
Adel diantar bu Tari asisten personalia keruang kerjanya dilantai 4.
Alhamdulillah! Jauh dari ruang kerja boss Ramzy. Setidaknya aku tidak harus sering papasan beliau kalau beda lantai. Kata hati Adel lega.
Meja kerjanya berbaur dengan meja kerja beberapa karyawan lain dibagian perencanaan dan keuangan. Ruangannya pun luas dan terbuka.
"Selamat pagi semuanya! Hari ini kita kedatangan kawan baru yang ikut bergabung didivisi perencanaan dan keuangan. Silakan perkenalkan diri!"
Adel nervous harus menyapa dan perkenalkan dirinya secara dadakan. Senyumnya agak tertahan ia kembangkan.
"Halo semuanya, teman-teman... saya Adelia Wilhelmina. Mohon bantuan dan bimbingan dari teman-teman semua yang sudah lebih senior dan profesional dalam bekerja. Terima kasih!"
Beberapa diantara mereka menyambut Adel dengan senyum pula dan lambaian tangan. Beberapa lagi mengangguk dan kembali sibuk pada pekerjaan mereka yang padat.
"Silakan, meja kamu disamping Arifin dan Latifah! Silakan bertanya pada rekan sejawat jika ada kesulitan atau yang belum kamu mengerti soal pekerjaan kamu!Oya, kepala divisi ini bu Diana. Kebetulan orangnya sedang cuti melahirkan, jadi kamu bisa bertanya pada Arifin atau Latifah. Saya pamit!"
"Terima kasih, bu!"
__ADS_1
Ini pagi terberat dalam hidup Adel. Benar-benar ia berada dalam ruang lingkup dunia kerja yang nyata. Dihadapkan pada banyak orang yang sibuk dengan rutinitas mereka. Menghadap komputer dan laptop masing-masing.
Kemarin ia hanyalah seorang cleaning service. Pekerjaannya adalah bersih-bersih ruangan, bersih-bersih meja kerja karyawan dan pasilitas kantor lainnya termasuk toilet dan gudang. Otomatis ia lebih menomorsatukan tenaga ketimbang otak.
Kini ia adalah seorang karyawan dibagian perencanaan dan keuangan. Kerjanya kebalikan dari cleaning service. Otak dan juga konsentrasinya dituntut untuk balance hingga ia tidak melakukan kesalahan dalam pekerjaannya. Sedikit ia lengah dan ceroboh, fatal akibatnya karena urusannya langsung berkesinambungan dengan divisi-divisi lain diperusahaan ini. Ckckck....
Kerja apaan dong yang enak ya? Hhh...
Syukurlah. Setelah cukup lama ia harus mendengarkan kursus kilat arahan Latifah soal pekerjaannya, akhirnya Adel bisa sedikit lega karena mulai memahami kinerja yang harus ia lakoni.
"Selamat datang didunia angka!" goda Arifin setengah berbisik padanya setelah kursinya meluncur bebas menghampiri meja kerjanya.
Adel tersenyum mengiyakan.
"Del, jangan terlalu serius! Tuh lihat si Latifah, baru satu bulan dia berhijab. Alasannya nutupin uban yang udah tumbuh banyak gegara stres dan depresi mikirin angka-angka!"
Latifah yang mendengar celoteh Arifin, balas menimpuk pria sekitar berumur 25-26 tahun itu dengan penghapus pensil.
__ADS_1
Adel hanya tersenyum sembari mengangguk hormat pada Latifah. Sekilas mereka seumuran 26-27 tahun, mungkin. Entah. Kurang pantas rasanya baru kenal beberapa menit sudah tanya umur.
Lagipula berteman tak harus pandang usia, status, gender maupun kasta bukan? Kecuali kenyamanan dan ketulusan (comot dari perkataan teman) asalkan bisa berbaur dan sefrekuensi dalam candaan. Yang penting ga baperan apalagi delitan (ambekan).
Sementara itu Ramzy dilantai 3, agak sedikit kelimpungan karena belum melihat 'mangsanya'.
Pak Rama memang sengaja tidak memberitahu Ramzy secara keseluruhan tentang Adelia yang sengaja ia tempatkan dilantai lain.
Ramzy mati kutu dan hanya bisa melamun setelah tahu Adel ditempatkan dilantai 4.
Rencananya buyar ingin mengerjai Adel lagi seperti kemarin.
Sepertinya aku harus cari cara lain untuk menaklukan cewek tangguh itu! pikirnya lagi.
Kali ini ia sedikit berhati-hati karena tak ingin papanya mengetahui rencana buruknya pada Adelia. Si gadis tangguh yang seharusnya masih bekerja sebagai cleaning service dilantai 3 ini.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1