
Mira seperti biasa. Sibuk dengan toko onlinenya. Pagi ini ia masih meneruskan perang dinginnya pada Rahman suaminya.
Mira tidak menyuguhkan apapun untuk sarapan pagi Rahman. Meja makannya kosong melompong. Bahkan ia telah pergi ke toko onlinenya sejak pukul 6.30 pagi.
Rahman yang biasa tidur lagi setelah sholat Subuh itu hanya diam mematung didepan meja makan.
Biasanya segelas sereal, roti isi ataupun nasi goreng buatan Mira selalu tersaji menggugah selera makan paginya. Kini,... tak ada.
Hanya menatap lesu ia pergi kekantor dengan motor vespanya yang usang.
Salahnya juga, ia tak menuruti kata istrinya, mengganti motor bebek yang sudah mulai kadaluarsa dimakan jaman itu. Membuatnya harus menyelahnya berkali-kali. Dan Mira hanya memperhatikannya dari balik teralis toko onlinenya.
Hari ini Rahman tidak memakai pakaian yang biasa selalu ia siapkan dipintu lemari. Suaminya terlihat memakai hoody kegemarannya yang hitam warnanya. Hanya kacamatanya yang membantunya terlihat selalu keren dan semakin misterius saja.
" Mira sayang! Kakak berangkat ya?" pamit Rahman setengah berteriak setelah cukup lama menstater motornya. Tapi yang dipamiti masih dongkol hatinya. Sehingga tak mau menampakkan batang hidungnya.
Rahman hanya tersenyum tipis kearah toko online Mira. Melambaikan tangannya seraya membuat kode kissbye pada istrinya yang terlihat masih ngambek itu.
"Dasar! Suami ga peka'!" gerutu Mira dari balik jeruji teralis toko onlinenya.
Rahman seperti biasa. Mulai kebal pada tingkah polah Mira. Ia tiba dikantor RAMA CORP pukul 7 lewat. Lebih cepat dari biasanya.
Sebelum masuk pintu lift dibasement gedung perkantoran, ia keluar terlebih dulu mencari sarapan.
Semalam tak masuk sebutir nasipun karena Mira yang uring-uringan. Ditambah pagi inipun segelas teh hangat juga tak Mira sediakan. Otomatis cacing-cacing diperutnya berdemo.
Sebuah warung kecil pilihannya. Meminta menu sepiring nasi uduk lengkap dengan toping ayam suwir, telor dadar, mie dan kentang bumbu kacang, bawang goreng serta kerupuk udang. Membuat Rahman makan dengan lahapnya.
"Nanti pulangnya hati-hati ya, Ris! Jangan bawa motor ngebut! Aku titip adik-adikku ya?!"
Rahman menoleh. Agnes. Tengah membayar pada pemilik warung dan berbincang dengan seorang pemuda.
Mungkin pacarnya ya!? Yang mengantarnya pergi kerja dan mengajaknya sarapan dulu di warung ini. Gumam Rahman dalam hati.
__ADS_1
Ia kembali meneruskan makannya yang nikmat. Sementara Agnes yang memang tak melihatnya duduk sebaris dengannya langsung pergi keluar.
Pukul 8 lebih sedikit, ia masuk kedalam gedung perkantoran. Berbasa-basi sepintas dengan para OB dan resepsionis yang ada dilantai dasar. Lalu masuk kotak lift, menekan tombol 4 membawanya meluncur keatas.
Rahman masuk ruangannya setelah menyapa Sita, sekretarisnya sejak ia berkantor digedung ini.
"Pak, tadi ada telepon dari pihak PT Cipta Padma Pratama yang mengabarkan container box yang kita pesan sudah on the way dan siap diunboxing untuk diperiksa kualitasnya."
"Oke, terima kasih Sita!"
"Sama-sama, pak!"
"Oiya, siang nanti kamu bisa khan antar saya ke kantor pusat mereka yg di Cengkareng Timur?"
"Siap, pak!"
Rahman mengangguk. Lalu masuk dan kembali menutup pintu ruangannya. Hingga akhirnya tenggelam dengan kesibukannya.
Jam istirahat tanpa terasa karena banyaknya kerjaan Rahman hari ini. Ia tak turun karena belum menyelesaikan sedikit lagi tugas-tugas kantornya.
"Pak? Mau saya pesankan makan siangnya?" Sita menanyakan via telepon dimeja kerjanya.
"Baik pak!"
Rahman kembali tenggelam diantara laptop dan catatan-catatan emailnya.
Pukul satu siang. Rahman baru keluar dari ruangannya.
"Bagaimana Sita? Jadi kita ke Cengkareng sekarang?"
"Baik, pak!"
Tuuuut tuuut tuuuut
Handphone Sita berdering beberapa kali.
__ADS_1
"Angkat Sita! Siapa tahu penting!"
"Dari rumah pak! Hehehe, maaf.... saya angkat dulu ya pak?"
Rahman menunggu Sita yang mengangkat hapenya dan berbincang cukup lama juga.
Pucat terlihat wajahnya.
"Kenapa?"
"Pak! Maaf, boleh saya izin pulang sekarang pak? Suami saya terkena kecelakaan kerja dipabriknya! Saya... saya ingin segera menemuinya! Tolong, maafkan saya pak!" kata Sita dengan suara terbata dan mata merebak basah.
"Iya. Pulanglah segera! Aku mengerti sekali kondisi Sita saat ini! Cepat pulang, tapi hati-hati dijalan! Jangan panik ketika membawa kendaraan!"
"Terima kasih banyak, pak! Terima kasih! Saya pamit pulang ya pak!"
Sita pergi setengah berlari. Meninggalkan atasannya seorang diri.
Rahman hanya diam terpaku. Ia mencoba mengingat siapa yang bisa ia ajak untuk melihat container box di perusahaan mitra mereka.
"Permisi pak, pak Teguh meminta saya mengantarkan kotak ini pada bapak!"
"Agnes! Kamu saja yang mengantarkan saya ke Cengkareng Timur ya?"
"A apa pak? Ke kemana pak?"
"PT Cipta Padma Pratama. Di Cengkareng Timur. Ayo, kamu saja! Bawa tas tas perlengkapan untuk catat mencatat!"
"Saya pak?"
"Iya, kamu! Saya akan minta izin pak Teguh via WA sekarang. Ayo!"
"Ba baik, pak!"
Agnes gugup dan pergi keluar kantor Ramzy mengambil tas dan yang tadi bossnya perintahkan.
__ADS_1
Rahman menelpon pak Teguh, dibagian divisi personalia kantornya untuk memberitahukan kalau Agnes akan ia bawa melihat barang dikantor pusat perusahaan mitranya.
đź’•BERSAMBUNGđź’•