh... mmm.. ya! Boleh!" Ramzy merah wajahnya. Tersadar ia akan lamunannya. Sementara Rahman menatapnya karena telah menerima Agnes magang dikantornya.
"Boleh saya lihat CV mu?" tanya Rahman mengambil alih. Jantungnya berdebar kencang ketika Agnes menyodorkan sebuah map berwarna biru muda.
Berisi surat keterangan dari pihak kampus dan beberapa lembar fotokopi ijazah SMU serta fotokopi surat-surat berharga lainnya.
"Kamu sebaiknya membantu saya dibagian laporan penerimaan data import eksport, Agnes! Mari ikut saya!" Rahman langsung menempatkan Agnes bekerja sama dengan karyawannya dilantai 4. Membuat Ramzy mengeryitkan dahinya.
"Dia bisa kutempatkan di HRD mengurus database personalia bersama pak Robert, Man!" tutur Ramzy membuat Rahman yang baru bangkit dan hendak keluar ruangan Ramzy langsung menoleh.
"Karyawanku dibagian pemetaan sedang kekurangan orang, Zy! Maaf, orangku lebih butuh Agnes ketimbang orangmu! Ayo Agnes!"
Agnes menunduk hormat pada Ramzy. Izin pergi meninggalkan ruangan mengikuti Rahman.
__ADS_1
Ramzy hanya bisa menatap punggung keduanya yang perlahan menghilang seiring ditutupnya kembali pintu ruangannya.
Hhhhh.... Adelia. Apakah reinkarnasi itu ada? Astaghfirullaah.... Kenapa gadis bernama Agnes Maharani itu begitu mirip denganmu? Bahkan nyaris sangat mirip, dari ujung kaki sampai ujung kepala.
.....
Rahman dan Agnes memasuki kotak lift tanpa suara. Menekan tombol angka 4 dan lift meluncur keatas. Sesekali Rahman melirik Agnes. Meyakinkan dirinya kalau gadis yang berdiri disampingnya itu benar-benar sangat mirip Adel.
"Berapa usiamu, Agnes?"
"Ah, 21 tahun pak!"
"Hm! Domisili dimana?"
"Kamu, tinggal dipanti asuhan?"
"Iya. Saya yatim piatu sejak usia 4 tahun. Dan saya tinggal disana sampai dengan hari ini. Hehehe... Maaf pak, bukan bermaksud mendramatisir kehidupan saya ya pak! Karena meskipun saya yatim piatu, saya bahagia koq!" tutur Agnes, semakin mengingatkan Rahman pada Adelia. Hhhh.....
"Tidak. Saya juga yatim piatu, sejak umur 18 tahun tapi."
"Oh, maaf pak! Ternyata kita satu server hahaha... upss, maaf!"
Gaya bicara Agnes juga mirip Adel. Suka bercanda dan agak nyeleneh. Tapi ternyata ada perbedaan, kisah hidup mereka pastinya.
__ADS_1
"Suka duka tinggal dipanti asuhan itu pasti banyak ya, Nes?!"
"Pastinya pak! Alhamdulillah, lebih banyak sukanya kalau saya. Hehehe!"
Pintu lift terbuka dilantai 4. Mereka keluar dan berjalan beriringan. Hingga beberapa orang menoleh dan agak terkejut. Karena hampir dari separuh karyawan diruangan ini, rata-rata mengenal Adelia. Almarhumah Adelia tepatnya. Karena Adel juga pernah bekerja dilantai 4 dibagian divisi Lapangan. Berbeda ruangan saja tapi dilantai yang sama.
"Selamat pagi menjelang siang semuanya!"
"Pagi eh siang pak!" serentak karyawan Rahman menimpali ucapan salam boss mereka.
"Mulai hari ini, diruangan ini, bagian penerimaan data import eksport kita mendapat partner baru yang sedang magang. Perkenalkan, namanya Agnes masih mahasiswi semester 6. Jadi saya mohon, kerjasama kalian untuk membimbingnya disetiap langkah kerjanya! Terima kasih atas dedikasi kalian semua untuk memajukan perusahaan RAMA CORP. ini!"
"Agnes, silakan kamu berbaur dengan yang lain! Di divisi ini tidak ada gep apalagi senior junior, kecuali kekeluargaan yang erat. Jadi yang muda harus menghormati yang tua, yang tua menghargai yang muda. Selamat bekerja!"
Rahman meninggalkan Agnes dan kembali ke ruang kerjanya.
Hhhhh.... Ia menarik nafasnya panjang. Hampir lupakan Mira, istrinya tersayang karena setengah jam-an bersama Agnes Maharani. Uuufffh...
Cobaan apa lagi ini! Hhhh.... Jantungku beneran berdebar kencang. Dan kuyakin si Ramzy juga merasakan hal yang sama. Karena tadi kulihat pucat pasi wajahnya. Ya Allah ya Tuhanku.
Rahman bergumam dalam hati. Semua ini bagaikan mimpi baginya. Memang cukup lama ia tak menyambangi makam Adelia. Setelah pamitannya yang hendak pindah ke Surabaya.
Tapi ternyata Tuhan memiliki rencana. Akhirnya ia bertemu Mira dan berjodoh hingga menikah. Sama sekali hidup yang tak bisa ia bayangkan.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•