
"Siapa namamu?"
"Naina Triana. Panggil saja Naina! Aku tahu nama mas Teguh Suwandi!"
"Ya iyalah! Aku adalah anak sultan. Sudah pasti kau tahu namaku!" Aku melengos kesal.
Walau gadis dihadapanku ini cantik, tapi aku tidak mudah tertarik. Apalagi gadis ini adalah gadis yang Romo jodohkan denganku.
Usianya masih 18 tahun. Tapi sepertinya sudah kebelet ingin 'kawin'. Hhhh..... Karena dia mau saja dijodohkan orangtuanya. Atau mungkin perempuan ini 'gila harta'. Karena secara Romoku adalah Sultan Cirebon. Banyak tanah dan hartanya. Dan pasti kalau dia jadi istriku, otomatis harta warisanku juga akan jatuh separuh padanya.
Aku hanya bisa menghela nafas semakin kesal.
Kuperhatikan gadis ini sangat kalem. Dia bisa duduk dengan tenang meskipun berlama-lama mendengarkan wejangan Ibuk yang panjang dan lebar dengan duduk bersimpuh seperti itu.
Sesekali aku berdehem. Berharap si Naina terpancing dan menoleh. Tapi ternyata tidak.
Seperti yang sudah Romo dan keluarga Naina rencanakan. Kami menikah dihari 'baik' hari yang mereka tentukan. Kata Romo, neptu dan weton kami jika digabungkan sangatlah baik.
Kami adalah jodoh yang sempurna. Kata mereka. Bukan kataku. Dan bukan juga kata si Naina.
Gadis itu memang sangat cantik. Terlebih setelah memakai pakaian pengantin khas jawa dengan paes dikeningnya. Sangat anggun dan menawan.
Membuat mataku enggan berkedip menatap wajahnya.
__ADS_1
Tapi sayangnya aku tak cinta dia. Biar secantik bidadari surga, kalau tak cinta apa gunanya. Lebih mirip setan yang bergentayangan menggoda iman.
"Kenapa kamu tak menolak dijodohkan denganku?" tanyaku pada Naina dimalam pertama kami diatas ranjang besi yang dihias sedemikian rupa dengan rumbai-rumbai gorden putih dihiasi bunga-bunga asli.
Harum mawar dan melati tak bisa membangkitkan kelelakianku meski suasana sekitar begitu syahdu. Karena Naina telah berganti pakaian panjang berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Kenapa mas juga tidak menolak dijodohkan denganku?" itu jawaban Naina yang terkesan ngasal membuatku semakin tak suka padanya.
Ia ternyata gadis yang cukup menyebalkan ketika kami hanya berdua saja. Padahal didepan keluarga besarku, ia begitu manis dan sopan santun perangainya. Sungguh gadis yang pandai bersandiwara!
"Karena hartakah kau mau menikah denganku?"
"Apa yang keluargamu berikan pada keluargaku? Sebongkah emas berliankah?"
"Dan apakah kata-kata mas cukup sopan menanyakan hal yang tabu didengar seorang gadis bangsawan?"
"Woow, pandainya bersilat lidah!"
"Kalau bersilat badan, mungkin masnya lebih pandai!"
"Hm....!" Seketika aku kalah. Malas aku melawan omongan perempuan!
Sudahlah. Tidur adalah jalan terbaik.
"Silakan tidur diluar!"
__ADS_1
"Maaf, saya perempuan mas! Apa tidak sebaiknya mas yang tidur diluar?"
"Hhhh.... Ini kamarku! Aku berhak berbuat sesuka hati."
"Maaf! Dalam buku nikah, saya adalah istri mas! Jadi saya berhak ada didalam kamar ini juga!"
"Oh kamu sengaja memancing kemarahan saya?"
"Saya tidak suka memancing! Bagaimana kalau kita meredam keributan dengan membagi ruangan ini menjadi dua!"
"Kau ingin kamarku? Silahkan, ambil saja! Huh!"
"Mas ingin mendapatkan amarah dari Romo mas? Silahkan saja! Saya tidak ingin memancing amarah orangtua saya juga! Dan kenapa saya terkesan menerima perjodohan yang orangtua saya perintahkan,... karena saya tidak ingin menjadi anak yang durhaka! Saya harap, kang Mas memahami itu! Dan bukan karena harta, tahta dan juga rupa mas! Mari kita bekerjasama untuk membahagiakan orangtua kita. Itu saja yang bisa saya ungkapkan. Terima kasih!"
Gadis itu tidur memunggungiku diatas ranjangku. Sebagai seorang wanita berdarah biru, ucapannya cukup berani menohok hatiku.
Dan setelah kufikir, Naina benar juga. Ini sudah terjadi. Maka dari itu, aku bergumam dalam hati "Mari kita berkudeta untuk langkah selanjutnya"
Kami adalah bidak catur yang dimainkan para orangtua. Dengan alasan menjadi anak yang penurut kata mereka, kami menerima perjodohan ini. Meski entah kapan pernikahan tanpa cinta ini akan berakhir.
Aku hanya akan menuruti kata Romo saja. Karena aku adalah anak laki-laki satu-satunya dan harus memikul beban menjadi penerus Romo di kekeratonan ini.
Hhhhh.......
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1