PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
POV TEUKU RAMZY


__ADS_3

Pagi ini membuatku bete sebete-betenya. Gimana engga', masih jetleg karena semalam baru sampai dari Kuala Lumpur masih harus ngantor juga pagi ini. Apalagi hanya untuk urusan interview penerimaan calon karyawan baru. Hhhh....


Aku sebenarnya sangat ingin menolak. Tapi urung melihat kondisi papa yang baru saja sembuh dari anfal jantungnya seminggu lalu.


Mau bagaimana lagi. Aku hanyalah anak tunggal dari pemilik Perusahaan Retail Ternama RAMA CORPORATION. Hanya anak tunggal.


Kata siapa anak tunggal orang kaya raya itu menyenangkan? Bullshit! Justru sangat menderita. Aku dituntut mengerti dan memahami seluk beluk perusahaan milik papaku. Dan harus siap sedia sewaktu-waktu mengurus dan meneruskan nama besar perusahaan yang sudah mendunia.


Sejak kecil mamaku sudah menanamkanku artinya "tanggung jawab". Dimana anak lain asik bermain bersama teman-teman sebayanya, aku malah sibuk dicekoki cara agar berkualitas dan menarik minat para konsumen dan suplayer. Gila khan?


Disaat bocah-bocah lain enak-enakan main kesana kemari menikmati indahnya masa kecil, masa remaja, aku justru sibuk memperhatikan grafik turun naiknya harga saham dibursa effek. Parah khan?


Hhhh.....


Kenapa aku jadi curhat dipagi menyebalkan ini. Mana mobilku harus ke bengkel dulu karena semalam remnya blong entah kenapa.


Apes. Benar-benar apes.


Aku harus menunggu mobilku dihalte bis terdekat.


Tiba-tiba, hujan deras turun membuat halte bis jadi padat orang berdesak-desakan. Membuatku sedikit risih karena bermacam wangi orang berbaur dibawah naungan halte bis tersebut.


Tiba-tiba ada suara perempuan memekik membuatku spontan menengok kearahnya. Map yang dipegangnya tadi jatuh dan upppssss.... untung segera kuambil cepat. Kalau tidak, habis sudah mapnya diinjak-injak massa dihalte itu.


Kuulurkan map itu padanya.


Eh??? Mata bulatnya menatapku tanpa berkedip. Ugh! Kebiasaan!!! Mata-mata para perempuan yang suka jelalatan melihat ketampananku seenak udelnya.


Cukup manis sih! Tapi maaf, aku tidak berselera. Aku masih menutup hatiku untuk yang namanya perempuan. Karena bagiku perempuan itu semua sama. Bajingan!!! Pemain sandiwara!! Pintar memainkan perasaan kaum pria. Titik. Fix. Perkataanku "no debat" karena semua itu "valid".

__ADS_1


Tapi perempuan ini rupanya cukup tahu diri. Biasanya para wanita yang sudah tersihir wajah tampanku akan terus membombardirku dengan mengajak kenalan. Ujung-ujungnya minta nomor WA. Huh! Lagu lama!


Untungnya pak Amir sudah meluncur dan berhenti tepat didepan halte. Aman! Aku bergegas berlari menerobos hujan dan masuk mobilku.


Bye-bye para cewe sialan!


Aku menarik nafas lega. Membuka laci dasboard dan mengambil parfumku.


Srot srot srooot...!!!! Hmmm... Nyaman dihidung, nyaman dihati. Harumnya membuatku memejamkan mata sambil menikmati hentakan musik yang kuputar dicd mobil.


Aku ingin sedikit relaksasi. Menikmati keindahan rinai hujan meski diluar sana kemacetan sudah jadi sarapan pagi setiap insan dibumi kota ini.


Seperti biasa, kantor menyambutku kikuk. Semua karyawan sepertinya takut padaku. Bagus. Itu pertanda setidaknya mereka akan bekerja dengan baik dan benar karena terintimidasikan olehku.


