
Sementara disisi lain, Ramzy yang telah bangun dari tidurnya menunduk malu terduduk dihamparan rumput pinggir danau bersama Ella.
"Pulanglah! Kita sudah terlalu lama disini!" tutur Ella membuat Ramzy menoleh padanya. Ramzy mengangguk dan bangkit berdiri.
"Yuk, aku antar!" katanya.
"Tidak usah! Aku sudah pesan taksi online! Aku bisa pulang sendiri. Dan aku tidak ingin keluargaku menanyai aku karena bisa bersamamu."
Ramzy menunduk. Ia mengerti.
"Mari kita sama-sama lupakan kejadian hari ini. Ini adalah rahasia kita berdua. Bahkan sampai salah seorang dari kita mati, tolong jangan ada yang membuka cerita tentang kita hari ini. Deal?" Ramzy mengangguk, menerima jabatan tangan Ella dengan lesu. Ia kadung malu menatap wajah calon kakak iparnya itu dengan keberanian seperti diawal.
"Kenapa masih diam?"
"Aku menunggu taksi onlinemu datang! Setidaknya, aku bisa melihatmu pulang lebih dulu!"
"Baiklah!"
Keduanya diam berdiri tanpa bersuara lagi. Hingga hampir 20 menit lamanya dan taksi online pesanan Ella datang.
"Aku duluan!"
"Iya. Hati-hati dijalan!"
Ella masuk kedalam mobil yang kemudian pergi melesat membawanya pulang.
Ramzy menghela nafasnya. Ada ketenangan disana. Ia kini tenang, setidaknya ia dan Ella telah 'berdamai' dari perselisihan yang tak difahaminya.
Ia ingin melangkah bersama Adel dengan kebahagiaan penuh. Doa tulus dan restu murni dari keluarga dan orang-orang sekeliling mereka.
__ADS_1
Untuk sebuah awal yang baik, ia telah berhasil meluluhkan kejutekan Ella selama ini padanya. Meski tak Ella perlihatkan dimuka umum, dihadapan papa mama dan Adel, tapi Ramzy bisa menilai kalau Ella tidak menyukainya.
....
"Maaassss!!!! Kemana aja sih? Ponselmu ga aktif! Adel telepon rumah, katanya ga ada dirumah juga!" Adel merangkul Ramzy membuat pria itu bahagia setengah mati.
"Ada bagusnya juga hapeku kumatikan, hehehe.... Pacar tercintaku jadi kangen sampe meluk erat begini!"
"Ish! Dia malah kege'eran!"
"Hehehe....maaf sayang! Tadi aku ke tempat praktek dokter Prita. Selama sesi konsultasi aku memang selalu mematikan hape khan! Terus, ketemu teman lama. Lupa nyalain hape! Hehehe..... Ma'aaaaf!"
"Dasar nakal! Adel fikir, mas Ramzy lagi asyik berduaan sama cewek cantik!" Adel menarik hidung Ramzy geregetan.
"Kalo beneran berduaan sama cewek cantik gimana?"
"Eh? Mau Adel pukul pake panci pink? Hah?"
"Iiiiiih....biarin! Biar ga neko-neko macem-macem sama Adel. Hahaha.. !"
Tawa keduanya pecah. Membuat Ella yang mendengar dari lantai atas rumahnya hanya bisa menelan saliva. Lalu masuk kamarnya kembali rebahan dikasur empuknya.
Bahagianya Adel dan Ramzy. Aku juga ikut bahagia. Semoga mereka berdua segera naik kepelaminan. Dan aku bisa bernafas lega, karena papa mama tak lagi mendesakku untuk mengenalkan pasangan juga menanyai kapan aku memberi mereka cucu. Hhhh.....
Sore beranjak malam. Malam minggu telah tiba. Malam yang dinanti para muda-mudi yang dimabuk asmara. Untuk memadu kasih tentunya. Dengan berbagai cara dan acara.
Seperti Adel dan Ramzy. Mereka sepakat pergi nonton dibioskop 21 yang ada di mall terbesar kota mereka.
"Bentar ya, aku antri beli tiket. Kamu duduk manis saja disini ya? Tuh lihat, antrian malmingan membludak!" kata Ramzy dijawab kerlingan manja Adel yang membuat Ramzy gemas. Ingin sekali ia kecup pipi gadis pujaannya itu, tapi urung karena ini tempat umum.
Ramzy bergegas menuju loket. Ikut mengantri sambil melambaikan tangannya pada Adel berikut senyum manisnya. Adel membalas sambil memberikan finger heart ala korea.
Dasar memang keduanya budak cinta. Membuat beberapa pasang mata yang memperhatikan ada yang senyum-senyum, ada juga yang melengos tak peduli.
__ADS_1
"Adel!"
"Eh, bang Rahman? Nonton juga? Sama siapa?"
"Sendirian, belum ada gandengan nih!"
"Truk kali ah, ada gandengan!" goda Adel membuat Rahman tertawa lepas.
"Nha tu dibelakang truknya dikasih lukisan kata-kata 'KUTUNGGU JANDAMU'. Hahaha...!"
"Ish, jahadnyooo!"
Ramzy mendelik kesal melihat gadisnya tengah mengobrol sambil tertawa-tawa dengan pria lain yang pernah menjadi saingannya itu.
Adel melihat kearah Ramzy. Mengangkat kedua belah tangannya tanda maaf sambil tersenyum dan memberitahu Rahman kalau Ramzy tengah memperhatikan mereka.
"Pacarmu bucin parah! Pencemburu kelas berat!"
"Tapi Adel syuka🎶" Adel malah bersenandung senang. Membuat Rahman tersenyum kecut.
"Del! Mohon doanya ya, moga aku bisa bahagia seperti kalian! Aku sudah bertemu dengan gadis yang telah kujahati itu. Semoga aku bisa menjadi lelaki sejati yang berani mempertanggungjawabkan kesalahanku. Dan semoga Tuhan mempermudah harapanku ini." Cerita Rahman membuat Adel tersenyum ikut senang.
"Aamiin.... Alhamdulillah! Semangat bang! Tar kalo berhasil, kita double date yaa..."
"Aamiin ya Allah!"
Rahman semakin senang. Ruang hatinya yang dulu sesak terhimpit beban berat. Kini perlahan seakan terangkat, seiring pengharapannya ingin memperbaiki kesalahannya dimasa lalu.
Harapannya sangat tinggi. Mempersunting gadis yang telah ia rebut paksa keperawanannya dulu. Andai sang gadis masih sendiri.
Tapi bila ternyata telah bersuami?... Rahman menghela nafas panjang. Pamit pada Adel melangkah pergi.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1