PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
RUMAH TANGGA YANG MENDEBARKAN


__ADS_3

Perjalanan hidup dan cinta seseorang dari muda sampai tua, tiadalah orang tahu. Bahkan sipemilik kehidupan itu sendiri tidak bisa memprediksi kisahnya sendiri selain Tuhan Allah Azza Wazzalla.


Seperti Agnes, yang ternyata adalah saudara dari Ella dan Adel. Padahal dalam mimpi pun ia tak berani, tapi di kenyataan.... semua terjadi seolah khayalan tingkat tinggi.


"Maaf ma, bukan Agnes tidak ingin tinggal dengan kalian. Sangat ingin dan pastinya sangat bahagia! Tapi adik-adik Agnes ada 17 orang, ma, pa! Mereka membutuhkan Agnes. Apalagi sekarang bunda Utami tak seperhatian dulu lagi. Jadi Agneslah kini tumpuan harapan mereka!"


"Hatimu sangat mulia sayang!"


"Mama lah justru wanita yang sangat mulia! Mama begitu baik pada bunda Agnes bahkan pada Agnes yang sepantasnya mama benci!" luruh lagi air mata Agnes sambil memeluk mama Ella.


"Sstt... Jangan berkata seperti itu, nak! Mama sayang kamu seperti anak mama sendiri! Apalagi Agnes anak yang baik, manis dan berbudi!"


"Terima kasih mama! Maafkan bunda dan Agnes yang pernah menyakiti hati mama karena telah tega merebut papa!"


"Kalian tidak merebut! Ini takdir mama, Nak! Mama ikhlas, semua Allah beri untuk kebaikan mama!"


"Huhuhuu hik hik hiks.... betapa malunya Agnes ma! Bagaimana kalau kak Ella tahu, kalau Agnes ini adalah adik dari istri mudanya papa!"


"Kita simpan rahasia ini dulu sampai 40 hari kemudian ya sayang? Untuk pemulihan Ella tentunya. Apalagi psikis ibu melahirkan bisa berubah-ubah cepat bahkan bisa dengan mudah depresi. Khawatir Ella mengalami baby blues syndrome."


"Iya ma! Agnes akan menyimpan rahasia ini dahulu pada semua orang! Ma, Agnes pamit pulang dulu ya?"


"Mau pulang sekarang? Apa perlu papa mama antar?"


"Ga usah ma! Mama sama papa istirahat saja. Agnes bisa naik kendaraan umum! Pamit ya, muuacht.... Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Hati-hati ya Nes!"


Kedua pasutri itu mengantar anaknya sampai pintu gerbang.


...


Malam beranjak dihari yang begitu panjang dan melelahkan bagi semuanya. Tapi semua tersenyum diakhir karena rasa bahagia dihati mereka.


Rahman dan Mira salah satunya.


"Kau tau, ga yang? Hari ini aku bangga sekali padamu, Mira! Kamu seperti bidadari tak bersayap. Sangat cantik dan menawan!"


Wajah Mira merona mendengar pujian suaminya. Bagaikan terbang melayang dialam nirwana. Ia tersenyum dengan wajah tertunduk malu. Begitu bahagia mendapatkan sanjungan karena saking jarangnya Rahman memujinya.


"Karena Mira menolong kak Ella?" tanya Ella dengan suara berbisik pada Rahman.


"Bukan karena menolong kak Ella?"


"Iya memang. Tapi andai bukan Ella pun wanita yang kamu tolong, aku pasti akan memuji kebaikan hatimu, yang!"


"Kenapa sih hari ini kakak manis sekali?"


"Karena kebaikan hatimu, Mira! Kakak bangga punya istri Mira!"


"Beneran?"

__ADS_1


"Ya iyalah! Hadeh, masih juga ga percaya sama cinta suamimu ini?"


"Hahaha.... Abis kakak jarang banget bilang cinta sama Mira. Apalagi setelah kita menikah. Padahal, kita menikah belum setahun lho kak! Baru 7 bulan kurang malah! Gimana kalo lebih dari setahun, terus kita punya anak, terus kakak dingin terus sama aku! Ish..."


"Ya Tuhan, Deeek! Setiap orang khan punya karakter masing-masing sayang! Mungkin sifat dan karakterku dingin cenderung cuek. Tapi bukan berarti aku tidak lagi memiliki cinta untuk istriku yang sangat baperan ini! Justru makin hari makin cinta! Faham?"


"Beneran?"


"Ish...Bodo ah! Capek jelasin mulu!"


"Hahaha... jangan marah kaaak! Hahaha...tuh, justru kakak yang baperan! Ambekan! Dikit-dikit marah, dikit-dikit bete!"


"Aih? Aku pula yang begitu ya? Perasaan yang seperti itu yang ngomong deh?"


"Iya khan aku berlaku begitu karena sebel sama sifat kakak yang dingin dan cuek ini. Berubah sedikit demi sedikit lah! Ga iri melihat kak Ramzy dan Kak Ella yang selalu mesra dihadapan kita?"


"Hehehe...! Kenapa iri? Setiap orang sudah Allah berikan semua sesuai takaran Allah yang! Kalau aku iri pada mereka, berarti aku kecewa pada Allah yang memberiku istri cerewet tapi cantik seperti ini dong!?"


"Berarti aku ini cerewet ya? Sedang kak Ella itu ga cerewet gitu? Mana kakak tau? Bisa jadi dirumahnya dia lebih cerewet dari aku. Iya khan?!"


"Hahaha.... Aduh, Deeek! Udah ah udah! Udah mulai memanas nih obrolan kita. Ayo kita pulang, kasihan Ahmad dirumah sendirian! Tuh lihat, matahari senja mulai menampakkan rona gelapnya. Pertanda sebentar lagi malam datang!"


"Iya kak, indah ya? Tunggu sebentar kak! Lihat dulu matahari terbenam ya? Anggap kita sedang berada diatas gunung Bromo dikala senja tiba. Hehehe...!" pinta Mira pada suaminya. Padahal saat ini mereka ada diatas gedung perkantoran PT RAMA CORPORATION. Diatas rooftopnya yang terbuka dan sepi.


Rahman merangkul pinggang istrinya. Mengecup pipi Mira seraya menempelkan kepala Mira dibahunya. Mata mereka memandang kearah langit yang berwarna merah keemasan. Begitu indah ciptaan Tuhan. Seindah kehidupan rumah tangga mereka yang mendebarkan.

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2