
Ramzy benar-benar harus dirawat diruang UGD. Ia masih harus diobservasi dulu setelah diambil darahnya untuk di test dilaboratorium.
Ella tenang kini karena Ramzy sudah mendapatkan penanganan dari pihak rumah sakit.
Ia bisa bernafas lega setelah hampir 3 jam menunggu Ramzy diruang UGD akhirnya bisa segera pindah keruang rawat inap.
Wajah Ramzy yang pucat terlelap setelah mendapatkan cairan infusan dan vitamin.
Sudah pukul 2 dini hari. Membuat Ella juga diserang kantuk parah. Hingga akhirnya ia tepar juga dengan wajah tertelungkup diatas ranjang kasur disamping tubuh Ramzy.
Pukul 5 Subuh. Ramzy terbangun dari tidurnya.
Matanya menatap kepala Ella. Kasihan juga ia melihat Ella pontang-panting mengurus dirinya yang terkapar lemah.
Tangannya membelai lembut rambut gadis yang selama ini begitu dia hormati. Disibakkannya perlahan agar tidak menutupi wajahnya. Cantik sekali. Padahal gurat kelelahan begitu jelas tergambar disana.
Ramzy mengusap lembut pipi Ella. Pelan sekali. Agar tak membangunkannya dari tidurnya.
Ella! Aku kadang bingung mengenterprestasikan perasaanku juga perasaanmu. Ada apa diantara kita. Ada apa denganku? Juga ada apa denganmu?... Hhhh... Andaikan kau bisa melihat kegalauan hatiku ini. Aku bingung sendiri, La! Aku cinta Adelia. Sangat mencintai adikmu itu! Tapi kau, kau juga memiliki tempat dihati ini. Bahkan tempatmu tersimpan rapi disudut hati ini. Karena kita memiliki kesamaan. Dan kita bisa saling berbagi perasaan itu tanpa rasa takut dan waswas dipandang aneh. Bahkan aku merasakan kenyamanan lebih denganmu dibandinh dengan Adel dahulu. Aku tak mengerti perasaan apakah ini! Kalau cinta,.... entah... rasa cintaku telah mati. Terkubur bersama jasad Adelia, Ella! Apakah ini perasaan sayang? Aku akui iya. Aku sayang kamu. Aku sejujurnya takut bila waktu itu tiba. Waktu perjanjian perceraian pernikahan kita. Lalu memisahkan kita. Dan aku,... aku kehilangan dirimu untuk selama-lamanya. Apakah aku nanti bisa gila? Aku takut Ella! Aku ingin waktu berhenti sampai disini saja! Kau dan aku.... tetap bersama. Selamanya.
Ramzy menyusut airmatanya yang jatuh tiba-tiba. Ia kembali rebahan. Dengan satu tangannya mendekap separuh tubuh Ella. Matanya kembali menutup seiring kesadaran perlahan hilang. Ramzy tertidur lagi.
Ella kaget sekali mendapati tangan jenjang berbulu halus rapi berada diatas pipi kirinya. Tangan Ramzy.
Perlahan diangkatnya kesamping. Ia menyibakkan rambut panjangnya. Merelaksasi secara lembut lehernya dengan bergerak kekanan dan kekiri. Agak kaku dan nyeri.
Dirabanya dahi Ramzy. Alhamdulillah, panasnya sudah agak turun. Tak seperti waktu malam. Bahkan kini Ramzy juga tertidur nyenyak sepertinya. Keadaannya kini membaik.
Ella mengelus-elus pipi Ramzy, pelan sekali. Ia takut ketahuan Ramzy kalau ia sangat menikmati wajah tampan dihadapannya.
__ADS_1
Ditatapnya anugerah terindah Tuhan itu. Alisnya yang tegas dan hitam. Bulu mata Ramzy lebat juga lentik. Hidung bangirnya yang pas, pahatan Tuhan Paling Sempurna. Juga bibirnya, sederhana tapi mengundang aura ingin menciumnya.
Hhh... Ella mendengus, kesal sendiri mendapati dirinya menjadi seperti wanita liar yang haus kasih sayang.
Ya. Ia adalah wanita dewasa. Usianya kini 29 tahun lebih. Tapi tidak pernah ia merasakan sensasi hasrat berlebih untuk memadu kasih. Karena ia punya trauma pada lawan jenis yang membuatnya hidup lurus dan datar tak pernah berfikir hal-hal yang nakal.
Tapi kini, dekat Ramzy, ia seperti seekor kelinci yang siap dikawini. Yang seolah suka mencari perhatian demi mendapatkan hati. Hati Ramzy tentunya. Walau sekuat-kuatnya ia menahan gejolak rasa itu, tetap saja jika sudah berada didekat Ramzy ia seolah tengah memasrahkan diri.
Tatapan Ramzy. Tawa renyahnya, juga pesona candanya. Bahkan Ella selalu kangen pelukan Ramzy. Entah bagaikan magnet ia mengikuti semua apapun yang Ramzy lakukan. Tanpa ada keinginan untuk menghindar. Apalagi menolaknya dengan tegas. Seperti yang ia lakukan dahulu kepada para pria pengagumnya.
Ella malu, ketika matanya bertemu mata Ramzy. Ia ketahuan sedang menatap dan memikirkannya.
"Ella!"
"Iya. Mau kuambilkan minum?" tanyanya agak gugup.
Ramzy menganggukkan kepalanya pelan. Ella mengambil gelas cawan yang ada dimeja samping ranjang. Meminumkan airnya dengan lembut kepada Ramzy.
"Pelan-pelan Zy!"
"Terima kasih ya!?" Ella tersenyum tipis. Kembali menaruh gelas ketempat asalnya lagi.
"Kamu pasti kelelahan ya mengurusi aku!" katanya dengan suara parau. Ia begitu lembut dan manis. Bahkan tangannya mengusap halus jemari Ella. Menggenggamnya erat-erat.
"Maaf ya, kalau aku ini perempuan kasar dalam mengurus suami!" tutur Ella dengan wajah tertunduk.
"Engga' koq, siapa bilang kamu kasar! Kamu bahkan teramat lembut dan baik hati!"
"Nah, nah! Jujur aku takut ini kalau kata-katanya meracau begini. Antara iya sudah mendingan atau sedang panas tinggi mengigau hingga bisa mengeluarkan pujian yang bikin merinding!"
__ADS_1
"Hahaha.... Ish, romantis dikit dong istriku! Masa' rayuanku dianggap kaleng rombeng yang dipakai bocil maen gelindingan!"
"Hihihi.... " Ella menepuk-nepuk tangan Ramzy.
Keduanya bertatapan. Lama sekali. Hingga akhirnya tawa mereka pecah tapi membuat Ramzy batuk dan bersin-bersin lagi.
"Udah ah, jangan banyak gaya dulu. Masih sakit tuh!" tegur Ella.
"Masa' jagoan sakit! Malu nih!" ujar Ramzy tersipu.
"Jagoan khan juga manusia!"
"Hehehe iya sih!"
"Oiya, aku tinggal dulu boleh ya?"
"Mau ngapain? Jangan! Jangan tinggalin aku!"
"Aku pulang dulu, ambil baju ganti kamu. Aku akan izin libur sama temanku nanti. Aku pasti kembali!"
"Teeeet....! The Pasto, Aku Pasti Kembali!" kata Ramzy membuat Ella tertawa.
"Aku pulang dulu ya!"
"Ella!"
"Ya?"
"Aku sayang kamu!"
__ADS_1
Deg.
đź’•BERSAMBUNGđź’•