Kenapa? Aku tak ingin bertingkah seperti papa. Boss yang baik dan bijaksana. Ujung-ujungnya, toh mereka kerja seenak hati mereka. Merasa boss mereka baik, lalu semau mereka bekerja santai-santaian.


Bagaimana mau maju perusahaan ini kalau kinerja karyawannya hanya masuk pagi pulang sore, yang penting terima hadir dan terima gaji diakhir bulan. Enak saja!


Hhhh.....!! Hari ini aku juga sedang badmood karena mama mulai lagi mengungkit-ungkit masalah jodoh dan pernikahan.


Kata mama, aku harus segera berfikir untuk berumah tangga. Mama dan papa sudah kepingin nimang cucu. Itu alasannya.


Aneh! Pengen nimang cucu, lantas anak semata wayangnya diobral seperti barang rijek alias barang butut yang harus segera dijual demi mendapatkan laba meskipun sedikit. Hadeeuh, mama!


Aku akan nge-prank mama. Malam ini aku akan tidur dikantor dan mematikan handphoneku. Biar mama papa bingung kemana aku pergi. Sebenarnya bisa saja aku pulang ke apartemenku sendiri dipinggiran kota. Tapi lokasinya terlalu jauh dan penat diperjalanan untuk aku tidur disana.


Kalau aku ke hotel, aku punya kenangan buruk tentang hotel. Dimana setiap pengalaman percintaanku berakhir tragis setelah kami "bermain" dihotel. Hubungan pasti putus.


Makanya, hampir setahun ini aku jomblo dan nyaris tak lagi ke hotel kecuali ada janji temu klien di lobi hotel. Hanya itu.

__ADS_1


Hhh.... Aku lupa dokumen penting yang ketinggalan dikantor papa dilantai 5. Membuat aku harus buru-buru mengambilnya tanpa bisa memerintahkan asistenku Ryan atau sekretaris pribadiku Merry. Masalahnya urgent.


Bruk!!!


Ugh! Karena terburu-buru aku menabrak karyawan lain yang ada didepanku tanpa kulihat lebih dulu.


Ternyata seorang perempuan.


Ternyata....!?! Perempuan yang tadi kubantu ambil map merah marunnya.


Oho! Ternyata dunia ini sempit ya?!... Mau apa gadis ini dikantor ini?


Mmm.... Sepertinya aku baru sadar. Ternyata gadis ini salah satu pelamar pekerjaan dikantor papa. Okey! Kita lihat seperti apa kepribadian perempuan yang terlihat mudah senyum mengumbar kemanisannya ini.


Namanya ternyata Adelia Wilhelmina. Cukup unik. Manis sesuai orangnya sih!


Kelihatannya dia gugup setelah tahu 'siapa aku'. Mmmm..... Hehehe sepertinya gadis ini cukup bagus untuk kujadikan boneka mainan.


Bolehlah! Sepertinya gadis ini juga terlihat ingin bermain-main denganku karena ia selalu curi-curi pandang kearahku dengan mata bulatnya yang berbinar indah itu.


Aku sudah sering disakiti perempuan. Boleh dong kali ini aku yang mencoba menyakiti perempuan. Toh perempuan ini terlihat tertarik pada ketampananku.


Alhasil, aku memulai permainanku dengan menerimanya bekerja sebagai cleaning service. Dia terlihat kaget tak menyangka. Ijazahnya strata 3 tapi kupekerjakan sebagai cleaning service.


Mamp*us kau, perempuan! Kau pikir cari kerja dijaman sekarang semudah itu dengan penampilan manismu yang memikat. Orang lain boleh terpikat. Tapi tidak denganku, nona!


Kukira dia akan marah, mencak-mencak melawan kesewenang-wenanganku atas ijazahnya. Tapi ternyata dia pasrah saja dan mengiyakan.


Hehehe.... Cewek penurut ternyata. Oke! Permainan kita semakin seru sepertinya. Kau terlihat polos meski menampakkan pribadi yang kuat. Tapi aku yakin, cewek sepertimu, hanya akan luluh oleh harta, tahta dan kuasa. Aku yakin, uang bisa membelimu.

__ADS_1


Kita lihat nanti, Adel!


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2