PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
BANGKAI YANG DISEMBUNYIKAN AKHIRNYA MENYEBARKAN BAUNYA


__ADS_3

Mira kini benar-benar menjadi wanita karier. Sibuk dengan perusahaan yang dihadiahkan Ella kepadanya setelah notaris mengesahkan kini perusahaan dan gedung SOFTELLA remi atas nama miliknya.


Toko onlinenya juga masih berjalan. Meski ia tak terlalu berkecimpung didalamnya. Ia telah percayakan kepada beberapa anak buahnya yang loyal padanya.


Hari itu, Rahman kelupaan membawa berkas penting kekantor. Membuat ia harus pulang kembali mengambilnya. Hhhh....


Dulu ketika Mira masih santai dan hanya bekerja ditoko onlinenya yang tepat disamping rumah mereka, Mira lah yang bisa ia minta tolong antarkan kekantor.


Tapi sekarang, Mira punya kantor sendiri. Otomatis Rahman juga tidak mungkin lagi menelpon istrinya guna dimintai bantuannya.


Rumah dikunci. Ahmad belum pulang sekolah. Membuat Rahman melipir ketoko onlinenya mengambil kunci yang pasti dititipkan dikaryawannya.


"Kak Mira sibuk sekali dia. Sampai-sampai minggu kemarin juga ga sempat periksa pembukuan!"


"Iya. Sepertinya tahun ini benar-benar tahun keemasan kak Mira ya kak Leni? Hebat kak Mira! Menikah dengan kak Rahman yang ganteng dan tajir, bisnis maju, sekarang dia dapat perusahaan SOFTELLA! Gimana ga hoki banget tuh kak Mira?!"


"Untung dia pas mau nikah sama kak Rahman ambil inisiatif suntik KB. Jadi dia bisa terus berkembang jadi wanita karier seperti impiannya!"


"Emang kak Mira suntik KB dulu sebelum nikah?"


"Iyalah. Khan aku yang antar dia ke klinik bidan Oka! Kalau tak suntik KB, pasti sekarang dia sudah hamil, Kis! Tahu sendiri khan, Mira itu sangat ambisius untuk karier dan masa depannya. Apalagi, Mira belum berani mengambil langkah untuk memiliki anak meskipun ia sudah hidup mapan bersama kak Rahman!"


"Kak Rahman ga tahu dong, kak Mira suntik KB sebelum nikah?"

__ADS_1


"Ga tahu dia!"


.....


"Leni! Aku pinjam kunci rumah!"


Deg.


Leni dan Kikis terdiam membatu. Rahman berdiri didepan pintu toko dengan wajah dingin memandang kearah keduanya.


"K ka kak Rahman! Ah iya.... uf.. pulang cepat ya?" Leni pucat pias, gugup dan nampak salah tingkah.


Suami bossnya itu pasti mendengar pembicaraannya dengan Kikis tadi.


"Mmmh, kurang enak badan ya kak?" Kikis ikut mencoba mencairkan keadaan yang cukup meresahkan mereka.


Pria itu melangkah pergi. Menuju rumahnya yang ada disebelahnya.


Membuat Leni dan Kikis hanya bisa saling berpandangan seraya menelan ludah berbarengan. Helaan nafas mereka menandakan mereka harus siap pada keributan Mira dan Rahman nantinya.


Sementara Rahman, hanya diam seribu bahasa. Semua perkataan Lena tentang Mira membuat hatinya sedih seketika.


Sedih karena istrinya menjadi bahan gunjingan karyawannya sendiri. Sedih karena Mira bisa juga membohonginya selama ini.

__ADS_1


Hhhh....


Rahman menarik nafasnya, kecewa. Ia memang banyak menyimpan rahasia kehidupannya pada Mira. Banyak. Dan sering sekali karena kesalahfahaman itu, mereka menjadi ribut.


Ia menyadari dirinya yang sangat sulit terbuka pada Mira. Selain masa lalunya yang suram. Yang pernah begitu sangat terbukanya pada teman-teman, hingga ia menjadi orang yang sangat wellcome memberi kenyamanan segala hal. Tapi rasa sakit dan penyesalan yang ia dapatkan. Membuat Rahman sangat berhati-hati sekali untuk berbicara. Walaupun itu pada Mira, istrinya.


Tapi kebohongan Mira yang menutupi dirinya telah melakukan program KELUARGA BERENCANA sebelum ijab kabul dengannya, itu terdengar menyakitkan baginya.


Ia telah bertekad menerima Mira apa adanya. Bahkan cerita Mira tentang 'keperawanan'nya. Rahman tak pernah ambil pusing. Karena itu hanya masa lalu. Rahman pun memiliki masa lalu yang getir. Dan ia tahu, Mira mencintainya setulus hati.


Mira mengurusnya dengan benar. Menjadi seorang istri yang cukup baik meskipun sifat kekanakannya begitu besar. Rahman berusaha mengerti Mira. Bahkan mencoba mengikuti langkah Mira agar terlihat seimbang.


Tapi mendengar Mira melakukan suntik KB sebelum mereka menikah, membuat Rahman lemas tak berdaya. Sebegitunya kah Mira memandang arti pernikahan? Yang mudah saja mengambil keputusan tanpa kompromi dengan pasangan?


Bahkan Mira dengan tekad bulat berinisiatif suntik KB tanpa meminta izin darinya.


Bukankah sejatinya inti dari pernikahan adalah meneruskan dan mengembang-biakkan klan mereka? Menikah karena ingin memiliki keturunan? Selain adanya pendamping yang bisa menjadi penyeimbang kehidupan yang timpang?


Mira seperti menyembunyikan bangkai. Yang kini tersebar juga aroma baunya.


Hhhh......


Kepala Rahman terasa berat. Pusing ia memikirkan cara pandang dan pola fikir Mira.

__ADS_1


Hhhh......


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2