
"Ella! Ini air minum untukmu, Nak!" Papa seperti berusaha mendekat mengambil hati anaknya lagi. Berharap Ella kembali baik padanya.
Ella mengambil gelas dari tangan papa tapi ia taruh kembali keatas meja. Membuat Ramzy menatap tajam wajah istrinya. Ramzy sedikit menahan rasa ingin marahnya mengingat rumah keluarga Ella masih ramai sanak saudara. Tak pantas jika Ella berbuat tidak sopan pada papa didepan mereka.
Dikamar tidur mereka dimalam harinya setelah acara tahlilan selesai, Ramzy melihat istrinya tengah berbaring sambil menyusui Rafa bergantian dengan Rafi.
"Sayang!... Jangan seperti itu pada papa, Ella! Jangan bersikap seolah papa lah penyebab kepergian mama!"
Ella tak menjawab. Hanya lelehan airmata saja yang mewakili betapa sakit dan kecewanya batinnya ketika melihat papa.
"Tidak boleh, sayang! Bagaimana perasaanmu jika kamu menjadi papa, dan anak-anak kita melakukan hal seperti kamu ke papa?"
"Ini lain kasus mas! Anak-anakku tidak mungkin berbuat seperti itu padaku. Sama seperti aku pada mama!"
"Apakah kamu bisa menjamin Rafa dan Rafi tidak melakukan hal yang sama seperti dirimu pada papa?"
"Aku bisa jamin. Karena ini adalah karma. Yang memang harus papa tanggung!"
"Apa itu karma? Apa kamu tahu karma itu artinya apa? Dan apakah diagama kita ada benar karma dari Allah?"
Ella tidak menjawab. Ilmu agama suaminya memang semakin baik saja. Karena Ramzy punya komunitas kelompok pengajian dilingkungan rumahnya. Dan itu hampir tiap malam minggu diadakan dimasjid setiap sholat maghrib.
"Kamu dan papa itu laki-laki, mas! Pasti kalian sepemikiran!"
"Iya. Kami memang laki-laki. Mayoritas pemikiran kami sedikit banyak sama. Tapi kami berfikir memakai logika, yang! Bukan dengan perasaan yang terlalu dalam yang tidak sesuai dengan realita."
__ADS_1
"Lantas apakah papa yang berbagi hati dengan wanita lain adalah tidak sesuai realita?" Ella sedikit sengit menjawab perkataan Ramzy.
Ramzy menghela nafas pendek. Ia telah mengetahui watak Ella sedari mula kenal istrinya itu. Keras kepala dan sedikit kasar jika sedang marah.
"Apa kamu tahu kenyataan yang sebenarnya? Apa kamu juga melihat dengan mata kepala sendiri perlakuan papa ke mama? Apa pernah papa berbuat kasar pada mama didepan matamu, sayang?"
Ella hanya memutar memorinya. Betapa papanya itu bagaikan pria yang takut istri dimatanya. Papa begitu menuruti setiap perintah mama.
Ella menatap mata Ramzy dengan mata kembali berkaca.
"Pria suami takut istri itu ternyata membuat hatiku luka!"
"Karena kenyataannya papa memiliki istri lain selain mama? Dan kenyataannya kamu memiliki adik lain selain Adelia? Itu yang membuatmu kecewa?"
"Iya, mas!"
Ella menggelengkan kepalanya. Airmatanya kembali jatuh berderai.
"Semua telah Allah atur untuk setiap makhluk ciptaan-Nya my Ella! Bahkan sejak kita dalam kandungan. Allah sudah mengatur kehidupan kita. Nasib baik dan nasib buruk, juga takdir kita, yang!
Sekarang kamu merasa terdzolimi oleh perbuatan papa dimasa lalu. Kamu merasa kamu adalah korban dari karma yang papa perbuat dulu. Dan kamu menghakiminya. Apakah itu pantas yang, untuk kamu berbuat sekeji ini pada papa? Dan bagaimana kalau nanti kamu mendapatkan karma dari kejahatanmu pada papa lewat anak-anak kita?"
"Jangan bilang begitu mas! Hiks!"
"Itulah kenyataannya! Kamu mendokrin papa dengan lantang menyebut papa berhak kamu balas karena karmanya. Dan karma yang kamu bilang itu akan terus dan terus ia menggelinding dikehidupan kita jika kita tidak memutus tali rantainya, yang!
__ADS_1
Dan apakah mendiang mama tidak akan bersedih menangis melihatmu dialam barzakh memperlakukan suaminya dengan begitu hinanya?"
Jleb.
Kata-kata Ramzy seolah membuka mata dan hatinya lebar-lebar.
Seketika Ella menangis memeluk Ramzy. Ia menangis didada bidang Ramzy. Terbuka semuanya berkat kata-kata Ramzy.
Ella berlari keluar kamar. Turun menapaki anak tangga, lalu melesat kekamar papanya.
Papa terbaring dikasurnya dengan wajah terlentang dan butiran airmata. Hanya diam tanpa suara.
"Papa!"
"Ella!"
"Papaaaa.... hik hik hiks huaaaaa..! Maafkan Ella papaaaaa!!! Maafkan Ella, paaaaa!"
Seketika Ella berlari memeluk tubuh papa yang mulai terlihat tua. Ayah dan anak itu menangis berangkulan. Dipegangnya dada papa yang terlihat menipis. Lalu turun ke perutnya.
Ella menangis lagi. Sebulan yang lalu, perut papa seperti gendang yang hendak ditabuh. Genduk dan berisi. Tapi sejak ia mengetahui kenyataan papanya memiliki istri dua dan menjauhi membenci papa, ternyata papanya jauh lebih kurus kini.
"Papa udah makan?" tanyanya disela isaknya. Papa mengangguk. Airmatanya terus mengalir meski bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Papa pasti bohong! Papa tidak pernah makan sendirian tanpa mama! Papa tidak pernah mau makan lebih dulu meski mama hanya pergi ke warung sebentar! Iya khan pa? Hik hik hiks.... Mari makan pa! Ella yang ambilkan dan suapi papa ya? Mama sudah tenang disisi Allah sekarang! Huhuhuuuuu.... mamaaaaa!"
__ADS_1
Langit malam diluar berbintang. Cahayanya berkelap-kelip meski dikamar papa dan Ella tengah menangis terisak bersama.
đź’•BERSAMBUNGđź’•