PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
SUAMI SEDINGIN KULKAS FREEZER 4 PINTU


__ADS_3

Mira merasakan kesal melihat suaminya yang begitu dingin dan menyebalkan menurutnya. Membuatnya hanya bisa bergosip sedikit mengeluarkan unek-uneknya pada karyawannya yang usianya tidak terlalu jauh dengannya.


"Coba kamu bayangin, punya suami sedingin kulkas frezer 4 pintu. Masa' harus selalu aku yang memancingnya untuk menemui lebih dulu! Kamu lihat sendiri khan, Len? Harusnya khan dia datangi aku untuk pamitan kerja. Apa susahnya sih? Juga berapa jauh jaraknya dari depan jalan kesini? Hadeh, kesel aku lama-lama sama suamiku!"


"Susah kalau memang karakter dingin dan pendiam, kak!"


"Harusnya dia yang lebih dewasa yang wise ngemong aku! Bukan aku yang selalu kasih tau dia, nasehati dia bagaimana itu hubungan rumah tangga. Padahal teman yang katanya dia dekat itu begitu romantis sama pasangannya! Bahkan kalau dekat mereka, bawaannya aku jadi sirik pengen juga diperhatikan macam mereka sama suamiku. Tapi suamiku cuek-cuek aja, Len, kecuali aku pancing-pancing baru dia bilang sayang, iya istriku tercinta! Hhh!"


"Hihihi...." Leni gadis lajang 23 tahun itu hanya terkikik mendengar atasannya itu berkeluh kesah.


"Coba kamu bayangin, gimana rasanya jadi aku! Aku ini berasa jadi istri yang bobrok akhlak! Rayu-rayu suami lebih dulu untuk mendapatkan perhatiannya! Gila ga tuh!? Aku seperti perempuan murahan banget kesannya!"


"Kalo urusan ranjang, kak?"


"Kalo ranjang sih, dia doyan! Bisa nambah dua-tiga kali malahan! Aku sih oke aja! Cuma kesalnya, dia manis disaat dia butuh aja! Giliran hari biasa, begitu! Hanya senyum, tertawa, ngucek-ngucek poni aku. Kadang malah responnya dingin cuma nanggapin 'hm' aja! Iiiish, kesel aku!"


"Kakak coba obrolin kak! Diskusi tapi secara santai! Kali aja kak Rahman bisa lebih terbuka sama kakak!"


"Sering, Len! Hampir tiap hari mungkin! Tapi koq kesannya aku seperti istri yang banyak nuntut sama dia. Padahal, aku cuma ingin dihargai saja! Setidaknya, ia menikahi aku bukan hanya sekedar nikah. Mengurus didapur, disumur dan dikasur! Aku ingin dia seperti yang aku harapkan!"


"Kak Rahman punya WIL kali' kak?"


"Ga mungkin! Suamiku dingin sama perempuan, Len! Justru karena sifat dinginnya itu, dia jadi bujang lapuk! Hahaha... ! Aku kalo ga ngajak dia nikah, mungkin sampai sekarang kak Rahman masih sendiri membujang!"


Lena tersenyum. Entah apa isi dikepalanya. Mira terus nyerocos menceritakan aib rumahtangganya pada karyawannya itu.


"Permisi! Selamat siang, paket kak!"


Pengirim paket itu menatap Mira dengan mata membulat.


"Mi mira?"


"Handika?"

__ADS_1


Keduanya hanya saling bertatapan dengan wajah pias. Pucat seketika.


"Ma maaf, aku ngantar paket!" kata Dika dengan suara gugup. Matanya menunduk meski sesekali curi pandang ke arah Mira.


Mira juga sama. Tertunduk dengan jemari basah dan memilin ujung baju kaosnya.


"Kamu sekarang jadi kurir, Dik?"


"Iya! Kamu hebat sekarang! Jadi bu boss online shop ya!?"


"Hehehe.... Ga sehebat itu, Dik! Masih merintis ini!"


"Semoga tokonya semakin sukses. Rezeki semakin banyak juga!"


"Makasih Dik, buat doanya! Kamu juga. Kamu banyak berubah! Kamu terlihat lebih baik dan... lebih rapi sekarang!"



Hhhh... Mira menunduk. Terkenang kembali masa-masanya berseragam putih biru. Ia kelas 2 dan Dika sudah kelas 3 waktu itu.



Karena pergi menonton film dibioskop ketika kencan malam mingguan, Dika mengajaknya mampir kerumah kakaknya yang ada diperumahan daerah Barat.


Filmnya film Barat. Dan ada adegan es*k-es*knya. Padahal itu baru pukul 7 malam. Dan Dika rupanya tahu, kalau rumah kakaknya kosong setiap sabtu dan minggu, karena dihari itu penghuninya yang pengantin baru selalu menginap dirumah orangtua suami kakaknya.


Hhhh.... Mira menghela nafas. Masih jelas difikirannya, bagaimana Handika yang terlihat lugu dan polos itu bisa membuatnya menurut saja ketika mengajaknya tidur-tiduran diranjang besar kakaknya.


"Mira!"


"Ah, ya? Oh, oke Dik! Terima kasih!" Mira tergagap kaget ketika Dika menyodorkan nota dan bolpoint meminta parafnya.


"Boleh aku menghubungi nomormu sesekali?"

__ADS_1


Mira menatap Dika cukup lama.


"Aku sudah bersuami, Dik! Maaf, kalau urusan pekerjaan boleh. Tapi kalau.... hanya sekedar iseng, sebaiknya jangan!"


"Aku minta maaf untuk yang waktu itu! Juga.... maaf untuk yang sekarang, karena sejujurnya aku kaget, senang dan bahagia ketemu kamu lagi, Mir!"


Mira hanya menatap punggung Dika yang pergi menjauh setelah pamitan dan tangan mereka berjabatan.


Maaf, Dika! Kamu adalah lelaki pertama dalam hidupku. Tapi aku sudah punya kak Rahman. Tidak boleh aku menunjukkan kalau akupun senang berjumpa denganmu yang sekarang. Aku tidak pernah bisa melupakanmu dan perbuatan kita dimasa lalu. Hhhh.....


Tuuuut tuuuut tuuuut


Rahman menelponnya.


"Hallo?"


[Sayang! Aku ada tugas dilapangan. Aku sepertinya pulang selepas maghrib, yang! Maaf ya? Tolong mengerti aku yang!]


"Kakak keluar kota?"


[Bukan. Daerah Cengkareng, Mira! Tapi ternyata gudang perusahaan mitra kakak posisinya cukup jauh dari jalan raya. Dan kita harus menyurvey kondisi barang yang telah kita order sebelum disalurkan lagi ke perusahaan lain yang memesan!]


"Kita? Kakak sama siapa? Sama mbak Sita?"


[Bukan. Aku sama Agnes! Sita izin pulang setengah hari, yang! Suaminya terkena musibah kecelakaan kerja. Aku pergi dengan Agnes! Udah ya, nanti malam aku cerita lebih detail lagi ya, yang! Mira.... please sudahi amarahmu, yang! Aku kangen Mira yang manis dan ceria!]


"Kakak.....!"


Rahman sudah memutuskan sambungan teleponnya. Membuat Mira hanya terpaku menatap layar kaca hapenya.


Hhhh.... Dia harus sabar menunggu Rahman pulang dan bercerita padanya.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2