
Rahman dan Agnes keluar gedung perkantoran setelah sebelumnya keruangan Ramzy untuk meminjam mobil dan mengambil kuncinya.
Tak tega ia jika harus membawa motor dan membonceng Agnes karena posisi perusahaan mitra mereka jauh letaknya.
Agnes hanya diam tak bersuara. Ia duduk disamping Rahman yang sibuk dengan notebook-nya. Sesekali ia men-chat rekanan bisnisnya. Dan Agnes merasa seperti orang yang tak berguna saat itu.
"Ada yang bisa saya bantu, pak!"tanya Agnes setelah mulai bisa menguasai dirinya.
"Nanti saja, digudang! Kamu bisa bantu saya cek barang-barang yang akan kita unboxing."
"Baik, pak!"
Setiba di PT Cipta Padma Pratama, mereka semua sibuk dengan kerjaan mereka. Bahkan tiada komunikasi apalagi kontak fisik karena lokasi mereka yang berbeda tempat.
"Boss kamu ganteng, tapi cuek ya?" seseorang karyawan PT mitra tempat Agnes bekerja mengajaknya bicara. Agnes hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Tapi keren lho!? Hot Daddy itu! Misterius dan membuat penasaran," bisiknya lagi.
"Hehehe...!"
"Dia genit ga? Punya istri pastinya khan?"
"Istrinya sangat cantik dan masih muda, kak!"
"Oh, pantas.... Ga terlihat sifat nakalnya! Biasanya cowok seusia segitu sedang mengalami puber kedua. Suka cari-cari alasan buat main-main sama perempuan!"
"Pak Rahman kayaknya ga seperti itu, kak! Beliau sangat mencintai istrinya!"
"Hehehe... Makin suka aku sama bossmu itu!"
"Hehehe!"
Agnes hanya menghela nafas pendek. Teringat pada perintah pak Robert untuk ia mengacaukan rumah tangga boss Ramzy dan juga pertemanannya dengan boss Rahman. Hhhh....
Tak terasa adzan Ashar berkumandang. Pak Rahman datang menemui Agnes yang masih sibuk memeriksa box-box kecil dan memasukkannya kedalam dus besar untuk dikirim ke partner perusahaan.
"Sholat dulu, Nes!"
__ADS_1
"Ah iya pak! Saya nanti bareng kak Mega, pak! Tanggung ini, sebentar lagi."
"Kata siapa sebentar lagi? Masih ada satu gudang lagi!"
"Hah?! Oh hehehe iya pak!"
"Sholat jangan ditunda-tunda! Yang ada malah males jadinya!"
"Iya, baik pak! Yuk Nes!" Mega menjawab dan mengajak Agnes segera pergi ke musholla yang ada di lantai dasar gudang perusahaan.
"Iya kak!"
"Keren bossmu! Makin cinta deh!"
"Hehehe... kak Mega bisa aja!"
Kedua gadis yang hanya terpaut usia 2 tahun itu pergi melaksanakan kewajibannya sholat lima waktu.
Tak lama kemudian, kembali berkutat dengan pekerjaan yang sebenarnya ringan tapi banyak itu. Yaitu mengepak dan mengemas dibantu 2 orang karyawan laki-laki yang bernama Anwar dan Teguh.
"Agnes, kamu udah punya pacar?" tanya Teguh membuat Agnes sedikit kurang nyaman. Ia hanya menyunggingkan senyuman.
"Maaf, kak! Bisa agak geseran duduknya?" ujar Agnes dengan tegas.
Rahman yang baru masuk dan melihat tutur kata Agnes yang berbeda dari biasanya langsung menghampiri karyawannya.
"Ada apa, Nes? Ada masalah?"
"Ti tidak, pak! Tidak ada." Dengan gugup ia menjawab pertanyaan bossnya yang datang tiba-tiba.
Pukul 6 kurang. Semua pekerjaan akhirnya terselesaikan.
Ufffh.... Alhamdulillah. Gumam hati kecil Agnes senang.
"Terima kasih ya, kalian sudah mau bekerja melebihi jam kerja kalian karena saya!" ujar Rahman seraya memberikan amplop putih pada 4 orang termasuk Agnes juga.
"Terima kasih banyak, Pak!" Mereka senang meski cukup melelahkan. Rahman memang selalu baik pada semua karyawan tanpa terkecuali.
__ADS_1
"Tapi, Guh... Maaf, lain kali jangan seperti itu ya sama karyawan saya! Kamu bisa dilaporkan dan kena pasal tindakan pelecehan itu jika Agnes mau laporkan. Jangan sekali-kali lagi, ya? Juga sama perempuan yang lain!"
"Ma maaf, pak! Saya tadi,.. maksudnya, saya ingin berteman dengan Agnes. Tidak bermaksud kurang ajar. Maaf Pak!" Merah padam wajah Teguh.
"Hehehe... minta maafnya harusnya sama Agnes, Guh! Bukan sama saya! Ayo, lelaki gentle berani minta maaf kalau melakukan kesalahan!"
"Maaf ya Agnes! Maaf atas tindakan Teguh tadi!"
"Iya. Sama-sama!" Agnes mengangguk dan senyum tipis pada Teguh.
"Ya sudah! Saya dan Agnes pamit permisi. Kita pasti akan sering kesini! Mohon tidak ada kekesalan atau ketidak sukaan kalian pada saya, ya karena saya menegur Teguh tadi!"
"Tidak, pak Rahman! Saya justru senang, bapak mengingatkan kelakuan buruk saya yang saya lakukan tanpa sadar. Terima kasih pak!" Teguh menjawab perkataan Rahman.
Agnes begitu terharu melihat bossnya yang dengan baik menyelesaikan semua masalahnya.
"Sholat Maghrib dulu Nes!" Mobil yang Rahman kendarai berhenti disebuah masjid besar dipinggir jalan.
Setelah memarkir mobil milik Ramzy itu, mereka pun turun dan menunaikan sholat Maghrib disitu.
Selesai sholat Rahman tidak langsung menuju mobilnya. Membuat Agnes hanya bengong melihat bossnya berjalan kearah gerobak tukang martabak dipinggiran masjid.
Agnes mengikutinya dari belakang. Diam tak berani menanyakan Rahman.
Sepuluh kotak martabak berbagai rasa. Rahman berikan pada Agnes. Dan bossnya itu juga menenteng 2 kotak martabak.
"Ini,...."
"Untuk adik-adikmu dipanti!"
"Tapi boss sudah memberi saya amplop tadi."
"Itu sama dengan Mega, Teguh dan Anwar! Yang ini hanya oleh-oleh untuk mereka. Terima ya? Kita sama, berasal dari kalangan biasa. Dan dulu aku selalu bahagia, kalau ada orang baik yang membelikanku makanan. Apalagi disaat perut kita kosong dan tak ada uang dikantong!"
"Terima kasih, pak! Terima kasih banyak!" Agnes senang sekali. Pulang malam ini dengan sepuluh box martabak dari atasannya. Terbayang wajah-wajah manis adiknya yang tertawa bahagia melihatnya membawa banyak makanan.
"Terima kasih, pak!" Rahman tak menjawab. Hanya tersenyum simpul saja.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•