PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
POV AGNES MAHARANI


__ADS_3

Bagai petir dihari terik. Bagai mimpi disiang bolong. Waktu Subuh kak Ella menelponku.


Kakak kandungku yang kini sangat kusayangi dan kubanggakan, memberiku kabar yang tak kusangka-sangka.


Dengan isak tangisnya yang terdengar sedih dan memilukan, kak Ella mengatakan.... kalau papa telah tiada.


Papa?!?.... Papa yang mana?... Papa kita??? Papaku???? Papa yang selama hampir dua bulan ini selalu memberiku semangat lewat chat-chat?? Papa yang baru saja berduka karena mama telah dipanggil Yang Maha Kuasa???


Papa?... Papaaaaaaaa.........


Tiba-tiba aku limpung. Seperti orang yang bingung. Menangis pun tak bisa. Hanya tatapan kosong, hampa tak ada bayangan apa-apa.


Papa.


Sejak kecil aku tidak mengenal papa. Setahuku, mama bilang pada bunda Utami kalau beliau adalah janda yang ditinggal mati suami. Bunda Tami lah yang merawatku dan mama sejak usiaku 4 tahun.


Aku sendiri lupa-lupa ingat wajah mama. Selain hanya bisa melihat difoto yang ada kami bertiga, yang bunda simpan dibuku albumnya.


Aku bagaikan mimpi indah ketika ada seorang pria paruh baya, mengaku sebagai papaku. Dan wanita berhati mulia, yang mengiyakan bahkan merengkuh tubuhku dalam pelukannya.


Pelukan yang hangat dan nyaman.... Padahal wanita itu adalah madunya mama. Dan dialah yang menguatkan aku karena malu menerima kenyataan bahwa mama adalah istri mudanya papa.


Hik hik hiks..... Mama kak Ella begitu baik padaku. Setiap hari beliau juga menchatku. Menanyai kabarku, bahkan mengirimiku barang-barang baru seperti selimut motif barbie, juga sprei-sprei cantik beraneka warna. Entah terbuat dari apa hatinya. Begitu suci dan mulia. Dan beliau juga selalu meminta aku untuk bersabar. Menunggu hari 'perkenalan'ku pada kak Ella sebagai adik seayahnya.

__ADS_1


Ternyata, Tuhan memiliki rencana lain. Aku faham kegalauan hati kak Ella, ketika mengetahui...ada wanita lain dihidup papa tercintanya. Yang tak lain dan tak bukan adalah mamaku. Dan ada anak lain yang dilahirkan madu mamanya, yakni aku.


Hhhh..... Kudengar dari mama papa, kak Ella teramat marah sampai.... sampai melakukan hal yang... yang begitu.....begitu tragis dan hampir nyawanya melayang jika tidak ada gerak cepat suaminya, pak Ramzy.


Hiks......


Aku mengerti perasaan kak Ella. Andai aku jadi dia,... mungkin tindakanku lebih frontal. Mungkin aku akan mencak-mencak memarahi anak dari wanita yang telah mengambil separuh hati papanya. Tapi kak Ella tidak seperti itu. Justru kak Ella lebih menyakiti dirinya sendiri. Hik hik hiks..... Itu yang membuatku semakin respek dan kagum padanya.


Terlebih juga dukungan penuh dari suaminya yang terlihat begitu mencintainya sepenuh hati.


Aku mengagumi keduanya. Sangat sangat kagum. Entah apakah aku akan bisa mendapatkan pasangan sesempurna kak Ramzy?... Tampan, baik hati, pekerjaan mapan, bahkan beliau adalah seorang anak pebisnis besar yang namanya cukup sohor didunia intertainment dan para pengusaha retail dinegara ini.


