PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
AMARAH


__ADS_3

"Man! Tolong kau didik istrimu, untuk tidak mengkotak-katik urusan masa lalu istriku! Kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Ella dan calon anak-anakku,... kau yang paling pertama kucari Man!"


"Eh? Apa maksudmu Zy?"


"Ella pingsan, masuk rumah sakit setelah bertemu dengan Mira!"


"Hah? Mira, sama sekali ga cerita kalo dia mau ketemu Ella?"


"Tolong urus istrimu itu! Istriku langsung nge-down mentalnya, padahal sedang mengandung anak-anak kami! Sekarang Ella sering mimpi buruk lagi, dan dia nangis-nangis minta aku mengurus kembali peralihan nama perusahaan SOFTELLA menjadi MENTARI lagi. Aku dan Ella sudah menutup semua lembaran masa lalu, tapi istrimu menguaknya kembali!"


Ramzy pergi berlalu meninggalkan Rahman yang termangu diruang kerjanya.


Ya. Seperti yang ia ceritakan pada Mira, Rahman memang kini bekerja bersama Ramzy. Berbagi ruangan lebih tepatnya. Karena Rahman membeli separuh saham perusahaan keluarga Ramzy dengan mengembangkannya ke arah import eksport.


Sebenarnya Ramzy sudah sering menyuruh Rahman membuka kantornya sendiri. Tapi ia malas mencari-cari lagi tempat, sedang gedung pribadi perusahaan RAMA CORPORATION begitu luas dan terdiri dari 12 lantai.


Rahman merenungi lagi setiap pertanyaan Mira. Ternyata istrinya itu telah mengambil langkah kejauhan dengan menemui dan menanyai kisah masa lalu mereka.


Memang ia tak menyalahkan Mira sepenuhnya. Tapi tindakan Mira sungguh tidak ia prediksi sebelumnya. Bagaimana mungkin Mira seberani itu menanyai Ella akan hal-hal yang paling Ella benci.


Rahman menelan salivanya. Gugup dan cemas juga hatinya. Ia bangkit dan bergegas menuju ruangan Ramzy.


"Bagaimana keadaan Ella sekarang Zy?"


"Kau tak perlu cemaskan keadaan istriku!" jawab Ramzy ketus.


"Boleh aku jenguk Ella? Dirumah sakit mana?"


"Buat apa? Urus saja istrimu tuh! Dan lagi, aku akan mendatangi istrimu juga...untuk minta data-data dirinya. Karena Ella ingin menghibahkan departement store itu pada Mira! Dan mungkin dalam minggu-minggu ini juga kuurus langsung ke notaris. Dan kau, kau juga bisa hengkang dari sini! Saham-sahammu ku bayar 2 kali lipat!"

__ADS_1


Rahman menatap wajah Ramzy tak berdaya. Ia langsung keluar. Kembali keruangannya mencari-cari jaket dan juga tas kecilnya.


Jam itu juga Rahman pulang kerumahnya.


"Mira, Mira!"


"Kak Mira lagi ada pertemuan dengan curtomer bang!" kata salah seorang karyawan Mira di toko onlinenya.


"Oh iya, Den! Dari tadi Mira keluar?"


"Ada sekitar satu jam-an, bang! Kayaknya bentar lagi juga balik!"


"Iya. Makasih infonya Den!"


Toko itu memang tepat berada disamping rumah mereka. Jadi jika dirumah Mira tak ada, pasti ada ditoko onlinenya.


Tindakan Mira sudah diluar batas. Bahkan menemui Ella tanpa konfirmasi dulu padanya.


Memang Mira tak sepenuhnya salah. Karena ia juga sadar diri, ini juga salahnya. Tapi ia tak percaya jika Mira bisa berfikir sampai sejauh itu mencari dan menanyai Ella.


Padahal selama ini ia sudah merasa damai dan tenang. Semua yang ia impikan, perlahan tercapai. Ella bahagia, dan ia pun juga bahagia. Mira mampu membuatnya menjadi lelaki sempurna. Hingga ia perlahan telah berjanji dalam hati, akan selalu dan selalu membahagiakan istrinya hingga akhir hayat nafas terakhirnya.


Hhhh.... Kini, cobaan apa lagi ini?


"Kakak? Udah pulang kerja? Masih jam 2 lho ini? Tumben-tumbenan!" Mira pulang dan terkejut mendapati Rahman yang tengah duduk melamun diruang tamu sedang pintu rumah mereka terbuka sangat lebar.


Rahman hanya menatap wajah Mira. Bingung juga ia, harus bagaimana dan mulai dari mana.


"Tolong buatkan aku kopi hitam tanpa gula Mira!" ujar Rahman dengan suara pelan ditahan.

__ADS_1


"Kopi hitam? Biasanya kakak minum kopi capucino? Adanya capucino,.. itu aja ya?"


"Kakak mau kopi hitam! Diwarung seberang pasti ada khan? Kenapa ga coba cari alternatif buat beli dulu, kalo dirumah ga ada?" suara Rahman sedikit keras.


"Ya khan mana Mira tahu, kakak mau kopi hitam. Jadi ga pernah stok kopi hitam!" Mira tetap menjawab perkataan Rahman. Membuat suaminya itu hanya menatapnya tak berkedip.


"Iya, iya Mira beli dulu diwarung bu Sri! Ish, tumben-tumbenan!" gerutunya sambil berlalu pergi keluar.


Padahal Rahman tengah menekan emosinya agar tak keluar dan 'melukai' Mira. Ia sayang dan cinta Mira, tapi ia juga kecewa pada Mira.


Ingin mendidiknya tapi tak tahu caranya. Ingin memarahinya, tapi ini juga kesalahannya yang tak berani jujur pada Mira.


Hati Rahman gamang sendiri. Ditutupnya wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hatinya hanya berdawam Asma Allah. Berusaha mengendalikan dirinya yang nyaris mengeluarkan amarah, tapi syukurnya langsung terfikir tiada gunanya.


Hhhh.....


Mira masuk rumah dengan wajah kesal. Ia capek pulang dari meeting dengan pelanggan tokonya, tapi malah mendapati suaminya yang terlihat aneh dengan permintaan yang diluar kebiasaannya.


"Nih kopi hitamnya!" ujarnya agak ketus membuat Rahman membuka matanya dan memandang istrinya.


"Begitu caranya melayani suami?" akhirnya Rahman menegur Mira meski nada suaranya ia tekan serendah mungkin.


"Aku capek kak, panas, pusing pulang meeting! Bukan habis main-main di mall ketawa-ketiwi kesana kemari lho! Aku bantu juga cari uang!"


Brak.


Rahman menggebrak meja. Hampir saja gelas kopi ikut terbang keudara, meski tetap seper-empat isinya beleber tumpah.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2