PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
WAKTU PUN TERLEWAT TANPA TERASA


__ADS_3

"Cipluuuk!"


"Mamaaan!"


"Hahaha....! Dasar kau cipluk! Aku jadi ingat tukang es cingcau hijau yang sering nongkrong ditaman perumahan kita!"


"Iya. Bang Maman! Eh, gimana? Jadi kita ngopi diseberang?"


"Ayo! Eh tunggu!... Kabari dulu orang rumah Pluk! Supaya mereka ga khawatir kamu pulang telat!"


"Sudah dong! Lagipula anakku di pesantren sudah beberapa bulan."


"Anakmu berapa tahun umurnya?"


"10 tahun! Dia ingin sekolah sambil perdalam ilmu agama!"


"Waaah... anakmu keren, Pluk! Tapi koq beda ya sama mamahnya? Mamanya belum berhijab. Hahaha....!"


"Kalo ngomong jangan langsung nusuk deh, Man! Rese' banget sih lu jadi orang! Gue kira 21 tahun ga ketemu berubah lebih bijak, ternyata enggak!" Astari merengut mendengar perkataan Rahman yang jujur tapi menohok itu.


"Maaf, Pluk! Jangan marah! Aku khan cuma bercanda! Efek senang ketemu Cipluk Ba! Hahahaha....! Coba sekarang kau bilang Ciluk Ba, bisa ga Pluk?!"


"Bisaaaaa!! Ish si Rahman kehed! Dasar kau!"


Keduanya tertawa-tawa seolah lupa keadaan. Lupa sekitar dan lupa masalah rumah tangga yang sedari kemarin membelenggu fikiran Rahman.

__ADS_1


"Oiya, Pluk! Suamimu juga dokter ya?"


"Bukan. Suamiku tentara!"


"Hm.... Apa memang jodohnya dokter itu rata-rata tentara atau pasukan pengaman gitu ya?"


"Ga juga! Banyak koq dokter nikah sama pekerja kantoran juga! Jangan sok mengkotak-kotakkan pekerjaan orang deh!"


"Hehehe iya juga sih!"


"Mentang-mentang mukamu mirip nasi kotak di acara Maulid di sekolah!"


"Hahahaha... Astariiii... Cipluk Baaa! Masih ingat aja sama jokian nasi kotak diacara Maulid Nabi pas sekolah SMP kelas 1 itu!"


"Itu khan peristiwa penomenal Man! Yang buat kamu jadi terkenal seantero SMP Bianglala 98. Hahaha.... Aku kalau ingat itu, nangis sesegukan kangen kamu!"


"Ish! Bukan kangen rindu, oncom! Tapi kangen pertemanan kita yang dahulu! Terlalu banyak kenangan pertemanan kita! Sampai kau yang pinjami aku baju sekolahmu ketika tasku hilang di arena gelanggang renang. Padahal semua baju sekolahku ada ditas itu. Dan aku pulang pakai kemeja sekolahmu yang bau terasi dan celana jeans belel kesayanganmu yang mirip kain pel dirumahku!"


"Hahahaha... dasar si Cipluk! Bukannya terima kasih, tapi malah menghina pakaianku. Dasar Cipluk!"


"Hihihi....! Man! Aku turut prihatin atas wafatnya kedua orangtuamu menjadi korban meledaknya pesawat terbang di perairan Natuna! Maaf ya, aku tidak bisa menjadi teman yang baik lagi setelah tamat SMP!"


"Hehehe... makasih Pluk! Aku salah jalan ketika kau pindah Pluk! Salah dan tersesat jauh!"


"Iya kah?"

__ADS_1


"Ya. Dulu waktu kamu masih ada didekatku, kamu selalu memprotecku dalam pergaulan yang negatif. Kamu bagai nenek sihir yang melarangku ini itu!"


"Itu khan demi kebaikanmu, Maman oncom! Makanya aku selalu menjadi orang yang bisa kau andalkan dulu disetiap saat. Bahkan ketika kamu asik main dengan kakak-kakak kelas demi solidaritas para cowok, dan kau lupa kerjakan PR.... Akulah dewi penolongmu!"


"Hahaha iya, iya! Kamu benar, Pluk! Oya, suamimu dinas dimana? Sudah jenderal dong pangkatnya?"


"Suamiku sudah wafat 3 tahun yang lalu, Man!"


Rahman menelan salivanya. Kaget. Dan tak tahu lagi harus berkata apa. Selain mengucapkan kalimat 'istirja'.


"Maaf, Pluk! Aku turut berduka cita!"


Astari tersenyum tipis.


"Istrimu orang mana? Apa kalian belum juga dikaruniai anak?"


"Istriku orang kota sini juga! Sebenarnya kami menikah belum sampai satu tahun. Tapi...., Mira belum menginginkan adanya anak diantara kami! Dia sempat suntik KB diawal menikah. Dan sekarang aku sudah kepingin sekali punya anak. Mengingat usiaku yang sudah 36 tahun. Aku ingin sekali memiliki keturunan! Kecuali Allah belum mengizinkan. Tapi, kita manusia...wajib berikhtiar! Betul khan bu dokter Cipluk Ba?"


"Haish, Maman oncom! Gue serius dengerin elu, tapi elunya ngeselin parah!"


Rahman tertawa mendengar perkataan Astari yang terdengar kesal. Mereka dulu memang terbiasa bercakap-cakap dengan bahasa proken. Bahasa kasar khas anak metropolitan yang acak adul tapi menyenangkan.


Dia dan Astari adalah anak-anak para pengusaha kaya raya yang super sibuk. Membuat mereka terbiasa dibuai oleh kipasan gepokan uang daripada hanya sekedar lantunan kata-kata lemah lembut ayah bunda.


Ia dan Ramzy serta Astari, adalah anak-anak milenial yang haus kasih sayang orangtua. Itu sebabnya, jikalau sudah memilih berkomitmen.... pasti akan menjaga komitmen itu demi tercapainya kebahagiaan mendapatkan kasih sayang.

__ADS_1


Hhhh....


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2