
"Bertahun-tahun lamanya aku mencarimu, Ella! Aku ingin mempertanggungjawabkan kesalahanku padamu! Sungguh, aku bahkan mungkin dianggap gila oleh sebagian teman-temanku karena berkelana kesana kemari demi menemukanmu yang sama sekali tak kuketahui semuanya! Hingga Adel menjadi sahabatku. Bahkan Adel sempat ingin mengenalkanmu padaku. Tapi kutolak karena aku masih berharap bisa menemukan gadis yang dulu kurusak." Rahman berkisah semua. Semuanya. Tanpa bantahan Ella yang hanya terpekur dengan isak tangisnya.
"Jangan pernah datang lagi kerumah orangtuaku! Aku akan balik ke perusahaanmu, tapi dengan satu syarat. Jangan dekat-dekat denganku! Dan jangan pernah kau sebarkan omongan keji kelakuan bejadmu padaku dulu kepada semua orang terutama papa mamaku. Kau tahu, begitu banyak penderitaan dan airmata yang kukorbankan agar orang-orang yang kusayangi tidak mengetahui diriku yang hancur lebur karena perbuatanmu dulu!"
"Hik hik hiks...terima kasih Ella! Terima kasih banyak! Terima kasih,"
"Dengar baik-baik! Aku bukan membantumu, tapi mencoba membantu kawan-kawan seperjuanganku dalam mencari uang halal. Ini kulakukan demi mereka. Bukan karena perusahaanmu juga! Dan jika perusahaanmu sudah stabil, aku pastikan akan hengkang dari sana. Aku permisi, para depkolektor itu membuat kerusuhan dikantor pusat! Semoga cepat sembuh, dan semoga Tuhan mengampuni segala dosa-dosamu!"
Ella berlalu dengan hati lega. Entah apa sebabnya. Mungkinkah kini dendam dan rasa sakit hatinya pada Rahman telah berkurang perlahan-lahan? Entahlah. Yang pasti langkahnya kini lebih ringan dibanding ketika ia menjejakkan kaki menyusuri lorong rumah sakit elite itu.
Perjanjian yang telah ia buat. Ia yakini ini baik untuk teman-temannya di MENTARI DEPT STORE.
Ella meluncur ke kantor pusat perusahaan dengan ojol. Semua teman menyambutnya bak pahlawan yang gagah berani. Membuat Ella tersipu malu sendiri. Betapa bersyukurnya ia merasa dihargai.
Hari ini dia bertekad meluruskan semua kesalahfahaman boss besarnya terdahulu yang telah membuat kekacauan.
Dengan bantuan pengacara Rahman, Ella kesana kemari melakukan lobi bisnis setelah hutang piutang pak Havier dioperalihkan kembali ke pemilik awalnya yakni pak Havier sendiri.
Memang butuh waktu, tak semudah membalikkan telapak tangan untuk membuat perusahaan yang nyaris bangkrut itu kembali stabil apalagi menapaki kejayaannya.
__ADS_1
Ditambah sekarang ini adalah era globalisasi tehnologi, yang memainkan peran digital disemua sektor produksi apalagi industri perdagangan. Membuat Ella dan kawan-kawannya berusaha keras memutar otak agar perusahaan tempatnya bekerja bisa bangkit kembali.
"Katanya resign, tapi kuperhatikan akhir-akhir ini kamu kembali sibuk pergi pagi pulang sore!" Ramzy menegur Ella.
Ya. Ella memang tidak menceritakan perihal kembalinya ia bekerja pada Ramzy. Apalagi bercerita kalau Rahman adalah bossnya kini. Karena Ramzy juga sibuk, bolak-balik Singapura menengok bisnis dan juga orangtuanya.
Ella pernah meminta Ramzy mengajaknya serta menengok mamanya yang masih dirawat disana. Tapi dilarang Ramzy karena kondisi psikis kedua orangtuanya yang sedang down juga. Takut berimbas kena amarah tak jelas mereka. Ramzy tak ingin Ella mendapatkan teguran apalagi caci maki sumpah serapah papa mamanya yang semakin hilang kendali. Perusahaannya juga sedang terguncang sebenarnya. Membuat Ramzy berusaha menutupi keadaannya dari Ella.
"Aku kembali kerja, Zy! Ternyata aku belum bisa melepas sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga saja!"
"Aku sih terserah kamu saja! Lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Aku pasti akan mendukungmu! Kalau perlu, kamu mau kerja diperusahaanku pun asal dengan cv lengkap seperti karyawan lain, bisa kupertimbangkan!"
"Baiklah!"
"Mama gimana kabarnya? Papa juga?"
"Ya, begitulah! Emosi tinggi membuat mama agak kesulitan kembali seperti semula. Hhhh... Doakan saja, mereka kembali normal dan sehat kembali!"
"Aamiin...!"
__ADS_1
Ella menatap wajah Ramzy. Ada gurat kesedihan disana.
"Kamu juga, jangan banyak minum minuman keras disana! Makan yang teratur. Tidur teratur. Jangan terlalu banyak fikiran Zy!" kata-kata Ella menyejukkan hati Ramzy. Bagai siraman air embun dipagi hari. Membuat semangat Ramzy kembali menyala.
"Kapan ya, kita bisa liburan bersama!?" gumamnya membuat Ella tersenyum.
"Maaf ya,... aku lupa, kita belum pergi bulan madu!" tutur Ramzy lagi pelan sekali tapi jelas terdengar ditelinga Ella.
"Hahaha...bulan madu apaan! Pernikahan kita ini hanyalah pernikahan diatas kertas saja bukan? Tiada yang istimewa. Tak perlu lebay buat bulan madu!"
Ramzy menatap netra Ella. Ia mencari kebenaran dari kata-kata orang yang paling dekat dengannya saat ini.
"Sungguh ini hanya pernikahan diatas kertas saja?" tanya Ramzy menyelidik. Ia sedih ketika Ella kembali mengingatkan awal kenapa adanya pernikahan antara ia dan Ella.
"Hhhh..... Tinggal 4 bulan 3 minggu lagi. Pernikahan kita akan berakhir!" Ella menunduk.
Ramzy berdiri. Mengibas tangannya lalu pergi berlalu masuk kamarnya tanpa permisi. Membuat Ella hanya menghela nafas. Merasa bersalah karena mengucapkan kalimat menyakitkan itu.
Ia pun tak ingin mengingatnya. Tapi semua itu memang benar adanya. Perjanjian pernikahannya. Hanya 6 bulan saja. Ia dan Ramzy sepakati itu. Dan kini, bagai buah simalakama ketika ia ucapkan kembali.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•