PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
HAMPIR NA'AS


__ADS_3

Malam ini malam ketiga mereka tinggal bersama. Meski tercatat sebagai sepasang suami istri, dan keduanya berusaha menjaga sikap untuk berbuat baik satu sama lain, bukan berarti mereka lantas sering berduaan apalagi berdekatan.


Tidak.


Keduanya tetap cuek dan dingin. Ramzy hanya melihat Ella sebagai kakak kekasihnya begitupun Ella, hanya memandang Ramzy yang seharusnya menjadi adik iparnya.


Mereka seperti kompak menjaga jarak, walaupun nyaris jarang konflik akhir-akhir ini.


Untuk makanpun mereka lebih memilih jalan masing-masing. Membeli makanan dan makan terpisah tak lagi berbarengan.


Bahkan Ramzy kadang pergi keluar, hanya dengan meninggalkan memo yang ditempel di pintu lemari es.


Ella pun tak peduli dan biasa saja. Karena memang dari awal ia juga Ramzy sepakat, tidak ingin mencampuri urusan masing-masing.


Seperti saat ini. Pukul 3 dini hari. Ella terbangun dari tidurnya karena rasa dahaga yang menyerangnya.


Perlahan ia keluar kamar. Gelap dan hening.


Semua lampu memang dimatikan dimalam hari kecuali ruang-ruang tertentu seperti dapur dan kamar mandi. Menghemat listrik kata Ramzy.


Krek......


Glek glek glek......! Suara air yang diteguk Ella terdengar jelas dimalam sunyi.


Ella mencium bau sesuatu dari lorong dapur yang panjang dan agak kecil. Tajam dan menyengat.


"Uhuk, uhuk, uhuk...!" Ia terbatuk karena baunya yang membuat dadanya sesak.


Bau gas. Entah gas darimana ini. Apakah dari tabung gas dapur???? Tapi dimana tabung gasnya? Ella mencari-cari.

__ADS_1


"Uhuk, uhuk... Ramzyy, Ramzyyyy!!"


Gubrak!


Ella terkulai lemas. Ia pingsan setelah menghirup gas yang banyak keluar dari arah dapur tanpa sempat menemukan sumber gas itu berasal.


Ramzy yang ada diruang sofa kaget mendengar suara gaduh dari arah dapur. Ia mendatanginya dan ternyata,


"Uhuk...uhuk...! Gas bocor!"


Ia segera berlari kearah dapur melangkahi Ella yang tertelungkup dilantai. Menarik tuas penutup jaringan gas dan seketika, byuuuuur.......... flavon dapur juga ruangan sekitarnya menyemprotkan air secara otomatis.


Ramzy membopong Ella yang masih terkulai dilantai. Dibawanya Ella kekamar.


"Ella, Ella.... bangun, Ella! Ella plis bangun Ella!"


Ramzy berlari kekotak obat yang ada diruang sofa. Mencari minyak angin, alkohol atau apapun yang berbau menyengat agar bisa menyadarkan Ella dari pingsannya.


"Ella!" Akhirnya ia inisiatif dengan memberikan CPR pada wanita yang berstatus istrinya itu. Dihembuskannya nafasnya pada mulut Ella agar Ella mendapatkan bantuan pernafasan dari oksigen yang ia berikan.


Masih belum bereaksi. Semakin panik ia.


"Ella, come on! Please....!!!! Bangun Ella!" isak Ramzy mulai berkeringat dan gemetar gugup.


Ditekannya dada Ella sebelah kiri agak gemetar. Kembali ke arah mulut Ella yang ia beri lagi nafas bantuan.


"Uhuk, uhuk, uhuk...!!!"


Hhhh.... Ramzy menghela nafas lega. Dipeluknya Ella yang masih sangat lemah tapi sudah siuman itu.

__ADS_1



"kamu baik-baik aja! Tenanglah!" Ramzy merangkul Ella yang terisak karena tersadar dirinya hampir menjelang pintu kematian.


"Makasih, Zy!" tuturnya pelan. Suaranya parau. Ella shock pada kejadian tadi. Hampir saja nyawanya melayang karena ada kebocoran gas dari jaringan gas apartemen.


"Kamu aman sekarang! Semua baik-baik aja!" Ramzy masih berusaha menenangkan Ella. Berkali-kali ia mengusap punggung dan rambut Ella lembut.


"Ga akan kebakaran khan? Udah dilaporkan kepihak apartemen?"


"Udah aku matikan aliran gasnya di tuas yang mengalir dari pusatnya. Tenang aja! Hehehe.... Besok aja kita urus dapurnya! Oke?"


Ramzy memeluk Ella berbaring diatas ranjang tidur. Saling memberi kehangatan agar kembali tenang. Sampai kesadaran mereka berdua benar-benar pulih dari rasa panik, membuat keduanya perlahan saling melepaskan diri dan bergeser menjauh.


Mereka berbaring sama-sama menghadap langit-langit kamar. Dengan perasaan gamang dan serba salah.


Bahkan tak mampu mengeluarkan kata barang sekecappun dari bibir mereka. Saking malu dan gugupnya mereka.


"Maaf, kalau aku terlihat kelewat batas tadi!" Akhirnya Ramzy mengeluarkan suara. Ella menggeleng cepat. Tapi tak berani menjawab.


Bibirnya ingin sekali mengucap, "Tidurlah disini..." tapi hatinya malu juga ragu.


Sedang Ramzy, yang juga terdiam mematung, berusaha berfikir keras....bagaimana caranya ia bisa bicara, "Boleh malam ini aku tidur disini? Karena ruang sofa ikut banjir karena semprotan otomatis yang langsung keluar ketika terdeteksi akan kebakaran."


Keduanya hanya diam membisu.


"La!"


"Zy!"

__ADS_1


Tiba-tiba keduanya berbarengan saling menyebut nama.


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2