
"Rumahmu dimana? Biar kuantar pulang!"
"Aku bawa mobil sendiri, Man!"
"Hahaha... Suwe! Hilang harga diriku nih gara-gara si Cipluk! Niat nawarin kebaikan mau boncengin pulang naik motor, ternyata dia malah bawa Avanza sendiri!"
"Hihihi.... Maaf Man! Bukan maksudku melecehkan kendaraanmu! Hehehe peace!!!"
"Hehehe....! slow aja bu dokter! Aku masih Rahman yang dulu kamu kenal!"
"Yang slenge'an, banyak tingkah, tapi takut sendirian! Hehehe....! Rumahku di Kencana Ungu. Kapan-kapan, kuundang kau dan istrimu makan siang dirumahku! Oh iya, sampaikan salamku pada Mbak Mira istrimu ya Man!"
"Siap bu dokter Cipluk Ba! InshaaAllah salammu kusampaikan nanti!"
"Aku pulang ya Man! Terimakasih traktirannya! O iya, aku mau minta selfie bareng kamu dulu Man! Boleh ya?"
"Hehehe... Boleh lah Pluk! Ayo, kita foto dulu!"
"Hati-hati nyetirnya!" kata Rahman mengingatkan Astari.
"Siap 86! Pamit ya? Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam!"
Rahman melambaikan tangannya. Memperhatikan Astari dan kendaraannya hingga semakin menjauh, hilang dari pandangan.
Ia pun pulang dengan mengendarai vespanya. Menuju rumah setelah konsultasi dan nongkrong ngobrol santai bersama Astari si dokter Cipluk Ba.
__ADS_1
Pukul 11 kurang Rahman baru tiba dirumah. Mira sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Begitu juga Ahmad. Kamarnya sunyi senyap.
Rahman mandi dan membuka tutup saji. Hanya ada goreng Nugget sisa lima potong dan setoples kerupuk udang instan.
Hhh.... Kangen juga ia akan masakan istrinya. Kangen tumis kangkungnya. Kangen sambel tomat seuhah-nya. Kangen semua pelayanannya didapur, ketika Mira belum sesibuk sekarang ini.
Rahman ingat resep obat yang diberikan dokter Astari. Besok di jam istirahat, ia akan mampir sebentar ke apotik di pusat kota. Ia ingin Mira cepat hamil.
Harapannya Mira akan mengalah memilih buah hati ketimbang karier yang saat ini begitu dia prioritaskan.
Setidaknya, setelah mereka dikaruniai anak, Mira perlahan pasti akan berubah. Kearah yang lebih baik tentunya. Itu harapan Rahman.
Malam ini, Rahman berdoa lebih khusu' sebelum tidurnya. Semoga Allah mempermudah jalannya dalam mendapatkan keturunan bersama Mira.
....
Sholat Subuh pun doanya semakin kuat. Minta kepada Allah, dikirimkannya seorang anak. Yang bisa menjadi penguat rumah tangganya dengan Mira. Yang nantinya menjadi peredam keributan diantara mereka.
"Kakak pulang jam berapa semalam?"
"Jam 11 yang!"
"Aku juga pulang jam 10 kak! Ada meeting penting sama petinggi dari Centra Toserba. Foto-fotoku terpilih untuk dipajang besar-besar dioutlet mereka. Keren khan kak?"
"Terus, kerjasama kalian bagaimana? Apa sudah teken kontrak?"
"Kalau kerjasama saling mengisi stand sih sepertinya dipending kak! Katanya outlet-outlet mereka sudah penuh semua. Mereka hanya tertarik pada model dan foto-foto kami kak!"
"Jadi? Kalian itu kerjasama dalam jual beli foto aja?"
__ADS_1
"Ish kakak nih! Itu termasuk pencapaianku dalam membangun karierku sebagai model!"
"Yassalaaam....!!! Mira, Mira! Kamu ini pengusaha, Mira! Harusnya meeting untuk kerjasama dalam bidang usaha pemasaran produkmu. Bukan foto-foto modelmu! Hhh.... itu namanya kemunduran!"
"Tapi khan itu termasuk menghasilkan uang juga! Ya ga rugi-rugi amat lah kak!"
Rahman tak bisa berkata apa-apa. Hanya diam mendengarkan celotehan kebanggaan Mira yang disanjung karena fotogenik, kata mereka.
"Mira! Kakak tidak suka Mira menjadi model lagi! Fokusmu adalah SOFTELLA dan toko onlinemu juga. Selain itu, aku tidak mengizinkannya! Apalagi harus foto-foto sana sini!"
"Khan itu termasuk perencanaan perusahaan, kak!"
"Dengar! Mulai minggu depan, SOFTELLA aku yang handle! Aku akan mengambil bagianku sebagai Dirut Tambahan mendampingimu mengurus perusahaan!"
"Lho? Katanya kakak sibuk di divisi yang kakak bangun diperusahaan kak Ramzy?"
"Ingat! Ella pernah bilang, sahamku ada di separuh SOFTELLA! Berarti aku ini juga punya kuasa disana! Aku akan selalu memantau kerja kamu dan tim! Tanpa persetujuanku, semua perencanaan kalian bisa gagal total!"
"Kakak! Iiiiih,.... kenapa kakak menjegal kesuksesanku?"
"Menjegal apa Mira sayang?"
"Kakak terlalu over protective! Please kak! Aku ga akan lenjeh-lenjeh dengan pria diluaran sana! Demi Allah!"
"Sekali kataku tidak, ya tidak!"
Rahman pergi kekantor dengan wajah tegang. Sementara Mira mengumpat kesal. Mendapati keputusan suaminya yang terasa berat sebelah.
Hhh... Rahman memang harus mengambil tindakan. Semakin ia membiarkan Mira, semakin jauh istrinya terperosok kedalam lubang yang dalam.
__ADS_1
Mungkin saat ini Mira berfikir ia adalah suami yang kejam. Tapi ini ia lakukan demi keutuhan rumah tangganya.
đź’•BERSAMBUNGđź’•