
"Jika kau memiliki dendam pada seseorang. Hilangkan segera. Hapuskan dendammu itu! Karena dendam yang kau simpan dalam hatimu, bisa jadi mendarah daging dan terus menerus menggerogoti masa depanmu yang kau ingin bahagia."
.....
🎶Kubuka album biru....
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil, bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang...
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riyawatku
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Nada-nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Tak kan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku selalu dimanja
__ADS_1
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh Bunda ada dan tiada dirimu
'kan selalu ada didalam hatiku🎶
Lagi-lagi tangis Ella pecah, ketika lantunan lagu Melly Guslaw mengalun indah dari musik mobil suaminya.
Hari ini ia pergi ke pasar tradisional bersama mbok Surti dan juga 2 orang kerabat almarhumah mama. Rencana mereka akan berbelanja kue-kue untuk tahlilan tujuh harian kepergian mama.
Bukan suatu kewajiban memang mengadakan tahlilan. Tapi bagi Ella sekeluarga, tahlilan adalah tradisi yang biasa mereka jalani jika ada keluarga yang meninggal dunia. Tiada maksud berpesta pora makan minum merayakan kepergian dari orang tercinta. Tapi hanya untuk menghormati para tamu, kerabat dan sahabat, yang telah datang mendoakan mendiang tercinta. Itu saja.
Didepan pasar swalayan, Ella berpapasan dengan Agnes tanpa sengaja. Ini hari Sabtu. Otomatis Agnes juga libur kerja. Jadi Agnes dan adik pantinya membantu bunda Utami dengan membagi tugas dan ia kebagian tugas kepasar.
"Kak Ella!"
"Agnes!"
Ella langsung merangkul tubuh Agnes yang lebih mungil dari tubuhnya. Tangisnya pecah lagi.
Ia tak bisa membenci Agnes, meskipun ibu kandung Agnes adalah madu mamanya.
Baginya justru Agnes juga adalah korban dari ketidakberdayaan papanya melawan kenistaan keluarga ningratnya dimasa lalu. Hhhh....
"Kak Ella!?" Agnes terpaku bengong menatap wajah manis kakaknya. Ia menyadari, jika Ella telah tahu kisah kelam masa lalu mereka.
Agnes menangis terisak lagi setelah kembali memeluk Ella. Tak banyak kata yang keluar dari bibirnya. Selain banjir airmata dan hatinya yang tak henti-henti berdawam asmaul husna.
Mama tidak pernah mengajarinya untuk membenci orang. Apalagi membenci saudara sedarahnya sendiri.
Mereka hanyalah manusia-manusia pilihan Tuhan yang kuat. Yang Tuhan pilih untuk mendapatkan nasib buruk ini.
Kini Ella hanya ingin nasib buruk keluarganya berubah menjadi nasib baik. Yakni dengan perlahan mengubah dirinya yang selalu penuh kecurigaan dan fikiran-fikiran negatif.
Ia kini hanya ingin membangun 'sugesti' yang positif. Ia hanya akan berfikir yang baik dan mengharap balasan kebaikan pula.
Karena jika jiwa kita selalu bersih dari noda fikiran buruk, yakin dan percaya jalan hidup yang terjal dan berbatu perlahan mulus beraspal dan langkahnya menjadi ringan.
Dengan selalu ingat pada Tuhan tentunya. Dan menjadikan nasib buruk sebagai bahan pelajaran. Hingga ia tak lagi terjatuh dan terjelembab ke lubang yang sama. Itulah jalan pemikirannya sekarang.
Membuatnya akhirnya bisa menerima Agnes dengan lapang dada. Bahwa ia dan Agnes adalah saudara. Dan tinggal papa kini yang harus mereka hormati serta bahagiakan.
__ADS_1
....
Sementara Ramzy yang telah kembali ke kantor setelah 7 hari kepergian mama mertuanya kepangkuan Illahi.
Seperti yang telah Rahman rencanakan,.... pagi itu ia mendatangi ruangan Ramzy untuk berdiskusi masalah perusahaan pastinya.
Keadaan cukup genting juga. Karena 2 tender mega big terlepas dari tangannya sebagai orang yang dipercaya Ramzy mengurusnya ketika Ramzy berlibur bersama istrinya di Surabaya.
"Cukup banyak juga ya Man, kerugian yang kita alami." Ramzy mengerutkan dahinya setelah mengetahui angka nominalnya yang gagal mereka raih di 2 tender super besar itu.
"Hhhh.....! Dan aku sudah mengetahui jelas orang-orang dibalik semua ini. Tapi satu orang itu sudah seminggu tak masuk kantor. Dan orang itu adalah pamannya Agnes Maharani, karyawan magang didivisiku."
"Agnes!? Berarti orang itu pak Robert?"
"Iya."
"Apa Agnes bekerja setiap hari seperti biasa? O iya. Bukannya 2 minggu lagi masa magangnya habis ya? Kalau tak salah Agnes izin magang 3 bulan saja?"
"Iya, betul. Agnes tetap bekerja seperti biasa. Sepertinya gadis itu tidak tahu sepak terjang licik pamannya!"
"Apa perlu kita panggil dia sekarang? Untuk mengorek keterangan dari Agnes lebih detil?"
"Aku rasa sebaiknya jangan! Biar saja Agnes bekerja tanpa ada tekanan sampai berakhir masa magangnya. Cukup kita panggil saja pak Robert dan Ryan asisten pribadimu itu!"
"Hhhhh.... okey! Aku masih tak sangka, Ryan menyerangku dari belakang! Secara Ryan adalah asiatenku setelah Bayu. Bahkan bayu juga dulu 'menusuk'ku secara brutal dengan 'bercinta' dengan Bianca pacarku dulu!"
"Woow! Speechless juga aku! Ternyata kamu mendapatkan kutukan dalam memilih asisten!"
"Seingatku Ryan tidak pernah mengecewakanku, Man! Meski ia terlihat mulai menjauh sejak aku menikah."
"Jangan-jangan Ryan juga ada hati pada Ella, who knows!?"
"Tapi setahuku Ella tak mengenal Ryan sebelumnya, begitupun sebaliknya."
"Hehehe hanya tebakan! Siapa tahu, Ryan mengidolakan Ella yang dilihatnya pertama kali disuatu tempat. Hahaha.. maaf, kalau aku memprovokasimu! Sudahlah, sekarang semua sudah kuceritakan. Keputusan ada ditangan boss besar! Aku mendukung apapun keputusanmu!"
"Oke, thanks bro! Aku akan fikirkan nanti jalan keluarnya. Setelah ini kita eksekusi!"
"Sip! Aku permisi!"
"Yap. Thanks again Man!" Rahman keluar dari ruangan Ramzy. Tinggal Ramzy yang termenung mengangguk-angguk memikirkan caranya dia menegur Ryan dan Pak Robert.
__ADS_1
💕BERSAMBUNG💕