
"Mas? Kamu kenapa? Apa ada masalah di kantor?" Ella mengusap jemari Ramzy lembut.
Sejak pulang dari kantor, suaminya itu terlihat lemas. Hanya duduk didalam kamar, menonton TV tapi fikiran kemana. Ella perhatikan wajahnya juga terlihat agak murung.
Ramzy tersenyum. Menatap wajah cantik Ella lalu mengecup bibirnya.
Andai kucerita, ada mahasiswi magang dikantor yang mirip Adel. Apa akan ada imbasnya kah untuk Ella? Hhh... Aku khawatir pada kesehatan mentalnya dan juga kedua buah hatiku. Minggu lalu masalah Mira saja masih belum terselesaikan. Bagaimana kalau kabar ini sampai menambah beban fikiran Ella! Hhh... Bingung aku!
"Maaf sayang!.... Aku tidak bermaksud membuatmu jadi kepikiran!" ucap Ramzy.
"Makan yuk, hari ini aku masak enak!"
"Iya kah? Waaah.... Istriku ini memang paling luar biasa! Makasih ya!... Tapi jangan sampai kamu kecapean ya yang!?"
"Masak ga butuh tenaga dalam, mas! Kecuali... Hihihi... Ah, geli....hahaha...mas Ramzyyyy, jangan gelitikin dong!"
Ella tertawa-tawa. Suaminya menggelitiki pinggangnya. Pelan memang, karena Ramzy juga takut dan tak ingin Ella terlalu berlebihan bergerak kesana kemari.
Ramzy merangkul bahu Ella. Betapa ia ingin menunjukkan rasa sayang dan cintanya tidak hanya dihati saja. Karena begitu banyak airmata dan pengorbanan untuk menyatukan jiwa dan raga mereka. Tak mungkin Ramzy semudah itu untuk lupakan semuanya.
Tapi lagi-lagi ia menghela nafas. Mengingat sepintas wajah Adelia, yang kini bisa jadi akan ia temui setiap hari dikantor. Karena ada Agnes Maharani.
"Sayang!.... Apakah aku ini terlihat seperti pria yang rapuh dimatamu, Ella?"
__ADS_1
"Hm? Pertanyaan macam apa itu! Kamu gagah, bagaikan Arjuna. Kamu keren, seperti Keanu Reeves pemeran The Matrix. Kamu tampan, persis aktor Korea yang main It's Okay to Not Be Okay. Kamu pokoknya mah suami idaman para wanita!"
"Uhhuuuuy...! Sejak kapan mami cantiknya papi pinter ngegombal? Hahaha... Apa karena effek kalian yaaa... my lovely baby boys!" Ramzy mengelus-elus perut istrinya.
"Hihihi... bisa jadi ya Mas?! Dan aku bangga, aku tetap jadi yang tercantik ya nanti dirumah ini!" Ella tertawa renyah sekali. Memamerkan deretan giginya yang putih. Dan Ramzy terkesima, melihat betapa cantiknya istrinya.
"Yang! Makannya pending dulu ya? Masuk kamar dulu, ya? Ya, ya, ya?"
"Eh? Kenapa Mas?"
"Kangen nengok sawah!"
"Maaaas!!!! Iiih, dasar kamuuuu!"
"Kamu cantik sekali, sayang! Kamu beneran bikin aku mabuk kepayang!"
"Hilih! Gombal!"
"Bukan gombal gembel gembul, yang! Hehehe... I love you so much! Sungguh hanya inginkan kamu!
Ramzy menatap wajah Ella lekat. Hatinya memang telah ia berikan pada Ella, seutuhnya. Tak ingin dan tak ada niatan berbagi. Meski puluhan gadis cantik berkeliling mengitarinya. Hanya Ella seorang yang mampu membuatnya bahagia.
"Boleh aku,..... mmmm... membuka pakaianmu, sayang?"
__ADS_1
Ella memerah wajahnya. Begitulah Ramzy. Meski mereka telah menikah dua kali. Dan meskipun kini usia pernikahan mereka telah hampir satu tahun lamanya, Ramzy masih begitu sopan meminta padanya walaupun itu adalah haknya.
Ella bahagia, Ramzy selalu menjaga perasaannya. Takut membuatnya terluka karena memang jiwanya yang rapuh. Dan Ramzy begitu mengenalnya luar dalam.
"Boleh ya sayang?" tanya Ramzy lagi dengan suara mendesah.
Ella tersenyum. Matanya berkedip pelan. Mengisyaratkan kalau Ramzy bolleh bermain sesukanya. Mempermainkan tubuh dan hatinya, juga perasaannya yang dipenuhi bunga cinta.
Ramzy tersenyum penuh kemenangan.
Dikecupnya kening Ella. Pipinya kiri kanan, hidung juga matanya. Betapa Ella segalanya untuknya. Betapa cintanya begitu banyak dan berat pada Ella saja.
Mereka bergumul antara cinta dan nafsu.
Cinta dan nafsu itu beda tipis dalam hubungan rumah tangga. Munafik rasanya jika ia bilang, ia tak bernafsu melihat perempuan-perempuan cantik lainnya diluaran sana. Apalagi jaman sekarang, yang begitu mudahnya bisa saja ia dapatkan.
Ramzy tampan. Seorang pengusaha dan CEO pula. Otomatis uang bukan masalah baginya. Usianya juga dewasa 29 tahun dan belum bisa disebut tua. Wanita mana yang tak tergila-gila melihat keseluruhan yang ada didirinya.
Bahkan Ramzy sering mendengar kasak-kusuk para karyawatinya. Baik yang masih muda maupun yang sudah dewasa dan sudah berumah tangga. Terkadang seolah berlomba, menjadikannya taruhan jika bisa memikat hatinya walaupun hanya sekedar mendapatkan balasan senyuman dari Ramzy.
Ya. Ramzy memang jarang mengumbar senyum dikantornya. Seperti julukan Ella dulu, Tuan Muka Datar. Itulah dirinya. Dan dia nyaman dengan sikap dinginnya itu. Toh dia tak harus tebar pesona juga. Karena ada Ella, istrinya.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1