
"Agneees!"
"Mbak Mira!"
"Sini, sinii....! Hehehe.... akhirnya kita bisa makan siang sama-sama ya!?"
"Maaf ya, saya agak telat datangnya mbak!"
"Ga koq, aku juga baru dateng nih!"
Ya. Ternyata Mira mengajak Agnes makan siang sama-sama di resto tak jauh dari kantor. Akhirnya Agnes terpaksa mau juga.
Sejujurnya Agnes bukanlah gadis yang periang dan mudah masuk dalam lingkungan baru. Meski mereka berdua yatim piatu, tapi karakter serta pemikiran Agnes dan Mira sungguh jauh berbeda.
Bahkan mungkin bagai langit dan bumi. Mira ceria, supel dalam pergaulan, juga asik dalam pertemanan. Sedang Agnes justru kebalikannya. Ia meskipun seorang mahasiswi tingkat 6, tapi circle pergaulannya sangat terbatas karena minder dan memang sibuk tak ada waktu untuknya bermain-main.
Dipanti asuhan, Agnes adalah yang paling tua umurnya. Dan dia juga yang kini dipercaya mengurus ke-17 adik-adik panti yang rata-rata usia dibawah 14 tahun hingga 5 tahun itu.
Otomatis Agnes tidak bisa leluasa menikmati masa remajanya seperti kebanyakan gadis seusianya.
Sementara Mira, lebih terbuka orangnya. Sehingga cepat akrab dan gampang berbaur karena orangtuanya meninggal diusianya yang ke-19 tahun. Jadi ia cukup umur ketika masalah berat menimpanya. Meski harus mencukupi kehidupannya dan satu orang adiknya, tapi Mira sudah memiliki usaha online saat itu. Jadi dia hanya perlu memperluas pergaulannya guna kelancaran bisnis onlinenya.
Dua perempuan muda beda satu tahun usia itu duduk dikursi sofa yang tersedia.
"Sini aja, Nes!" Mira menunjuk tempat yang agak mojok dan nyaman sebelum mereka duduk.
"Pesan apa?"
__ADS_1
"Saya terserah mbak Mira aja!"
"Kamu orangnya kalem banget ya!? Manis, tipikal cewek penurut nih!"
"Hehehe... ga juga mbak! Kadang saya brutal juga!"
"Sebrutal apa? Hahaha yang pasti ga grusak-grusuk kayak aku! Untung suamiku orangnya pengertian! Secara umurnya 12 tahun diatas aku!"
"Beda 12 tahun? Wah...."
"Kenapa? Tampangku ketuaan apa tampang suamiku yang awet muda?"
"Bu bukan begitu maksud saya, mbak! Maaf, maaf!"
"Hahaha... kamu orangnya kaku ya Nes? Jarang bercanda jarang gaul?"
Maksudnya konser adalah teriak ala rocker biar mereka menurut dan satu persatu mematuhi perintahnya seperti mandi atau belajar.
Sejak menikah dengan pak Robert, bunda Utami mulai jarang mengurus mereka dipanti yang jaraknya hanya 2 rumah saja dari rumahnya. Tapi justru kenapa pak Robert lah yang sering mondar-mandir menengok mereka.
Ada ketakutan dihatinya karena mata jahat pak Robert yang memantau adik-adik pantinya bisa ia rasakan.
Pak Robert seperti pria mesum dan hidung belang. Makanya ia selalu wanti-wanti pada adik-adiknya yang perempuan untuk jaga jarak dengan pak Robert. Dan harus berani teriak apabila beliau melakukan tindakan yang tidak sewajarnya sebagai bapak.
Agnes juga memerintahkan adik-adik lelakinya untuk selalu menjaga dan mengawasi yang perempuan. Khawatir pak Robert melakukan sesuatu hal yang sangat ia takutkan.
Agnes sendiri pernah mendapatkan pelecehan dari pria itu. Tapi Agnes bisa menjaga diri mengancam pak Robert dengan sebilah pisau ditangan.
__ADS_1
"Kalau bapak macam-macam sama saya, saya tak segan-segan menusuk bapak! Masuk penjara pun saya tak takut!" itu ucapnya waktu itu.
"Hai sayang," Agnes kaget mendengar suara laki-laki dibelakangnya.
Ternyata bossnya, pak Rahman yang langsung mencium pipi kanan dan pipi kiri Mira istrinya.
Agnes gugup. Ternyata Mira tidak hanya mengajaknya makan siang berdua saja. Tapi juga bersama bossnya.
"Halo Agnes!"
"Si siang pak!" sapanya gagap karena grogi.
"Maaf, aku terlambat ya?"
Waduh? Semakin pucat wajah Agnes. Ternyata boss Ramzy ikutan juga.
"Ka Ramzyyyy!" Mira teriak kesenangan. Ia tak menyangka kalau suaminya mengajak partner kerjanya juga.
"Ada acara apa ini? Anniversary kalian ya?" tanya Ramzy seraya menyeret kursi dihadapannya lalu duduk tepat menghadap Agnes.
Agnes menunduk. Mengingat tentang gosip panas yang kini sedang on di kantor. Yang memang sengaja dihembuskan pak Robert hingga menjadi sebesar itu cerita bohongnya.
"P Pak Ramzy! Saya, saya mohon maaf kalau kabar bohong itu jadi... mmm... jadi bahan ghibahan karyawan lain!" kata Agnes gugup. Matanya menunduk tak berani menatap mata Ramzy.
"Woles aja, Nes! Biar aja mereka bicara sesuka hati mereka. Jangan buat kinerjamu jadi buruk ya?" Agnes kaget mendengar jawaban bossnya itu.
Lega. Tapi tak percaya. Padahal dihari kejadian itu Ramzy terlihat sangat emosional. Dengan wajah merah dan mata melotot menatapnya marah. Bahkan sampai menarik kerah bajunya. Tapi kini bossnya itu terlihat santai bahkan agak ramah.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•