
"Saya mohon, bapak-bapak berdua adalah pria dewasa yang waras dan sehat jiwa raga. Jadi..., bersikaplah selayaknya pria dewasa. Yang bisa menjaga martabat dan nama baik kalian semua, untuk menjaga ketentraman dan kenyamanan seluruh para penghuni perumahan kita yang tercinta ini!"
"Jadi, berhentilah bertingkah bagaikan bocah SMA yang hobi tawuran. Kalau ada masalah, bisa diselesaikan secara baik dan kekeluargaan saja. Jangan main hantam, main hajar bleh! Saya tak segan mengusir kalian berempat jika sampai masih berkelahi seperti tadi!"
Keempatnya dipersilahkan pulang kerumah masing-masing karena adzan maghrib berkumandang. Sebelumnya mereka juga diperintahkan untuk saling bersalaman dan meminta maaf satu sama lain.
"Ayo, salaman. Pak Ramzy ikuti ucapan saya! "Pak Rahman, saya minta maaf, mari kita lupakan kejadian tadi." Ayo pak Ramzy!"
"Dia dulu yang membuat masalah dengan istri saya!" kata Ramzy dengan nada sengit.
"Iya, tapi bapak yang lebih dulu mengeluarkan bogem mentah khan?"
"Ya udah, saya minta maaf karena telah membuat pak RT turun tangan!" kata Ramzy sementara Rahman hanya diam menunduk.
Keempatnya pulang kerumah masing-masing dengan berjalan kaki sekitar 500 meter lebih dari rumah pak RT. Ramzy jalan didepan sambil menggandeng mesra tangan 'istri'nya.
Seperti sengaja memancing kecemburuan Rahman yang berjalan tepat dibelakang mereka.
Cici yang melihat pasangan muda tampan cantik didepannya langsung menarik tangan tuannya. Ingin bergelayut juga seperti Ramzy yang merangkul erat Ella.
"Apaan sih Ci?" sontak Rahman marah pada Cici. Menepis tangan Cici yang cengengesan memandangnya.
Ia mempercepat jalannya. Menyalib Ella dan Ramzy hingga akhirnya kini dialah yang memimpin jalan.
Ella melihat Ramzy menyeringai. Ada kepuasan diwajahnya karena bisa membuat Rahman kembali merana melihatnya mesra dengan Ella.
__ADS_1
...
"Aduh sakit! Pelan dikit, Ella!" Ramzy mengaduh karena Ella membersihkan luka pukul yang ada diwajahnya, hasil tinjuan tangan Rahman.
Sudut bibirnya pecah. Kini warna memarnya makin melebar.
"Sttt.... Ini pelan-pelan Zy! Tahan, biar ga infeksi ini...harus cepat diobati!"
"Hhhh..... Kamu koq akhir-akhir ini banyak rahasia sama aku La?!"
"Rahasia apa? Dan kamu sendiri, kemana aja selama ini? Sibuk atau pura-pura sibuk biar bisa menjauhiku?"
"Koq jadi aku yang tersudutkan sih? Itu, bajingan kucel itu,... sejak kapan kamu tahu dia tetangga kita? Kenapa ga bilang sama aku kalau dia pemilik rumah sebelah."
"Aku juga baru tau kemarin! Waktu tak sengaja nganter dia pulang kerumahnya karena kaki dan tangannya terkilir akibat nolongin aku!"
"Dia,....... dia adalah atasanku sekarang."
"What? Are you crazy? Dan aku benar-benar jadi orang bodoh sekarang. Good! Good girl! Pantas kamu kembali masuk kerja padahal sudah resign! Fix, kini aku tau......! Apa sebabnya kamu terus-terusan bicara masa tenggang pernikahan kita! Kamu ingin bersama si bajingan kucel itu khan?"
Plak.
Ramzy terpana, Ella menamparnya. Airmata Ella mengaliri kedua belah pipinya.
"Teganya kau berkata begitu Zy! Kau pikir aku sepicik itu? Kau tuduh aku sehina itu? Hik hiks.... Iya. Aku memang tidak sesempurna Adel! Aku bukan wanita semulia Adel! Aku kotor! Aku punya noda! Tapi bukan berarti kau dengan seenak dengkulmu menuduhku wanita murahan, yang mudah luluh akan harta dan perhatian seorang pria!"
__ADS_1
"Bu bukan begitu maksudku Ella!"
"Iya. Aku sadar diri Ramzy! Aku ini hina, tak sebanding denganmu yang seorang CEO tampan pemilik perusahaan retail ternama. Jadi, mari kita percepat saja perceraian kita yang tinggal 5 minggu lagi! Aku akan pulang kerumah orangtuaku sekarang juga!"
Ella benar-benar merasa terhina dan marah luar biasa. Hatinya jatuh dan hancur berkeping-keping. Ia memang tak berani mengharap lebih karena ia tahu dirinya. Kelemahannya serta kekurangannya. Tidak mampu menyaingi kecantikan dan pesona serta kemurnian adiknya, Adelia.
Sampai kapanpun, ia tak kan pernah bisa menang jika harus dibandingkan dengan Adelia. Meskipun kini Adelia telah tiada. Ella juga tak ingin terus-terusan bersaing dengan bayang-bayang Adel dimata Ramzy.
Ia menyadari, hatinya telah tunduk kepada pria yang berstatus suaminya itu. Ia mulai mengetahui, bahwa ia benar jatuh cinta pada Ramzy. Pria yang lebih muda 2 tahun darinya dan seharusnya menjadi adik iparnya. Ia seringkali mengkhayal dan memimpikan nikmatnya bercinta bersama Ramzy, meski itu hanya dalam hati.
Dan kini, cinta itu menghempaskannya lagi. Kedasar jurang penyesalan yang paling dalam. Bahwa cintanya, ternyata hanya ia seorang yang memilikinya. Tidak dengan Ramzy. Karena mereka memang menikah atas amanah Adelia. Bukan dengan 'dasar cinta'.
"Ella, kumohon! Kamu salah faham Ella!... Please, jangan tinggalkan rumah ini! Kumohon Ella!" Ramzy mengikuti Ella yang kadung marah besar dan mengeluarkan semua isi lemarinya dengan membabi buta. Tangannya cepat memasukkan pakaiannya kedalam koper besar miliknya. Airmatanya terus mengalir.
"Ella! Ella plis Ella! Tatap aku Ella! Aku minta maaf, mohon maafkan aku! Jangan begini, tolong maafkan aku!"
Ella tak pedulikan Ramzy yang akhirnya juga ikut menangis, sama seperti dia. Ramzy menarik keluar pakaian Ella yang sudah masuk koper dengan cepat juga.
Suara lengkingan kalkun-kalkunnya ikut meramaikan suasana hati mereka yang makin panas.
"Awas! Aku mau pulang!"
"Jangan Ella, jangan pergi...kumohon! Mari kita bicarakan semuanya dengan kepala dingin! Maaf, aku tadi emosi, aku cemburu..... dia telah berhasil mendekatimu! Maaf Ella, aku bukan bermaksud merendahkanmu! Sumpah demi Allah! Aku ini juga kotor Ella! Hik hik hiks.... Aku ini lebih kotor dari kotoran sapi sekalipun! Bahkan tidak ada yang mau menyayangiku termasuk papa dan mamaku Ella! Bukan kau yang hina, aku yang hina! Aku!!!! Aku ini hina, sangat hina karena tidak bisa kau andalkan! Aku selalu menyakiti perasaanmu! Hik hik hiks..."
Ramzy memeluk kaki Ella. Menangis menahan langkahnya agar tidak pergi dari rumah dan meninggalkannya.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•