PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
KEBAHAGIAAN SEMU


__ADS_3

Betapa bahagianya Agnes malam ini. Menyaksikan pasangan bola mata yang berpijar terang bagaikan kunang-kunang ditengah malam yang gelap gulita.


Tawa riang adik-adik yang senasib dan sepenanggungan membuatnya begitu menginginkan kebahagiaan itu selamanya.


"Jangan rebutan! Masih banyak koq!" tuturnya melihat sendiri kelakuan adik-adiknya yang jarang makan enak.


Ya. Sejak bunda menikah lagi, yayasan ini kurang urus segalanya. Termasuk kebutuhan pokok mereka. Bisa makan nasi sehari dua kali itu sudah alhamdulillah banget bagi mereka. Apalagi jajan makanan yang cukup mahal karena tidak ada uang.


Hhhh.....


"Dasar anak bodoh! Aku menyuruhmu bukan untuk jadi pengemis martabak buat perut adik-adikmu! Tapi untuk menghancurkan mereka!"


Tiba-tiba pak Robert sudah berdiri dihadapan mereka. Membuat adik-adiknya mundur ketakutan. Mereka sudah tahu akal bulus dan belangnya.


Agnes hanya diam tak menjawab. Merapikan beberapa dus lagi yang masih ada isi martabaknya. Lalu ikut berdiri dan mundur kearah adik-adiknya.


"Ini sudah mau seminggu, tapi gerak kerjamu sangat lambat. Kalau kalian mau jadi pengemis, itu lebih baik bagiku. Pergi saja sana, diperempatan lampu merah sambil bawa kaleng bekas biskuit!"


Gubrak!!!!!!


Pintu depan ditarik pak Robert sekeras-kerasnya. Membuat Agnes hanya bisa menghela nafas panjang.


"Kak, takuuut!"


"Jangan takut, ada kakak. Kalau orang itu bertindak kasar sama kalian, lawan...jangan diam! Kakak pasti akan selalu jaga dan lindungi kalian!"


Hhhh.... Malam panjang bagi Agnes. Ia tak bisa tidur karena ulah pak Robert yang seolah mengancamnya. Fikirannya kalut. Takut juga ia jika dia dan adik-adiknya akan terusir dari panti yang telah membesarkan mereka sedari kecil.


....


Mira tidur lebih dulu dengan tubuh memunggungi suaminya. Pusing kepalanya memikirkan jalan fikiran pria dewasa itu.


Dia tidak minta apa-apa. Hanya cinta dan kasih sayang Rahman saja. Apa susahnya. Dan Rahman yang dingin tidak berani mengusik istrinya yang kembali marah padanya.


Ditatapnya punggung Mira. Berharap wanita yang dicintainya itu berbalik kearahnya dan membaik dengan memberikan senyuman termanisnya.


Sayangnya, keduanya termasuk kategori manusia-manusia egois. Mungkin. Atau mungkin karena rasa minder dan ketakutan pada fikiran sendiri. Rasa malu untuk memulai minta maaf terlebih dahulu. Merasa rendah jika membuka jalan perdamaian paling pertama. Merasa kalah hingga akhirnya harus terus mengalah.

__ADS_1


Hhhhh.....


Tring.


Mira mendengar dentingan nada chat dari hapenya. Ia membalikkan tubuhnya. Terlihat Rahman sudah tertidur pulas.


Dasar lelaki egois! Kalau memang dia merasa salah, harusnya dia minta maaf. Rayu aku, peluk aku! Apa susahnya sih? Memangnya aku sebatu itu, sampai tak kan luluh kalau dia mencairkan hatiku dengan pujian cintanya. Walaupun cinta, tetap harus diperlihatkan! Kalau perlu, umumkan pada semua orang..."aku mencintai Miraaaaa!" begitu apa susahnya. Dasar! Ish....


Mira mengambil hapenya. Matanya membulat. Dari Dika. Ini sudah pukul 11.43 malam.


Jantungnya berdebar. Tak menyangka jika pria itu berani men-chat nya di jam segini, padahal tadi siang ia sudah memberitahukan kalau ia punya suami.


Mira bangun dari tidurnya. Berjalan perlahan menuju ruang tengah rumahnya. Membuka chattan Dika.


Hai, sudah tidur y?


Hhh.... Mira menghembuskan nafasnya. Dadanya berdesir halus. Antara kesal tapi penasaran juga pada mantan pacarnya itu.


Diketiknya huruf perhuruf membentuk kalimat.


"Terbangun karena chat kamu๐Ÿ™„"


"Begitu y๐Ÿ™„"


Itu emojinya lucu sangat๐Ÿ˜…๐Ÿ˜—


"Terus? Masalah buatmu?๐Ÿ™„"


Ga sih, makin suka๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜—


"Maksudnya?๐Ÿ™„"


Suka boleh donk๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜—


"Heh! Aku wanita bersuami๐Ÿ™„"


Iya. tau, tapi cinta tak bisa dihapus begitu saja. gimana donk๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜—

__ADS_1


"Dasar orang gila!๐Ÿ™„"


Ga papa gila krn kamu๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜—


"Sinting๐Ÿ™„"


Makasi๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜—


"Stres๐Ÿ™„"


Iya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜—


"Ladenin orang gila, gue jd gila jg๐Ÿ™„๐Ÿ˜…"


Yeaaaa sama" gila y kita๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜—๐Ÿ’•


"Udah jgn chat lg๐Ÿ™„"


Okey๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜—๐Ÿ’•


"Ish apaan sih? gue bilang jgn chat,๐Ÿ™„"


Aku cuma berusaha sopan membalas chatmu aja, Mira๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜—๐Ÿ’•


"Terserah๐Ÿ™„"


Iya. makasi tuk pengertiannya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜—๐Ÿ’•


"Ampun deh nih orang๐Ÿ™„ Bye๐Ÿ™„๐Ÿ™„๐Ÿ™„๐Ÿ™„๐Ÿ™„"


Bye juga Mira. Have anice dream yua๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜—๐Ÿ’•


Hhhhh.... Mira menghela nafas tapi bibirnya tersenyum kecil.


Kebahagiaan apa ini. Apakah ini termasuk kebahagiaan? Padahal ia sendiri tahu, perbuatan ini jelas-jelas salah. Membalas chat mantan pacar dijam 12 malam tanpa sepengetahuan suami apakah tindakan yang diperbolehkan?


Hhhh... Mira memijit pelipisnya. Pusing kepalanya.

__ADS_1


Disaat rumah tangganya sedang merenggang, kenapa tiba-tiba harus ada cobaan berupa "kebahagiaan semu" dengan hadirnya mantan. Orang terkasih dimasa lalu. Hhhh....


__ADS_2