PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
TETANGGA BARU


__ADS_3

"Itu apa, Zy?"


"Ayo masuk mas!" Ramzy seolah tak mengubris Ella. Ia asyik dengan hewan peliharaan barunya yang masih dalam sangkar besi.


Dua pria itu masuk kedalam rumah setelah Ramzy membukakan kunci pintu rumahnya. Membuat Ella hanya bisa menghela nafas pendek.


Sifat kekanak-kanakkannya, mulai! omel batinnya kesal. Tapi ia tetap mengikuti langkah mereka dari arah belakang.


Wow. Rumah yang sangat luas ternyata. Padahal dari luar terlihat mungil dan minimalis.


Dibelakang rumah terdapat halaman lebih luas dari halaman depan. Bahkan kandang untuk hewan yang baru dibeli Ramzy telah tersedia lengkap disana. Membuat Ella terpana seketika.


Beberapa lama, kedua pria yang tadi membawa burung kalkun tersebut pamitan. Membuat Ramzy mengikuti mereka.


"Ella! Koper belum dibawa!" ujarnya agak keras.


"Siapa suruh kamu terlalu asik dengan hewan peliharaan barumu itu!" balas Ella tak kalah keras. Kesal ia melihat Ramzy yang semakin cuek sikapnya.


Tapi orang yang dijengkeli seolah tak peduli. Ia mengambil dua koper miliknya dan Ella dari bagasi mobilnya.


"Nih, bawa sendiri!"


Ella hanya menarik nafas guna mengurangi kekesalannya. Mengambil kopernya dan ikut masuk kedalam lagi.


Kriuuut...kriuut.... kreeekkkk....!!!!


Suara sepasang ayam kalkun itu memekakkan telinga Ella. Semakin sebal ia jadinya.

__ADS_1


"Kamarku yang mana?" tanyanya ketus. Ramzy hanya menunjuk kearah pintu kamar sebelah kamar yang akan ia tuju.


Keduanya masuk kamar masing-masing. Sibuk dengan dunia mereka masing-masing.


Ella duduk ditepi ranjangnya setelah bebenah memasukkan pakaiannya ke lemari yang tersedia. Fikirannya melanglang, kaget juga ia kalau Ramzy punya pemikiran sejauh ini bahkan sudah memiliki rumah impian.


Mungkin khayalannya ingin memiliki keluarga bahagia bersama Adelia, adiknya. Andai Adel masih ada, sungguh bahagianya pasti ia. Ramzy benar-benar memanjakannya. Membuatnya sedikit iri karena adiknya lebih dulu mendapatkan cinta sejatinya. Sedang dia,.... entah kapan....cinta sejatinya akan datang dan memberinya kebahagiaan.


Rumah disebelah rumah Ramzy.


Ciciiii.....! Suara apa sih itu? Dari tadi berisik banget! Bikin migrainku tambah parah!" Seseorang berteriak dari dalam kamarnya. Membuat seorang wanita berumur sekitar 40 tahunan itu tergopoh-gopoh menemui tuannya.


"Saya juga ga tau, Tuan! Seperti suara hewan ya?"


"Hadeeeh....! Itu tetangga sebelah pelihara apa sih? Suaranya jelas banget ini di pintu belakang!"


"Tuan Rahman tutup aja pintu dapurnya! Biar ga kedengeran ke kamar!"


"I iya Tuan!"


Rahman kesal. Asisten rumah tangganya malah menyuruhnya mengalah. Padahal sudah dua hari ini migrainnya kumat. Sebelah kepalanya serasa berat dan mau pecah. Mendengar suara-suara keras yang aneh membuat kepalanya semakin sakit.


"Kamu pergi ke sana! Kasih peringatan itu orang, kalo suara hewannya mengganggu sekali! Sana cepat!"


"Ba baik Tuan!" Cici kembali tergopoh-gopoh meninggalkan Tuannya yang kembali masuk kekamar.


Ya. Tanpa disadari, ternyata takdir Rahman semakin dekat dengan Ella. Rupanya rumah idaman Ramzy tepat berada disebelah kiri rumah Rahman. Hanya bersekat tembok tinggi yang menghubungi halaman belakang rumah mereka berdua.

__ADS_1


Takdir seolah mempermainkan mereka. Entah Tuhan punya rencana apa. Hanya Dialah Sang Maha Kuasa yang membuat semua ini seolah saling berkesinambungan.


Sementara Cici dipintu gerbang hanya menggaruk-garukkan kepalanya bingung. Ia celingak-celinguk kearah rumah besar yang ada didalam sana.


Tuannya adalah orang baik. Tapi bila sesuatu mengganggu dirinya dan kenyamanannya, Tuan Rahman bisa berubah drastis 180°. Itu sebabnya ia bingung sendiri.


Titah tuannya bagaikan raja. Cici sudah faham wataknya karena sudah 4 tahun mendedikasikan hidupnya sebagai asisten rumah tangga beliau.


Kebaikan-kebaikan Rahman membuatnya bisa membangun rumah sederhana dikampung halamannya juga semua isian perabotnya adalah anugerah baginya sebagai pekerja kelas bawah. Tapi resikonya, ya seperti ini. Harus menurut apapun yang tuannya itu suruh. Meski masih dibatas kewajaran.


Cici menekan bel rumah Ramzy. Dua kali.


Ella membuka pintu karena mendengar suara bel pertanda tamu.


"Jangan-jangan si Ramzy pesen hewan baru lagi!" gumamnya sendiri.


Ia segera keluar menuju pintu gerbang. Karena bukan mobil atau kendaraan yang terparkir didepan gerbang, kecuali seorang wanita bertubuh sintal seperti tengah kebingungan.


"Selamat siang mbak! Ada perlu apa ya?" tanya Ella dengan ramah.


"Oh eh, mmmm.... maaf nona! Saya Cici, pembantu tetangga sebelah!"


"Oh iya mbak Cici, kenalin saya Ella! Kami baru pindah tadi pagi! Senang punya tetangga baik! Sering-sering main kemari ya mbak!" Ella dengan ramah menjabat tangan Cici. Ia membuka pintu gerbang manual sampingnya.


"Sini masuk mbak Cici!" tutur Ella lagi. Membuat Cici semakin tak enak hati karena kebaikan Ella, tetangga barunya itu.


"Sini mbak, silakan duduk! Saya buatin minuman dulu ya? Tunggu sebentar ya?"

__ADS_1


"Aduh nona cantik, jangan repot-repot! Saya cuma sebentar aja... cuma... mau kenalan aja!" Cici berbasa-basi. Tidak berani bicara langsung ke inti.


💕BERSAMBUNG💕


__ADS_2