
"Selamat pagi, pak Ramzy!"
"Oh, eh..pagi Agnes!" Ramzy terkejut mendengar sapaan seseorang ketika ia tengah menunggu pintu lift terbuka dilantai dasar kantornya.
Gadis mahasiswi yang baru magang kemaren ternyata. Hh.... Yang mirip Adel itu! Berdiri tepat disampingnya yang tengah sibuk menatap layar smartphonenya.
Pintu lift terbuka.
"Pak Ramzy ga naik bareng?" katanya dengan suara ramah.
Ramzy menggeleng cepat. Mengangkat tangan kanannya mempersilahkan Agnes naik lebih dulu.
"Kenapa ga naik sama-sama?" tiba-tiba Rahman menarik tas kerjanya hingga akhirnya mereka bertiga masuk kedalam lift.
Jujur Ramzy memang sengaja jaga jarak dengan Agnes. Selain takut tak dapat menguasai diri dan perasaannya, dia juga tak ingin tenggelam dengan dirinya dimasa lalu.
Agnes bukan Adel. Mereka jelas-jelas beda orang. Dan Ramzy tidak ingin terbawa perasaan. Hingga akhirnya lupa diri tenggelam dalam rendevous masa lalu yang salah.
Apalagi Ella kini tengah mengandung buah hati mereka. Tak ingin ia berbuat salah dan terjerumus hanya karena kenangan masa lalu yang semu.
Ramzy menghela nafas panjang. Entah mengapa kini dia berdiri disamping Agnes. Gadis muda itu tersenyum kikuk. Grogi diapit pemilik perusahaan RAMA CORP yang terkenal tampan-tampan dan penuh wibawa itu.
Padahal Rahman dan Ramzy lebih kikuk. Untungnya ruangan Ramzy ada di lantai 2. Otomatis dia keluar lebih dulu hingga dapat bernafas lega.
"Duluan ya!" pamitnya singkat. Dibalas senyuman manis Agnes dan anggukan Rahman.
Uufhhh. Selamat. Gumam hati Ramzy.
Rahman masih 2 lantai lagi dalam box lift bersama Agnes.
"Silahkan pak!"
"Lady first!" Mereka saling mengangkat tangan mempersilahkan. Akhirnya Agnes tersenyum lebar dan keluar lebih dulu.
__ADS_1
"Bagaimana hari pertama kerja?"
"Alhamdulillah pak! Semua karyawan disini sangat baik dan wellcome sama saya. Sungguh buat saya terharu!"
"Syukurlah! Jangan sungkan bertanya pada karyawan lain ya kalau kamu ada yang masih belum faham!?"
"Baik pak! Terima kasih masukannya!"
"Oke, Agnes ! Selamat bekerja!" Rahman masuk kedalam ruangannya.
Rahman menghela nafas setelah menutup pintu ruang kerjanya. Tersenyum kecut sendiri.
Terkekeh ia mengingat wajah kikuk Ramzy tadi ketika didalam lift. Ramzy masih 'menyimpan' Adel dalam hatinya. Fikir Rahman menerawang.
Seperti dia. Adel memang bukan gadis sembarangan yang mudah untuk dilupakan. Banyak cerita indah antara dia dan Adelia pastinya. Hhh.....
Rahman duduk setelah menaruh tas kerjanya.
Haish! Sial*n itu si Rahman! Sengaja dia narik aku untuk satu lift dengan si Agnes. Hhh....! Apa maksudnya coba!? Dasar aki-aki!
Ramzy merutuk dalam hati. Rahman kadang menyebalkan tingkahnya.
Tuuut tuuut tuuuut
Sayang, ini dokumenmu ketinggalan! Aku antar ya sekarang!
"Ya Allah ya Tuhan! Lupa aku yang! Maaf! Eh? Kamu mau antar kesini?"
Iya ga papa. Udah lama aku ga kesana. Tunggu ya!?
"Jangan deh, biar karyawanku yang ambil kerumah nanti!"
Ga papa Mas! Lagipula aku sekalian keluar belanja keperluan dapur ke supermarket. Malu ya, liat istri gendutnya seliweran dikantor?
__ADS_1
"Ya ga gitu juga sayangku, hehehe! Aku takut kamu kecapean!"
Ga koq! Nih aku udah pesan taksi online. Sebentar lagi meluncur! Ya udah, aku kunci pintu rumah dulu ya Mas!
Klik.
Ella menutup teleponnya. Dan Ramzy hanya bisa menghela nafas. Terkejut dia menerima telepon istrinya. Jantungnya berdebar seperti orang yang punya salah.
Padahal ia takut Ella bertemu Agens nantinya. Atau ada salah seorang karyawan yang ember bocor menceritakan Agnes pada Ella.
Haissh! Kenapa aku jadi parno begini? Lagipula aku tidak buat salah. Hhh.... Tapi kenapa gugup begini!
Ramzy tak lagi memusingkan Agnes. Fokus pada kerjaannya hari ini. Memeriksa beberapa file dan dokumen penting yang masuk email dan fax-nya.
"Selamat pagi, pak!"
Ramzy kaget ketika tiba-tiba Agnes membuka pintu ruangannya tanpa ketuk pintu.
"Maaf pak ini urgent! Pak Rendra menyuruh saya mengantarkan dokumen dari PT ADIDAYA PRATAMA PROD. Harus di ACC segera sekarang katanya! Mohon tandatangan bapak!"
"Mutia mana? Kenapa kamu ga konfirmasi dulu ke Mutia kalau mau masuk ruangan saya?"
Ramzy marah menegur Agnes. Gadis itu terdiam kaku dan bingung. Wajahnya mengeluarkan aura kekhawatiran.
"Maaf Pak, mbak Mutia tidak ada ditempat! Saya inisiatif sendiri masuk karena pak Rendra pesan ini urgent dan harus segera bapak tanda tangani! Ini proyek yang tertunda sejak seminggu lalu kata pak Rendra! Kalau tidak segera direspon, mereka bisa menarik ulang kerjasama antar perusahaan katanya!"
"Ya sudah. Sini! Lain kali ketuk pintu dulu sebelum masuk!"
"Maaf, sudah dari tadi saya ketuk pintu pak! Tapi sepertinya bapak tidak mendengar karena sedang mengangkat telepon!"
Hhhhh.. ..
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1