
"Kakak? Ini.... ini apa?"
"The Kingdom of Lady Mira!"
"Artinya?... Maksudnya?"
"Hehehe.....! Yuk, masuk dulu kedalamnya!"
"Ini.... ini punya siapa? Sewa lewat Traveloka? Sewa via online ya? Kakak sengaja cari tempat yang tertulis nama Mira-nya! Hihihi.... romantisnyaaa...! Muacht!"
Rahman hanya tersipu. Melanjutkan perjalanan dengan kembali menjalankan mesin mobil yang dikendarainya setelah dua orang penjaga membuka pintu membukakan gerbang untuknya.
Mira terkagum-kagum dengan pemandangan taman penuh bunga yang terhampar didepan matanya. Sangat indah. Membuatnya tak henti memujinya.
"Keren kak! Waah, seger banget sih suasananya. Masuk gerbang langsung disambut taman bunga mawar! Ngomong-ngomong masuk kedalamnya masih jauh, kak? Kalau turun disini, jalannya jauh ya?"
"Jauh, sayang! Lagipula kaki Mira masih sakit. Kita naik mobil tapi diperlambat aja laju mobilnya ya?"
"Iya, iya kak!"
Mira membuka jendela mobilnya. Menyeruak aroma mawar segar beraneka warna dikiri kanan jalan aspal yang mulus.
"Kak! Boleh gak aku petik mawar-mawar merah itu?"
"Untuk Mira, semuanya boleh!"
"Idih? Tar ada CCTV, aku ditegur yang punya gimana?"
"Kakak yang tanggung jawab! Hehehe... memang sih, yang punya orangnya super cerewet. Tapi baik hati koq!"
"Yang punya cewek? Jangan-jangan punya temen kakak yang dokter spesialis kandungan itu ya?"
"Koq mikirnya kesitu?"
"Ya abis punya siapa dong? Ga mau jujur, nih? Masih main rahasia-rahasiaan nih?"
__ADS_1
"Itu,.... coba Mira lihat gapuranya. Bacaannya apa?"
"TAMAN MAWAR MIRA YULITA. Eh? Mira Yulita? Namanya mirip namaku ya? Hahaha... pantes kakak maksa ngajak aku kesini, ternyata yang punya village ini namanya sama persis sama aku! Hahaha...."
Rahman masih tersipu. Ternyata Mira belum berfikir jauh semuanya.
"Tempat apa itu kak?"
"Rumah pohon, sayang! Juga ada permainan outbone untuk anak-anak remaja!"
"Hm.... lengkap taman bermain juga ya?"
"Mau turun dulu disitu? Duduk-duduk dibawah rumah pohonnya sambil metik jambu kristal? Mau?"
"Mauuu!!"
Rahman mematikan mesin mobil. Ia turun cepat lalu membukakan pintu mobil yang disamping Mira. Rahman segera menggendong Mira keluar dari mobil.
"Kakak! Mira bisa jalan koq, biarpun pelan dan masih agak pincang! Kakak khan capek seharian nyetir!"
"Ssstt.... Ini kewajiban kakak! Dan ini juga kemauan kakak, gendong Mira!"
"Kakak baik banget sih sama Mira! Padahal Mira orangnya ngeselin khan!?"
"Mira! Jangan bilang begitu, yang! Kita ini suami istri. Sudah selayaknya saling sayang dan saling cinta dengan berbagai kebaikan dan keikhlasan."
Mira mengecup pipi suaminya pelan. Membuat Rahman balas mencium kening Mira.
"WILAYAH KEKUASAAN AHMAD BAIHAQI. Lho? Ini nama Ahmad juga ada disini? Ini kalau Ahmad ikut, pasti dia bakalan sorak sorai kegirangan ini kak!"
Mira lagi-lagi dengan polosnya mencandai nama adiknya yang memang juga Rahman 'pakai' sebagai bukti sayangnya pada Ahmad meski hanyalah adiknya Mira, bukan adik kandungnya sendiri.
Rahman memetik dua buah jambu biji kristal yang berbuah lebat dan pohonnya juga pendek jadi gampang diambil. Diberikannya satu pada Mira setelah ia bersihkan dengan saputangan yang diambil dari saku celananya.
"Jambu kristal organik! Tidak pakai pestisida hanya pupuk kandang saja yang!"
__ADS_1
"Kakak tahu banyak tentang tempat ini. Jangan-jangan kakak pernah kesini ya sama teman dokter kakak yang itu?"
"Hahaha... Mira sayang! Cemburumu mirip sinetron ikan terbang! Bersambung gak habis-habis! Hehehe... Aku memang tahu banyak tempat ini lah! Khan aku juga yang merancang desain denah semua bagian diwilayah sini!"
"Kakak, bisa rancang desain juga?" tanya Mira sambil mengunyah jambu kristal merah yang manis dan renyah itu.
"Maksud kakak, arsitekturnya, Mira!"
"Ooh....! Pantesan, teman kakak merekomendasikan gratis untuk kita liburan disini. Tapi jujur, Mira bahagiaaaa sekali, bisa kakak bawa kesini! Beneran deh, suasananya adem. Tenang. Bikin hati tenteram!"
"Dulu diawal nikah, kakak khan ngajak Mira pindah kesini!"
"Iya. Jadi kakak waktu itu ajak Mira pindah itu karena teman kakak percayakan ini sama kakak ya?"
"Hehehe....! Mira mau kesitu gak?"
"Apa itu kak? Gajebo ya? Ayo!"
Hup.
Rahman lagi-lagi mengangkat tubuh Mira dengan sigap. Mira menatap wajah suaminya lekat.
Wajah Rahman yang oval dan tirus pipinya. Matanya yang hitam agak kecoklatan. Hidungnya juga cukup mancung dan bibirnya seksi menggairahkan.
Mira meremas rambut ikal Rahman lembut. Membuat Rahman balas kembali menatap mata Mira.
Ia menurunkan tubuh istrinya disebuah rumah kayu panggung berdinding anyaman bambu hitam dan beratapkan daun rumbia. Sangat artistik sekali.
"TEMPAT KHUSUS PRINCE RAHMAN HIDAYAT DAN LADY MIRA YULITA."
Mata Mira seketika terbelalak, membaca tulisan yang ada dibanner rumah saung panggung itu.
Rahman menarik tubuhnya kedalam pelukan hangatnya. Dikecupnya bibir merah Mira yang menggoda. Makin lama makin dalam dan nikmat dikulumnya. Memainkan indera pengecapnya itu dilangit atas mulut Mira dan kembali diemut dengan suara decapan yang terdengar renyah.
"Kakak...."
__ADS_1
"I love you so much, Mira!"
đź’•BERSAMBUNGđź’•