
"Kau percaya diri sekali aku akan membantumu dan perusahaan ini!"
"Karena aku tahu, hatimu bersih. Kamu adalah perempuan yang baik, Ella!"
Ella menatap tajam Rahman.
"Aku mengundurkan diri dari perusahaan ini. Besok hari terakhirku kerja lengkap dengan surat pengunduran diriku! Permisi!"
"Fidellia,"
"Jangan pernah ganggu hidupku lagi!" kata Ella lagi sebelum keluar dari ruangan Rahman.
Ia kadung benci dan sakit hati. Meski kini hatinya tak lagi menyimpan dendam. Tapi luka itu tak akan pernah hilang, meski pria itu berlutut mencium kakinya sekalipun. Noda ditubuh dan jiwanya tidak bisa sembuh seumur hidupnya. Terlebih jika ia menatap mata pria yang pernah menggagahinya itu.
Ella menghela nafas. Kembali kemeja kerjanya. Hatinya membeku hingga fikirannya juga. Agak lama ia melamun, tak tahu harus mengerjakan apa.
Kini tekadnya bulat. Akan pergi meninggalkan perusahaan ini. Tak sudi ia menjadi budak bekerja diperusahaan yang kini menjadi milik Rahman. Masa bodoh dengan kebangkrutan perusahaan ini. Malas ia memikirkan jauh kedepan.
"Kak Fi! Kakak Fi!"
"Ah iya, Mey?"
"Gimana pendapat kakak? Lihat, omzet penjualan minggu ini kembali turun. Banyak barang rusak di toko minta diretur pihak SPG setempat kecuali pembeli makin ogah mampir!"
Ella menatap grafik pemasaran yang ada dilayar netbook ditangan Meynar.
Perusahaan ini benar-benar diambang kehancuran. Ella hanya menarik nafas panjang.
"Itu outlet yang dimana Mey?"
"Dibarat kak! Ada laporan juga di bagian selatan dan Pusat. Gimana?"
__ADS_1
"Ya udah! Untuk sementara kamu kasih pengertian pada pihak SPG sana, bersabar. Barang baru sedang dipesan, dalam perjalanan. Gitu aja dulu! Setidaknya, suasana tidak panas juga dilevel dasar, kalo perusahaan terancam bangkrut!"
"Mereka sudah tahu desas-desus itu sejak setengah bulan terakhir kak!"
"Iya kah?"
"Hhhh.... ! Aku juga bingung. Gimana kalo beneran di PHK tanpa pesangon pula. Ibuku sedang dirawat dirumah sakit. Adikku juga baru lulus SMP, belum daftar ke SMK karena bingung belum punya uang buat pendaftaran. Pinjam diperusahaan, boboro di ACC....masih digaji full pun sudah alhamdulillah!"
Ella dilema. Teringat masa-masa awal bekerja diperusahaan ini. Masih sebagai SPG penjaga stand saja. Gaji dibawah UMR dan tempat kerja yang jauh dari rumah. Sedih hatinya mengingat itu kembali.
Berkat ketekunan dan dedikasinya, setelah 9 tahun bekerja, ia pun menikmati hasilnya. Boss yang genit karena sering mengajaknya kencan bahkan minta ia menerima lamarannya menempatkannya dikantor pusat. Setelah itu menjadi manajer pemasaran hampir setahun belakangan ini.
Awalnya banyak yang menilai ia menggunakan pesona kecantikannya untuk mendapatkan kursi empuk ini. Tapi dengan kerja keras dan juga dedikasinya membawa perusahaan naik terus grafik penjualannya, hampir semua karyawan kini memandangnya hormat. Suatu pencapaian yang baik baginya.
Ia berhasil membantu papanya dalam keuangan kuliah Adelia hingga adiknya itu lulus dan wisuda. Sedang ia sendiri hanyalah tamatan SMU saja. Tapi sering ia mengikuti seminar-seminar tentang pemasaran dan dunia usaha. Membuat ia banyak memiliki sertifikat yang menguatkan kalau meski lulusan SMU, tapi ia memiliki skill dan kemampuan yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Ella pulang kerumah dengan langkah gontai.
Malam ini terasa lebih lengang. Bahkan ayam-ayam kalkun Ramzy pun seperti enggan memekakkan telinganya seperti biasa. Hewan-hewan itu silent seperti tahu, tuan mereka sedang tak ada. Ella juga memberi mereka makan barusan.
Setelah itu Ella membuat surat pernyataan pengunduran dirinya. Ia menghela nafasnya lagi. Keputusan ini adalah keputusan yang sulit. Tapi ia harus lakukan. Tak ingin ia berurusan lebih lama dengan Rahman si pria bajingan itu.
Treeeet....treeeeet....treeeeet
Handphonenya bergetar. Ramzy video call dirinya. Membuatnya tersenyum senang.
"Hallo! Lagi ngapain nona es batu balokan?"
"Hallo juga tuan muka datar! Lagi rebahan dikamar! Tumben kamu video call aku! Ada apa?"
__ADS_1
"Kangen aja ribut sama nona es batu balokan!"
"Ish! Kangen ribut! Suwe!"
"Hahaha.... Ella, kamu udah makan belum?"
"Udah! Kamu?"
"Belum! Males! Kepingin makan gurame pesmol yang waktu itu kamu bikin! Nyari-nyari diresto luar...adanya menu seafood asam manis pedas sama bumbu rujak! Males ah, ga jadi makan!"
"Ya ampuuuun.... Itu semua menu enak khan? Songong amat sih jadi CEO! Makan aja pilih-pilih segala!"
"Bukan pilih-pilih, tapi bosen aja!"
"Makan Zy! Tar sakit. Males ngurusin kamu kalo pulang sakit!"
"Lah? Segitunya!... Nyebelin!"
"Hehehe.... bodo amat!"
"Jahadnya!"
"Serah aku ish! Makan sekarang!"
"Iya. Bye!"
Klik.
Ella tersenyum. Ia senang melihat wajah Ramzy meski hanya sebentar. Membuat semangatnya yang tadi kendor kembali full.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•