PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
ROMANTIKA RUMAH TANGGA


__ADS_3

Tuut tuut tuuut


Mira,


[kakaaak.... kamu dimana? kenapa ga mau angkat teleponku? Sebegitu bencinya kah kakak padaku]


Maaf, Mira. Bukan begitu, dek!


[plis pulang kak! Aku ga mau kita begini terus! Hik hik hiks... Pulang kaaak]


Baik Mira, kakak pulang. Sudah jangan menangis terus! Kakak pulang sekarang! Assalamualaikum....


Rahman menutup telepon panggilan Mira. Ia menarik nafas pendek menyadari kesalahannya.


Berat sebenarnya ia berbuat begini. Tapi tadi ia juga diliputi amarah karena tindakan Mira yang mempermalukannya sebagai seorang suami. Tanpa izinnya ia pergi bertemu Ella, lalu bertanya hal-hal yang sangat sensitif dikehidupan Ella. Meskipun Mira memang tak terlalu salah karena Mira sama sekali tidak tahu, tapi Rahman ikut terseret kena malu dimata Ella dan Ramzy, dicap sebagai suami yang tak becus mendidik istri.


"Assalamualaikum!"


Rahman membuka pintu rumahnya. Tak terkunci meski terlihat sepi.


"Kakaaaak!" Mira keluar dari kamarnya. Menghambur memeluk tubuh suaminya itu.


"Maafin kakak, Mira!"


"Huhuhuuuu.... Kemana tadi kakak pergi? Kenapa telepon Mira ga dijawab-jawab? Hik hik hiks!"


Rahman menggandeng Mira. Memeluknya sambil berjalan dan duduk disofa. Mencium kening istrinya agar mereda tangisannya.


"Udah, udah.... Jangan nangis terus, yang! Malu nanti dilihat Ahmad! Udah!" Diusapnya pundak dan bahu Mira. Berusaha menenangkan Mira kini adalah tugasnya.


"Jangan gitu kenapa ish! Kalo kita lagi ribut jangan pergi! Harusnya kakak rangkul Mira, tenangin Mira... bukannya pergi!"

__ADS_1


"Hahaha... aduh Mira sayang! Masa' kalau dua-duanya panas harus diam ditempat, kompor meleduk dong nanti!"


"Iiiih.... malah becanda! Hik hik hiks!"


"Bukan becanda, adek! Ini beneran! Kalo satu panas, satu harus dingin. Nah kalau dua-duanya panas, salah satu harus menyingkir dulu! Bukan pengecut melarikan diri, bukan! Justru menghindar gelap mata jadi membabi buta, bisa KDRT ujungnya."


"Ya Allah, jangan!"


"Makanya....! Kakak harus pergi dulu biar ga meledak karena tadi kakak juga panas. Mira lebih panas juga! Ya kacau kalau kita tetap bertahan dengan ego masing-masing!"


Mira memeluk suaminya dengan perasaan bahagia. Lepas semua beban yang tadi mendera batinnya. Berharap semoga tiada wanita lain dihati Rahman menggantikan dirinya.


Rahman mengelus-elus kepala Mira. Sebenarnya ia begitu mencintai Mira. Bahkan kini tulus dari dalam hati. Tiada yang lain. Hanya Mira seorang saja.


"Kakak lapar? Udah makan belum?"


"Belum makan seharian! Hiks punya istri entah adat-adatan terus!"


"Hahaha iya sih, aku sebenarnya emang pengen marahin kamu Mira! Tapi ternyata kamu lebih marah sama aku. Hahaha.... aku jadi susis, suami takut istri!"


"Hahaha... mana ada suami takut istri gelas kopi melayang?"


"Belum tau ya Mira, ada teman kantorku...piringnya dirak bisa terbang semua!"


"Hahahaha.... besoknya belanja lagi beli piring berdua! Ish, ga boleh gituuu!!!"


"Hahaha... iya sayang, iyaa! Bikinin nasi goreng dong yang! Beneran lapar ini! Sebelum ngobrol serius isi perut dulu. Biar ada tenaga buat lempar lemari! Hahaha.... aduh, ih,... nyubit-nyubit pinggang!"


"Kak, apa Mira ini istri yang galak?" tiba-tiba Mira bertanya yang membuat Rahman tersenyum.


"Menurut pendapat Mira sendiri, bagaimana?"

__ADS_1


"Mira khan tanya pendapat kakaaak! Iiih...!!!"


"Hahahaha... Tuh khan, bisa dilihat sendiri khan jawabannya!"


Harum aroma masakan nasi goreng buatan Mira membuat Rahman merangkul tubuh istrinya itu dari belakang.


"Kamu tau, kamu selalu bisa menyenangkan hati kakak, Mira! Ini... Harum wangi nasi goreng ini aja udah bikin kakak bahagia!" goda Rahman membuat istrinya merengut dipenuhi fikiran-fikiran yang sebenarnya tak penting.


"Jadi cuma masakan Mira yang bikin kakak bahagia? Begitu?"


"Tuh khan, salah faham lagi, salah faham lagi! Malesin ah! Udah ah kabur lagi ah!"


"Kakaaaaak!!!"


"Hahaha.... Tapi bo'ong!! Isiin dong yang, udah matang belum?"


"Ya ampun, kasihannya suamiku sampai kelaparan ya? Maaf ya kak, aku akhir-akhir ini agak sulit diatur ya? Hehehe... maaf ya, maafin aku kak!"


"Iya nih, entah kenapa ya... istriku sekarang lebih cepat marah padahal pernikahan kami baru 3 bulan lebih sedikit nona! Sebaiknya nona gantikan saja jadi istriku ya, karena istriku itu galak dan pemarah!"


"Hahaha... kasiannya!"


Malam itu, pukul 10 malam mereka bercanda ria didapur rumah mereka. Hampir lupa kalau siang tadi mereka bertengkar hebat. Bahkan gelas sempat melayang dan Rahman sempat minggat.


Begitulah, romantika rumah tangga. Kadang pahit kadang manis. Kadang nyelekit kadang legit. Sering ribut tak jarang lembut.


Hhhh.... Rahman hanya memandangi istrinya betapa ia menyayangi Mira meski kadang Mira juga menyebalkan.


Keduanya makan malam dengan sepiring nasi goreng dimakan berdua. Saling menyuapi, lupa akan permasalahan tadi. Bahkan Rahman lupa pada niat awalnya untuk ngobrol serius dengan Mira.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2