Hhhh.... Aku mulai sedikit menjauh. Guna menjaga perasaan kak Ella. Yang pastinya sangat sakit. Meskipun aku tidak tahu detail kisah hidup mamaku dan papa, hingga bisa mereka menikah atas izin mama Naina. Tapi sebagai sesama perempuan...aku mengerti. Dan aku faham, yang namanya 'pelakor' tetaplah 'perebut laki orang'. Walau kenyataannya, sampai akhir hayat, mama tidak 'merebut' papa. Bahkan mengaku sebagai janda yang ditinggal mati suami. Aku yakin, mama menyimpan luka dan duka juga. Hingga ia menyebut dirinya seperti itu. Dan bunda Utami mempercayai semua perkataan mama dengan merawatnya juga aku.


Kubaca tulisan dari kartu ucapan yang tertera, dari Bryan Alif Pratama. Bagaikan desiran ombak disiang hari dipantai lepas. Begitu tenang dan mendebarkan. Dia mengucapkan kata singkat saja. "Selamat Hari Kasih Sayang"


Dan aku tak berani mengartikan lebih dari datangnya buket bunga ini. Tak berani berkhayal karena kutahu siapa diriku. Juga siapa Bryan.


Tiba-tiba papa menelponku. Menangis terisak diseberang, mengatakan kalau mama jatuh dari kamar mandi. Dan masih tak sadarkan diri.


Mama Naina! Wanita berhati emas itu! Wanita setengah malaikat itu! Terbaring lemah diranjang tidur rumah sakit dengan berbagai alat bantu yang membuatku menangis.


Aku tak mengerti, mengapa rasa sakit ini begitu menghujam hati? Cinta mama Naina padaku, begitu tulus dan mampu mengalahkan banyaknya waktu juga cinta yang bunda Utami berikan padaku.

__ADS_1


Airmataku tak bisa berhenti mengalir. Aku menangisinya. Mengharapkan mama kembali sadar dan tersenyum lembut padaku. Aku ingin ia kembali pulih seperti sediakala.


Kak Ella datang, dan aku hanya bisa sembunyi-sembunyi untuk menjenguknya. Aku hanya melihatnya dari kejauhan. Mendoakan mama cepat siuman dan kembali sehat.


Tapi Tuhan berkata lain. Mama dijemput sang Pemilik, membuatku merasa betapa kejamnya nasib ini mempermainkanku. Sedang kak Ella masih belum terima aku adalah anak papa juga. Dan aku menjaga perasaannya. Aku mengikuti prosesi pemakaman mama Naina juga dari kejauhan saja.


Dan aku menjenguk papa sesekali tanpa sepengetahuan kak Ella. Karena aku faham dan sangat mengerti kondisi hati serta perasaannya.


Hanya sujudku saja, pada Allah Ta'ala. Berharap keadaan ini membaik dan kak Ella tidak membenciku.


Hingga doaku dikabul. Kak Ella memelukku erat dipasar tradisional, ketika tanpa sengaja kita berpapasan. Kata-katanya menyejukkan. Menyuruhku sering-sering menengok papa dirumah.


Entah, saat itu rasanya Tuhan begitu baik padaku. Menangis kami saling berangkulan. Aku bahagia, meski harus banyak airmata dan kehilangan yang menyakitkan.


Kak Ella menerimaku sebagai adiknya juga. Alhamdulillah.


Tapi, kebahagiaan itu belum lama kunikmati. Papa.... papa kini telah pergi juga. Disaat Bryan sudah mengungkapkan rasanya padaku. Bryan ingin mengenalku lebih dekat. Dan ingin mencoba ta'aruf denganku.


Tapi papa.... papa telah tiada. Apakah masa depan indah yang kuharapkan akan kujelang jua? Apakah kebahagiaan hidupku teramat sulitnya untuk kucapai sedang kulihat diluar sana orang-orang begitu mudahnya mendapat kebahagiaan bahkan menghempasnya begitu saja.


Sedang aku,... untuk sebuah kebahagiaan. Seolah harus kutukar dengan kesedihan dan penderitaan.


Hhhh......

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2